José Mourinho kembali ke panggung el clásico sebagai pelatih Real Madrid, dan ia datang dengan label yang ia pasang sendiri: lebih tua dan lebih tenang. Baru 105 hari atau sekitar tiga bulan ia menangani Los Blancos, tetapi drama khas Mourinho sudah lengkap: pertanyaan “por que?”, lembar cetak yang dibawa ke konferensi pers, sampai absennya ia dari ruang media. Semua itu terjadi bahkan sebelum ia benar-benar memimpin satu pun el clásico musim ini.
Duel Minggu malam di Santiago Bernabéu jelas bukan laga biasa bagi Mourinho, karena stadion itu menyimpan separuh sejarah kariernya. Tiga dekade lalu ia pertama kali menginjaknya sebagai penerjemah muda berbakat untuk Bobby Robson, dan pada 2013 ia terakhir datang sebagai pelatih paling terkenal di dunia. Kini Florentino Pérez, presiden yang pernah menyebutnya sebagai “galáctico tahun ini”, mempercayakannya lagi tugas lama: menghentikan Barcelona.

Modal Madrid: Empat Gol Beruntun dan Satu Nama yang Absen
Selama beberapa pekan pertama, Madrid bukan tim yang meyakinkan. Masalah lama masih terlihat, permainan belum menemukan bentuk, dan Mourinho sendiri belum sepenuhnya mengenal skuadnya. Barcelona justru melaju tanpa cela, sehingga hampir semua orang sepakat bahwa sang juara bertahan akan menang di el clásico dan perburuan gelar praktis selesai.
Titik baliknya datang dari laga yang tampak mustahil: Madrid tertinggal 3-1 di Roma, lalu membalik keadaan menjadi 4-3 hanya dalam tujuh menit terakhir. Di menit-menit itu Arda Güler bermain, Yan Diomande bermain, Fede Valverde digeser ke bek kanan, dan Vinícius Júnior tidak bermain. Pola tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah penjelasan yang langsung diulang oleh Mourinho.
Madrid lantas mencetak empat gol ke gawang Sevilla, tiga di antaranya berkelas, lalu empat gol lagi ke gawang Leipzig di kandang sendiri. Di laga terakhir itu, Diomande melepaskan voli indah tepat setelah Vinícius ditarik keluar. Sementara sehari sebelumnya, Barcelona justru kebobolan empat gol di Parc des Princes, sinyal bahwa pertahanan mereka belum sekokoh performa lini serangnya.
Masalah tambahan bagi Madrid adalah absennya Vinícius, yang terkena larangan empat pertandingan. Ia dikartu merah karena menarik rambut Nathan Saliba setelah golnya dianulir saat melawan Villarreal, insiden yang membuat Mourinho sampai berlari ke lapangan untuk memeluknya. Di sisi lain, pelatih Barcelona, Hansi Flick, mengakui bahwa ia memprioritaskan el clásico di atas laga PSG: Rodri tidak diturunkan, sementara Pedri dan Raphinha ditarik lebih awal agar tetap segar. Flick juga mengingatkan anak asuhnya bahwa kebobolan 15 gol sudah terlalu banyak, dan ia masih punya kekhawatiran cedera di lini belakang.
- 1. Barcelona – 9 laga, selisih gol 30, 27 poin
- 2. Atlético Madrid – 9 laga, selisih gol 11, 22 poin
- 3. Real Madrid – 9 laga, selisih gol 14, 21 poin
- 4. Real Betis – 9 laga, selisih gol 2, 19 poin
- 5. Real Sociedad – 9 laga, selisih gol 0, 16 poin
Dari Penerjemah Bobby Robson sampai Perang Tiga Tahun
Perjalanan Mourinho di ibu kota Spanyol tidak pernah datar. Ia pernah menyatakan “hari ini, besok, dan selamanya, Barcelona di hati saya”, sekaligus bersumpah bahwa satu-satunya alasan ia mau melatih Real Madrid adalah untuk menghancurkan Barcelona. Kalimat-kalimat semacam itulah yang membuat setiap kunjungannya ke Bernabéu terasa seperti babak baru dari saga yang sama.
Keputusan Pérez merekrutnya pada 2010 lahir dari kebutuhan mendesak. Madrid saat itu baru saja gagal total bersama proyek galácticos dan tidak memenangkan apa pun, sementara Barcelona mendominasi dengan inti skuad juara dunia Spanyol 2010 yang menyumbang enam pemain inti di final. Madrid butuh pergeseran budaya, butuh pergi berperang, dan butuh sosok yang berani menguasai ruang ganti. “Galáctico tahun ini adalah José Mourinho,” kata Pérez waktu itu.
Benih kedatangan itu sendiri sudah tertanam di semifinal Liga Champions, saat Mourinho yang masih menangani Inter berlari melintasi lapangan Camp Nou dengan jari terangkat untuk merayakan lolosnya timnya. Madrid merasa lega dan berterima kasih karena terselamatkan dari pemandangan Barcelona mengangkat trofi Eropa di stadion mereka sendiri, sekaligus diperlihatkan cara menghentikan tim yang tampak tak terkalahkan. Mourinho pun diminta mengulangi hal serupa bersama Madrid.
Hasilnya jauh dari mulus. Mourinho kemudian menyebut tiga tahun itu sebagai periode yang “intens, hampir brutal”, dengan musuh yang tak hanya di luar tetapi juga di dalam klub. El clásico pertamanya berakhir dengan kekalahan 5-0, Barcelona melanjutkan dominasi dengan menjuarai liga dan Liga Champions, dan musim terakhirnya ditutup tanpa trofi. Meski begitu, tetap tercatat bahwa dari empat kompetisi yang gagal dimenangi Guardiola di Barcelona, tiga di antaranya direbut oleh Mourinho.
Kenapa Pérez Memilih Mourinho: Krisis, Otoritas, dan Narasi Konspirasi
Ada alasan kuat mengapa nama Mourinho muncul lagi. Madrid sudah dua tahun tanpa trofi, dan pada tahun pertama dari periode itu Barcelona menjuarai liga dengan dua pekan tersisa sekaligus melengkapi treble domestik, setelah mengalahkan Madrid empat kali dengan total 16 gol. Musim berikutnya Barcelona memastikan gelar tiga pekan lebih cepat lewat kemenangan el clásico yang sama meyakinkannya dengan superioritas mereka sepanjang musim, sementara perpecahan di tubuh Madrid tersaji di depan publik. Spanyol lalu menjuarai Piala Dunia dengan delapan pemain Barcelona di skuad, sedangkan satu-satunya wakil Madrid, Marc Cucurella, baru bergabung setelah turnamen berjalan.
Dalam situasi seperti itu, Mourinho adalah pilihan yang masuk akal: sosok yang kekurangannya sudah terlupakan oleh waktu dan nostalgia, yang punya otoritas untuk menegakkan aturan di ruang ganti, dan yang punya kepribadian untuk kembali berperang. Perang melawan hampir semua pihak, dan terutama melawan Barcelona. Ketika Pérez melontarkan pernyataan panasnya pada Mei lalu, dengan semua nada kampanye, teori konspirasi, politik, dan paranoia yang terucap terbuka, arah logikanya jadi lebih mudah dipahami.
Yang memberi bobot pada keluhan Madrid adalah kasus Negreira yang belum tuntas. Barcelona disebut membayar wakil ketua komite wasit, José María Enríquez Negreira, lebih dari €7 juta antara 2001 dan 2018. Barcelona membantah adanya korupsi dan menyebut Negreira hanya berperan sebagai penasihat, tetapi kasus itu telah menjadi pusat wacana Madrid, berbeda dengan masa ketika kedua klub masih bahu-membahu dalam proyek Super League. Situasinya tidak membaik ketika presiden liga menyamakan televisi klub dengan propaganda Joseph Goebbels.
Dampaknya terasa pada cara Madrid membaca setiap keputusan wasit. Kesalahan kecil, bahkan keputusan yang sebenarnya bukan kesalahan, dibingkai sebagai rencana tersembunyi, dan sindiran halus terus mengalir meski jarang diucapkan terang-terangan. Mourinho sendiri sempat mengeluhkan bahwa Madrid punya satu hari istirahat lebih sedikit sebelum el clásico, keluhan yang mungkin teredam oleh fakta bahwa laga terakhir dimainkan di kandang melawan Leipzig, bukan di Paris melawan PSG. Dengan begitu, alasannya sudah disiapkan lebih awal, bukti tambahan bagaimana “mereka” dianggap selalu memihak ke satu sisi.
Rivalitas yang Tak Pernah Kehilangan Nyala
Di luar semua itu, ada hal-hal yang lebih besar yang sudah berjalan tanpa Barcelona. Sejak Mourinho terakhir di Bernabéu, Madrid menuntaskan decima yang selama 12 tahun mereka buru, lalu menambahkan trofi ke-11, 12, 13, 14, dan 15 dalam sepuluh tahun. Tidak ada el clásico versi Eropa sejak semifinal Liga Champions 2011, ketika Guardiola menyebut Mourinho sebagai “puto amo” dan Mourinho membalas dengan pidato “por que”, mempertanyakan mengapa Barcelona diuntungkan wasit Eropa dan menuduh UEFA mengatur keadaan untuk mereka.
Namun pekan ini, rivalitas itu kembali terasa sebagai pusat gravitasi sepakbola Spanyol, bahkan ketika Barcelona harus bertandang ke Paris. Bagi Barcelona sendiri, gaung laga ini tetap hidup di generasi barunya. “Saya suka jarumnya,” kata Lamine Yamal, merujuk pada ketegangan khas duel tersebut. “Era Mourinho-Guardiola, saya suka semua itu. Itulah sepakbola. Olahraga itu serius, tapi saya ingin pertunjukan dan kami bersenang-senang.”
Mourinho pun tidak menyangkal besarnya laga ini, meski ia mencoba membingkainya dengan cara khas dirinya. “El clásico hanya pertandingan lain di dalam kejuaraan, tapi mengatakan ini laga seperti laga lainnya adalah bohong, sama sekali tidak nyata,” ujarnya. Klaim itu masuk akal, sebab laga ini bukan sekadar soal tiga poin, melainkan soal siapa yang berhak menentukan arah musim.
Di kubu Madrid, kepercayaan diri mulai tumbuh meski mereka tertinggal enam poin dari Barcelona. “Kami harus memangkas jarak dan itu hanya bisa dengan menang,” kata kiper Thibaut Courtois. “Kami pergi dengan kepercayaan diri.” Mourinho sendiri memilih nada rendah: “Saya harus mengenal mereka. Saya baru 105 hari di sini, itu tidak lama.”
Penutup
El clásico Minggu malam akan menjadi ujian pertama bagi Mourinho versi baru: lebih tua, lebih tenang, tetapi tetap membawa lembar cetak, keluhan tentang istirahat, dan keberanian memasukkan nama-nama yang selama ini diabaikan. Madrid datang dengan empat gol beruntun dan bentuk permainan yang mulai terbaca, meski harus kehilangan Vinícius karena hukuman empat laga. Barcelona datang dengan 11 kemenangan dari 11 pertandingan, tetapi juga dengan pertahanan yang mulai bocor.
Terlepas dari hasilnya, satu hal sudah jelas: rivalitas ini tidak pernah benar-benar kehilangan nyala, dan Mourinho selalu punya cara untuk mengembalikannya ke pusat perhatian. Kalau Madrid menang, narasi tentang kebangkitan dan otoritas akan menguat. Kalau Madrid kalah, drama khas Mourinho hampir pasti menemukan babak berikutnya.