Cathinka Tandberg menolak memandang derby London utara sebagai laga biasa. Bagi penyerang Tottenham Hotspur itu, bentrokan melawan Arsenal adalah pertarungan harga diri yang menyangkut klub, lingkungan, dan seluruh wilayah Tottenham. “Ini lebih dari sekadar tiga poin. Ini untuk seluruh klub. Untuk seluruh tempat ini. Untuk seluruh Tottenham,” tegasnya.
Pernyataan itu bukan basa-basi. Pemain berusia 22 tahun tersebut adalah penggemar Spurs seumur hidup, sehingga ia memahami betul tensi rivalitas yang akan kembali ia rasakan pada laga Sabtu nanti. Dalam wawancara dengan newsletter sepak bola putri Moving the Goalposts, Tandberg mengurai perasaannya menjelang derby, perjalanan kariernya dari Swedia ke London, hingga tekanan yang kini menyertai kebangkitan timnya.

Spurs Benci Arsenal, Arsenal Benci Spurs
Menjelang laga, Tandberg mengaku merasakan sensasi yang berbeda dari pertandingan-pertandingan lain. Menurutnya, kegugupan kecil yang muncul justru menjadi tanda bahwa laga ini punya bobot emosional tersendiri. “Ini akan jadi perasaan yang luar biasa. Saya rasa kamu akan merasakan sedikit gugup yang mungkin tidak muncul di laga biasa, tapi itu bagus,” ujarnya.
Ia tidak berusaha menutupi realitas rivalitas kedua klub. Dengan lugas, Tandberg menyebut permusuhan itu berjalan dua arah dan sudah menjadi bagian dari identitas kedua kubu. “Semua fans Spurs membenci Arsenal dan Arsenal membenci Spurs. Begitulah adanya. Kamu ingin menunjukkan bahwa kamu tim terbaik. Sesederhana itu,” katanya.
Yang membuat derby ini bermakna bagi Tandberg adalah sisi emosional di baliknya. Ia menyebut para pemain hanya ingin berjuang untuk klub, lambang di dada, dan orang-orang di sekitar mereka. Baginya, dorongan itu yang membuat pertandingan seperti ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar perebutan tiga angka di klasemen.
Dari Damallsvenskan ke Liga Inggris
Perjalanan Tandberg ke London Utara berlangsung cepat. Ia lebih dulu menarik perhatian sebagai pencetak gol di liga Swedia, Damallsvenskan, bersama Linköping dan kemudian Hammarby. Performa itu membuat Martin Ho merekrutnya pada hari terakhir bursa transfer untuk menambah daya gedor lini depan Tottenham.
Ia langsung meninggalkan jejak pada laga pertama sebagai starter. Tandberg mencetak gol spektakuler dari jarak sekitar 40 yard ke gawang Everton, sebuah momen yang langsung memperkenalkan kualitasnya kepada publik Liga Inggris. Sejak bergabung pada September 2025, ia menilai proses adaptasinya berjalan mulus dan ia menikmati setiap bagiannya.
Meski begitu, Tandberg sadar bahwa sepak bola Inggris menuntut standar berbeda. “Ada perbedaan besar dibandingkan Swedia. Kamu bertemu pemain-pemain Piala Dunia setiap pekan, jadi kamu harus tampil setiap pekan kalau ingin mendapat hasil,” jelasnya. Ia merasakan fisiknya berubah jauh lebih kuat dan lebih bugar, sementara cara bermainnya ikut berkembang di bawah arahan Ho.
Perubahan itu ia gambarkan lewat perbandingan dengan Harry Kane. Seperti halnya Kane yang kian matang dan belajar turun lebih dalam seiring bertambahnya usia, Tandberg merasa tidak bisa lagi hanya menunggu di kotak penalti. Ia dituntut lebih baik dalam mengolah bola, menekan lawan, dan berkontribusi di area lain di lapangan.
Dua Kekalahan Beruntun dan Ujian Mentalitas
Kepercayaan diri Tottenham saat ini sedang diuji. Setelah memulai musim tanpa kekalahan, tim besutan Ho menelan dua kekalahan beruntun dan kebobolan enam gol, masing-masing dari London City Lionesses dan Chelsea. Tren itu membuat laga melawan Arsenal menjadi momen penting untuk menghentikan laju buruk.
Tandberg tidak menyangkal adanya penurunan performa, tetapi ia menilai timnya tetap memperlihatkan kualitas di kedua laga tersebut. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada lawan, melainkan pada diri sendiri. Ia menyebut timnya perlu sedikit mengubah mentalitas, menemukan kembali semangat bertarung, dan menggali lebih dalam ketika menghadapi tim-tim papan atas.
Justru, ia memandang kekalahan itu sebagai hal yang cepat atau lambat memang harus terjadi. Yang paling menentukan sekarang adalah bagaimana Tottenham meresponsnya. Menghadapi Arsenal yang sedang kesulitan di depan pendukung sendiri, Tandberg melihat peluang sempurna untuk membalik keadaan.
Ambisi Top Three dan Kepercayaan pada Martin Ho
Sejak awal kedatangannya, Tandberg memasang target tinggi untuk Tottenham. Ia menyebut klub ini selalu identik dengan Liga Champions di matanya, dan ia sendiri berambisi membawa tim finis di tiga besar. Namun ia juga menekankan pentingnya bersikap realistis dengan melihat titik awal tim sebelum ia bergabung.
Bagian besar keyakinan itu bermuara pada sosok Martin Ho. Tandberg menilai transformasi yang dilakukan pelatihnya dalam satu musim nyaris tidak masuk akal, sampai-sampai ia sulit membayangkan orang lain mampu melakukannya. “Dia salah satu pelatih terbaik yang pernah bekerja dengan saya,” ujarnya, seraya menyebut bahwa banyak pemain datang ke Tottenham salah satunya karena Ho.
Kepercayaan itu juga yang membuat ia tidak panik menghadapi hasil buruk belakangan ini. Tandberg menegaskan seluruh tim percaya pada sang pelatih dan pada proses yang sedang berjalan. Ia melihat sesi latihan berlangsung sangat baik, sehingga yang dibutuhkan sekarang adalah keyakinan kolektif bahwa jalan yang mereka tempuh sudah benar.
Transformasi Tottenham dan Ikatan dengan Suporter
Di tengah ekspektasi yang meningkat, Tandberg meminta semua pihak mengingat titik berangkat klub. Dua tahun lalu, Tottenham adalah tim yang berjuang menghindari degradasi. Perubahan secepat itu, menurutnya, layak disadari, meski ia sendiri tidak menyangkal bahwa standar yang ingin dicapai tim kini jauh lebih tinggi.
Hubungan dengan tribun juga menjadi bagian penting dari cara ia memandang pekerjaannya. Sebagai orang yang pernah duduk di bangku penonton, Tandberg mengaku bermain untuk para pendukung karena ia benar-benar menikmati atmosfernya. Ia menilai ikatan dua arah itu vital, karena pemain dan suporter saling menopang satu sama lain.
Karena itu, ia merasa berkewajiban memberi sesuatu kembali kepada pendukung dan memastikan mereka merasa dilihat serta didengar. Menutup pekan dengan hasil positif melawan rival terbesar, di hadapan publik sendiri, akan menjadi cara paling meyakinkan untuk membalas dukungan tersebut.
Penutup
Bagi Cathinka Tandberg, derby London utara adalah pertemuan antara identitas pribadi dan tuntutan profesional. Ia tumbuh sebagai penggemar Spurs, tetapi kini dituntut tampil sebagai penyerang yang membawa tim melewati masa sulit setelah dua kekalahan beruntun. Kombinasi itu membuat laga melawan Arsenal terasa lebih berat sekaligus lebih bermakna.
Di balik ambisi besar dan target tiga besar, Tandberg tetap menempatkan kesabaran serta kepercayaan pada proses sebagai pegangan. Jika Tottenham mampu merespons dengan kemenangan di kandang sendiri, derby akhir pekan ini bisa menjadi titik balik yang ia butuhkan, baik untuk tim maupun untuk hubungannya dengan tribun yang sejak awal ia bela.