Pro Ref Akui Kesalahan VAR dalam Derby Manchester

Kesalahan VAR kembali menjadi sorotan tajam setelah laga derby Manchester antara United dan City di Old Trafford pada akhir pekan. Matt Donohue, petugas video assistant referee yang bertugas dari Stockley Park, dinilai gagal mengambil keputusan tepat ketika meninjau proses terjadinya gol kemenangan Erling Haaland. Badan pengawas perwasitan Inggris yang kini memakai nama Pro Ref pun akhirnya mengakui bahwa insiden tersebut merupakan sebuah error of judgement alias kesalahan penilaian.

Peristiwa ini menambah beban pada reputasi perwasitan Inggris yang sejatinya sudah terpuruk. Yang membuat situasi makin pelik, kesalahan tersebut terjadi kurang dari 24 jam setelah kubu perwasitan mendapat sorotan serupa. Tidak heran bila keputusan kontroversial itu memicu kemarahan di antara 74.161 penonton yang memadati stadion, sekaligus menyeret nama profesi wasit ke titik terendahnya.

Pro Ref

Kronologi Insiden Gol Haaland di Old Trafford

Semua bermula ketika Haaland, yang tampil bersama Manchester City dengan hanya 10 pemain, mencetak gol yang awalnya dianulir oleh petugas di lapangan. Gol itu dinyatakan offside terhadap penyerang asal Norwegia tersebut. Keputusan offside itu semula tampak wajar, namun kemudian dianulir setelah teknologi semi-automated offside membuktikan bahwa posisi Haaland sebenarnya sah.

Setelah gol itu “dihidupkan” kembali oleh teknologi, tugas Donohue sebagai VAR justru memasuki babak yang lebih rumit. Ia harus memutuskan apakah Enzo Fernández berpotensi mengganggu jalannya permainan. Gelandang Argentina itu berada dalam posisi offside yang jelas dan menyambar bola umpan mendatar yang akhirnya diselesaikan Haaland.

Dalam kondisi seperti itu, Fernández dengan gamblang mengganggu kiper lawan sekaligus salah satu bek. Meski ia tidak menyentuh bola, keberadaannya di posisi terlarang tetap memberi dampak besar pada lahirnya gol tersebut. Inilah titik yang kemudian dinilai luput oleh sang petugas VAR.

Di Mana Kesalahan VAR Terjadi?

Dari proses telaah yang berlangsung berlarut-larut, petugas VAR itu tampak berulang kali memutar maju-mundur rekaman insiden. Pola telaah semacam itu memberi kesan bahwa ia hanya berupaya memastikan apakah Fernández benar-benar menyentuh bola. Faktanya, gelandang Argentina tersebut sama sekali tidak menyentuh bola.

Di tengah derau komunikasi yang masuk melalui headset-nya, ia tampaknya lupa satu hal mendasar dalam aturan offside. Seorang pemain tidak perlu menyentuh bola untuk dianggap mengganggu jalannya permainan. Selama ia berada di posisi offside dan kehadirannya memengaruhi kiper atau bek lawan, dampak itu sudah cukup untuk membatalkan sebuah gol.

Bagi hampir semua orang yang menonton laga tersebut, kesimpulannya sudah sangat jelas. Mereka tahu gol itu semestinya dianulir, kecuali satu orang yang justru memegang keputusan akhir. Kecuali kita menerima anggapan bahwa Donohue dan asistennya di ruang VAR sama-sama tidak memahami aturan offside, tidak ada penjelasan lain yang masuk akal untuk kesalahan tersebut.

Pro Ref Akui Kesalahan dan Janjikan Peninjauan

Pro Ref, badan yang mengawasi perwasitan Inggris setelah proses rebranding, akhirnya angkat bicara secara resmi. Mereka menyatakan bahwa klarifikasi ini diberikan menyusul insiden pada menit ke-60 pertandingan Premier League antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford. Klarifikasi tersebut menyangkut gol Erling Haaland yang tetap disahkan dalam laga itu.

Dalam pernyataannya, Pro Ref menegaskan telah menghubungi Manchester United pada malam yang sama. Pihaknya mengakui bahwa keputusan yang diambil merupakan error of judgement alias kesalahan penilaian. Selain itu, mereka menyatakan akan menggelar peninjauan menyeluruh atas insiden tersebut.

Meski begitu, pernyataan itu disebut datang tanpa permintaan maaf yang tegas. Yang paling penting ke depan adalah bagaimana peninjauan dijalankan, sebab proses itulah yang akan menentukan apakah masalah serupa bisa dicegah. Bila peninjauan dilakukan setengah hati, kepercayaan yang tersisa justru berisiko tergerus lebih jauh.

Dampaknya bagi Perwasitan dan Kompetisi

Dari sisi Manchester United, keputusan yang keliru ini jelas merugikan karena gol yang semestinya dianulir tetap dihitung. Bahkan Pro Ref sampai menghubungi pihak klub untuk mengakui kesalahan tersebut. Ini menunjukkan bahwa kesalahan yang terjadi berdampak langsung pada hasil pertandingan.

Namun, dampak yang lebih besar sesungguhnya terletak pada kepercayaan publik terhadap VAR. Setiap kesalahan seperti ini memperkuat anggapan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna bila penjalannya kurang cermat memahami aturan. Ketika kepercayaan itu terkikis, setiap keputusan berikutnya akan selalu dicurigai.

Situasi bertambah sulit karena kesalahan serupa muncul dalam rentang waktu yang berdekatan. Ketika satu kontroversi belum tuntas, kontroversi lain menyusul, penonton pun makin menilai VAR lebih banyak menimbulkan masalah daripada menyelesaikannya. Reputasi perwasitan yang sudah terpuruk pun semakin sulit dipulihkan.

Konteks Lebih Luas: VAR di Tengah Kritik Berkepanjangan

Dalam beberapa tahun terakhir, VAR memang menjadi sumber perdebatan panjang di sepak bola Inggris. Banyak pihak menilai sistem ini belum sepenuhnya menghadirkan keadilan, bahkan kerap melahirkan ketidakpastian baru. Alih-alih meredam polemik, teknologi ini justru sering menjadi pusatnya.

Pandangan itu tergambar dari sindiran yang menyebut dekade 2020-an sebagai era milik VAR. Nama tersebut disejajarkan dengan figur-figur kontroversial dari dekade sebelumnya, mulai dari Schumacher dan Maradona pada 1970–1980-an hingga Ramos dan Suárez pada 2010-an. Sindiran semacam ini menunjukkan bahwa VAR kini dianggap bagian dari masalah, bukan solusinya.

Di tengah kritik itu, rebranding menjadi Pro Ref seharusnya menjadi awal baru bagi perwasitan Inggris. Harapannya, struktur dan standar yang lebih tegas mampu memulihkan kepercayaan. Namun, uji pertama yang menyita perhatian publik justru berakhir dengan kesalahan yang diakui secara resmi.

Kabar Duka: Kepergian Ludek Miklosko

Di tengah sorotan atas VAR, dunia sepak bola juga dilanda duka. Ludek Miklosko, mantan kiper tim nasional Ceko yang pernah berseragam West Ham dan QPR, meninggal dunia pada usia 64 tahun. Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi klub dan para penggemarnya.

Anak sang pemain, Martin Miklosko, menyampaikan rasa kehilangan sekaligus terima kasih atas dukungan yang mengalir. Ia menyebut sang ayah sangat mencintai West Ham, terutama saat mendengar namanya dikumandangkan dengan lantang di setiap pertandingan. Ia juga menegaskan bahwa klub dan para penggemar selalu menjadi bagian dari keluarga mereka.

Suara Pembaca: Kritik hingga Sindiran

Kolom surat pembaca Football Daily juga tidak lepas dari kritik. Seorang pembaca menyoroti lini depan Tottenham yang dinilai kurang mengancam, bahkan disamakan dengan trio karakter kartun yang tidak menakutkan. Menurutnya, investasi skuad besar tanpa mendatangkan penyerang tengah mumpuni merupakan kelalaian serius.

Pembaca lain menilai momen paling menarik dari derby Manchester justru datang dari tingkah Harry Maguire. Ia digambarkan berlarian di Old Trafford seperti troli belanja yang lepas kendali. Setiap keputusan yang tidak sepenuhnya ia setujui, kata pembaca itu, direspons dengan ekspresi wajah yang makin berlebihan.

Sementara itu, seorang pembaca menilai setiap dekade melahirkan sosok kontroversialnya sendiri. Ia menyebut dekade 2020-an kini menjadi milik VAR, sejajar dengan nama-nama yang identik dengan polemik di era-era sebelumnya.

Insiden di Old Trafford menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi yang dipakai, kualitas keputusan tetap bergantung pada ketelitian orang yang mengoperasikannya. Pengakuan Pro Ref atas kesalahan VAR menunjukkan masalah ini sudah diakui secara resmi. Kini yang tersisa adalah membuktikan bahwa peninjauan yang dijanjikan benar-benar membawa perbaikan.

Di sisi lain, kepergian Ludek Miklosko mengingatkan bahwa sepak bola tidak hanya soal hasil dan kontroversi. Di balik hiruk-pikuk di lapangan, ada orang-orang yang meninggalkan jejak mendalam bagi klub dan para penggemarnya. Setelah polemik mereda, penghormatan kepada sosok seperti Miklosko justru menjadi bagian yang paling layak dikenang.