Olivia Cusack memastikan nama mendiang adiknya, Maddy Cusack, tidak pernah lepas dari pikirannya. Tiga tahun setelah kepergian gelandang yang pernah memperkuat tim nasional junior Inggris itu, ia bertekad menjaga agar warisan sang adik tetap hidup. Salah satu wujudnya adalah aksi jalan kaki sejauh 29 mil bersama keluarga dan sahabat pada Sabtu lalu, untuk menggalang dana sekaligus kembali mengangkat nama Maddy ke hadapan publik.
Maddy Cusack meninggal pada 20 September 2023 dalam usia 27 tahun. Ia bukan nama biasa di sepak bola putri Inggris: pesepak bola yang pernah membela Inggris U-19 itu menjadi pemain pertama yang mencatatkan 100 penampilan untuk tim putri Sheffield United. Sampai sekarang, keluarga besarnya masih menanti jawaban mengenai penyebab dan kronologi kematiannya. Proses inkuest atau sidang pemeriksaan kematian yang seharusnya menjadi jalan memperoleh kejelasan justru kembali molor, dan orang-orang terdekat Maddy menyebut penantian itu sebagai proses yang membingungkan sekaligus melelahkan.

Aksi 29 Mil “Bringing Maddy Home” dari Bramall Lane
Kegiatan bertajuk “Bringing Maddy Home” itu bukan sekadar jalan sehat biasa. Rombongan yang terdiri dari sekitar 15 orang — keluarga dan sahabat Maddy — menempuh rute dari Bramall Lane, markas Sheffield United, menuju rumah keluarga mereka di Horsley, dekat Derby. Mereka berangkat dari Sheffield sejak pukul 05.30 pagi. Tujuannya dua: mengumpulkan dana dan membangun kesadaran publik tentang apa yang masih mereka perjuangkan.
Olivia mengungkapkan bahwa gagasan berjalan kaki ini lahir dari sejumlah bukti yang muncul selama persidangan. “Setelah inkuest, kami ingin membawanya pulang dari Bramall Lane, kembali ke rumah keluarga kami,” katanya. Ia ingin Maddy “dipulangkan” secara simbolis, dari stadion tempat ia dikenal banyak orang menuju rumah tempat ia menjadi bagian dari sebuah keluarga.
Ia juga menyoroti cara orang melihat sang adik selama ini. “Banyak orang mengenal Maddy sebagai pesepak bola profesional: nama di punggung jersey, nomornya, warna kostum, dan klub yang membelanya,” ujar Olivia. Namun, menurutnya, hal itu membuat sosok Maddy sebagai manusia nyaris tenggelam. “Dalam inkuest, saya merasa itu hilang — bahwa dia adalah seorang pribadi, bukan objek yang kami perdebatkan. Dia manusia, dia anggota keluarga kami, dan dia kadang terlepas dari kekacauan yang mengelilingi kematiannya.” Dari situlah muncul gagasan untuk “mengambilnya kembali, membawanya pulang, dan melindunginya”.
Rute kali ini justru kebalikan dari aksi penggalangan dana pada Februari 2024, yang berjalan dari Pride Park menuju Bramall Lane. Hingga Sabtu sore, halaman penggalangan dana untuk aksi terbaru ini telah melewati £1.100. Olivia menyebut capaian itu “luar biasa” dan mengaku jumlahnya lebih besar dari yang ia perkirakan. Ia menambahkan, karena bertepatan dengan peringatan kepergian Maddy, perjalanan ini menantang secara mental sekaligus fisik sehingga memberi motivasi ekstra untuk membuat para donatur bangga. Ia pun menyebut akan “menyalurkan energi Maddy” selama menempuh 29 mil tersebut.
Menunggu Jawaban: Inkuest Maddy Cusack yang Kembali Ditunda
Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah apa yang sebenarnya terjadi pada Maddy. Keluarga telah menjalani delapan hari penuh pemeriksaan bukti setelah sidang baru dimulai secara terlambat pada 29 Juni. Namun, ditemukannya sejumlah dokumen tambahan membuat proses itu dihentikan sementara hingga Desember. Koroner menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga atas penundaan berikutnya itu.
Jadwal sidang sendiri sudah berkali-kali bergeser. Perkara ini sebelumnya sempat dijadwalkan mulai disidangkan pada 5 Januari 2026 setelah sejumlah penundaan tambahan sepanjang 2025, sebelum akhirnya sidang dilanjutkan pada 7 Desember. Bagi keluarga, rangkaian penundaan itu terasa seperti perpanjangan ketidakpastian yang tak berujung.
“Ini sangat sulit,” kata Olivia soal penundaan-penundaan tersebut. “Tidak ada dari kami yang mengantisipasi hal ini terjadi. Sangat membingungkan dan bisa sangat melelahkan, lamanya waktu yang dibutuhkan, sulit memahami bagaimana Anda seharusnya merasa dan bagaimana prosesnya berjalan.” Meski begitu, ia menyadari bahwa untuk memperoleh hasil yang benar, semuanya harus ditangani dengan serius. “Mereka butuh waktu untuk menyatukan semuanya dan benar-benar mencapai hasil,” ujarnya.
Beban emosional itu juga ia ungkapkan secara blak-blakan. “Rasanya dia tidak bisa beristirahat dengan tenang sebelum semua ini selesai. Dan menurut saya itu cukup menyedihkan untuk dipikirkan dan dijalani. Ini harus segera mencapai kesimpulan,” tegas Olivia.
Maddy sebagai Pribadi, Bukan Sekadar Nama di Punggung Jersey
Pada Minggu, sebelum kick-off laga Women’s Super League 2 antara Newcastle dan Sheffield United, akan digelar tepuk tangan selama satu menit untuk mengenang Maddy. Momen itu menjadi penanda bahwa namanya masih hidup di sepak bola putri Inggris, khususnya di klub yang pernah dibelanya.
Menjelang peringatan tahunan tersebut, Olivia mengungkapkan bahwa kerinduan mereka tidak pernah berubah. “Kami merindukannya sama setiap hari, seperti yang akan saya rasakan pada Minggu nanti. Peringatan ini selalu datang tanpa terasa. Sangat emosional dan menjadi waktu untuk merenung, tapi kami melakukan begitu banyak hal sepanjang tahun sehingga dia benar-benar ada di jantung hampir setiap hari. Tidak ada satu hari pun kami tidak memikirkannya,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa ada hari-hari yang terasa berat untuk dilalui. “Ada masa ketika Anda merasa benar-benar kehabisan tenaga dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi cara kami melewatinya adalah dengan mengingat siapa dia sebagai pribadi. Dia mencintai hidupnya, suka mencoba hal-hal baru, dan menikmati kesenangan sederhana; kami berusaha menghidupkan itu setiap hari, bukan hanya di hari peringatan,” tuturnya.
Karena itu, Olivia mendorong orang-orang di sekitarnya untuk tidak takut membicarakan Maddy. “Saya benar-benar mendorong orang, sesulit apa pun kadang, untuk membagikan foto, membagikan kenangan, menyebut namanya dalam percakapan di mana pun, membicarakannya. Di antara kita semua, warisannya akan terus hidup,” ujarnya.
Maddy Cusack Foundation dan Dukungan bagi Sepak Bola Putri
Dana yang terkumpul dari aksi jalan kaki itu disalurkan ke Maddy Cusack Foundation. Yayasan tersebut membantu berbagai program yang menyasar sepak bola perempuan dan anak perempuan, termasuk upaya agar “anak perempuan terlihat dalam olahraga”. Fokusnya bukan hanya soal prestasi, tetapi juga membuka akses bagi mereka yang selama ini terhalang biaya.
Salah satu program yang dijalankan adalah pemberian serangkaian beasiswa kepada Derby County Community Trust bagi anak perempuan dan keluarga yang kesulitan menanggung biaya untuk berkomitmen pada sepak bola. “Ini bantuan untuk setiap anak yang membutuhkan dana tambahan, menghilangkan hambatan yang mungkin mereka hadapi,” jelas Olivia.
Yayasan itu juga bermitra dengan Elite Football Development, organisasi milik Ben Osborn, bek sayap kiri Stockport County yang pernah membela Derby, Sheffield United, dan Nottingham Forest. Organisasi tersebut bertujuan menginspirasi anak muda melalui olahraga dan pendidikan. “Mereka bekerja dengan anak perempuan dan laki-laki, tetapi kami mensponsori sisi perempuannya, yang berfokus pada studi setelah usia 16 tahun, sehingga anak perempuan bisa meraih kualifikasi sambil berlatih dan menjalani kehidupan sebagai pesepak bola profesional. Kami sangat ingin terlibat karena Maddy sangat bersemangat soal pendidikan,” kata Olivia.
Mengapa Kasus Ini Penting bagi Sepak Bola Putri
Kasus Maddy Cusack memperlihatkan sisi lain dari perkembangan sepak bola putri yang tengah naik daun. Di balik sorotan terhadap liga, kontrak, dan penonton yang bertambah, ada pemain-pemain muda yang menanggung tekanan besar, dan keluarga mereka yang kadang harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan kejelasan atas sebuah kejadian. Proses inkuest di Inggris memang dirancang untuk menyelidiki kematian yang penyebabnya belum diketahui, sehingga penundaan bisa terjadi ketika bukti baru muncul. Namun, bagi keluarga yang menunggu, setiap penundaan berarti waktu tambahan untuk hidup dalam ketidakpastian.
Yang juga menonjol dari kisah ini adalah bagaimana Sheffield United dan lingkarannya merespons. Maddy dikenang sebagai pemain pertama yang mencapai 100 penampilan untuk tim putri klub tersebut, dan penghormatan seperti tepuk tangan satu menit sebelum laga menunjukkan bahwa kontribusinya tidak dihitung semata dari statistik. Di sisi lain, aksi jalan kaki dan penggalangan dana keluarganya memperlihatkan bahwa warisan seorang pemain bisa diteruskan lewat jalur yang berbeda: membuka pintu bagi anak perempuan lain agar bisa bermain dan berkualifikasi tanpa terkendala biaya.
Sambil menunggu sidang berlanjut pada 7 Desember, keluarga Maddy tampaknya akan terus menjalani dua hal sekaligus: menuntut kejelasan atas kematiannya dan menjaga nama baiknya tetap hidup lewat hal-hal konkret. Olivia sendiri menegaskan bahwa keluarganya tidak berhenti memikirkan Maddy meski proses hukum belum tuntas.
Penutup
Bagi Olivia Cusack, mengenang Maddy tidak berhenti pada upacara atau tanggal tertentu. Lewat jalan kaki 29 mil dari Bramall Lane menuju rumah keluarga di Horsley, penggalangan dana yang melampaui £1.100, serta program beasiswa dan pendidikan yang dikelola Maddy Cusack Foundation, ia berusaha memastikan nama sang adik tetap berarti bagi banyak orang. Yang masih ia tunggu adalah kejelasan: hasil inkuest yang hingga kini belum mencapai kesimpulan, dengan sidang dijadwalkan berlanjut pada 7 Desember setelah serangkaian penundaan.
Sampai saat itu tiba, pesan Olivia sederhana: bicarakan Maddy, bagikan kenangan tentangnya, dan jangan biarkan ia hanya dikenang sebagai nomor di punggung jersey. Dengan begitu, warisan seorang pesepak bola yang meninggal terlalu cepat bisa terus tumbuh, terutama di dunia sepak bola putri yang ia cintai.
Catatan: Bagi siapa pun yang membutuhkan dukungan, layanan Samaritans di Inggris dan Irlandia dapat dihubungi gratis di 116 123. Di Amerika Serikat, National Suicide Prevention Lifeline dapat dihubungi lewat telepon atau pesan teks ke 988, obrolan di 988lifeline.org, atau kirim HOME ke 741741. Di Australia, layanan dukungan krisis Lifeline tersedia di 13 11 14. Nomor bantuan internasional lainnya dapat ditemukan di befrienders.org.