Kisah Promise David, dari Liga Malta ke Premier League

Nama Promise David kini masuk daftar penyerang yang layak diwaspadai di Premier League. Striker berusia 25 tahun itu menjalani debut bersama Brighton & Hove Albion pada 30 Agustus, tampil 10 menit dalam kekalahan 4-3 di Stamford Bridge melawan Chelsea. Ia lalu kembali mendapat kesempatan singkat dari bangku cadangan saat Brighton ditahan imbang 1-1 oleh Leeds, sementara start pertama dan gol perdananya masih ditunggu.

Perjalanan Promise David menarik bukan semata karena angka, melainkan karena rute panjang yang ia tempuh untuk sampai ke Inggris. Beberapa tahun sebelumnya ia masih berjuang mencari menit bermain di kompetisi kecil Eropa seperti Malta dan Estonia, jauh dari sorotan kamera maupun layanan streaming. Kini ia datang sebagai pemain pinjaman dari Royale Union Saint-Gilloise, dan jika statusnya dipermanenkan Brighton, kepindahan itu berpotensi menjadi transfer pemain Kanada termahal kedua dalam sejarah.

Premier League

Debut Brighton dan Taruhan Klub Premier League

Brighton merekrut Promise David dengan status pinjaman untuk musim ini, dan harapan klub tertuju pada satu hal sederhana: gol. Direktur olahraga Brighton, Mike Cave, menyebutnya sebagai penyerang murni yang sudah lama masuk radar pengamatan klub. Brighton berharap ketajaman David bisa menutup kekosongan yang ditinggalkan Danny Welbeck, yang hengkang ke Chelsea pada Agustus.

Sejauh ini, menit bermain David di Premier League masih terbatas. Debutnya terjadi melawan Chelsea, klub yang baru saja diperkuat Welbeck, ketika ia hanya diberi 10 menit dalam kekalahan 4-3 di Stamford Bridge. Kesempatan berikutnya datang dari bangku cadangan saat Brighton bermain imbang 1-1 dengan Leeds, dan hingga kini ia belum mencetak gol maupun tampil sebagai starter.

Jika pinjaman ini berujung permanen, nilai transfernya berpeluang menempati posisi kedua dalam daftar transfer termahal pemain Kanada. Posisi teratas masih dipegang Jonathan David, yang bukan kerabatnya, dengan kepindahan senilai 34 juta dolar dari Gent ke Lille pada 2020. Artinya, Brighton tidak sekadar mendatangkan pelapis, melainkan pemain yang secara finansial berpotensi menjadi investasi besar bagi klub.

Rencana Lima Tahun dan Deretan Penolakan di Kanada

Promise David lahir dengan nama lengkap Promise Oluwatobi Emmanuel David Akinpelu dan tumbuh besar di Brampton, Ontario, Kanada. Ia sudah menyusun rencana lima tahun: mencetak banyak gol, mendapat transfer ke liga top Eropa, dan bermain untuk Kanada di Piala Dunia 2026. Masalahnya, pada tahap itu hampir tidak ada orang di dunia sepak bola yang mengenal namanya selain orang tua, rekan setim, dan para pelatihnya.

Jalan David dipenuhi penolakan sejak awal. Ia dicoret dari akademi Toronto FC pada usia 15 tahun, tidak dilirik program sepak bola NCAA di Amerika Serikat, dan berulang kali disisihkan ke tim cadangan di hampir semua klub yang ia bela. Satu-satunya tawaran kuliah yang ia terima hanyalah beasiswa parsial ke Appalachian State University, jauh dari gambaran beasiswa penuh yang biasa didapat pemain-pemain seangkatannya.

Setelah dicoret Toronto FC, David bergabung dengan Vaughan SC, klub semi-profesional di utara Toronto yang punya reputasi sebagai salah satu inkubator talenta terbaik di Kanada. Klub itu pernah menghasilkan pemain seperti Alistair Johnston yang kini di Celtic dan Kadeisha Buchanan di Chelsea. Di sana ia dilatih Jorden Feliciano, yang mengenangnya sebagai pemain cerdas dan berbakat luar biasa, tetapi seperti banyak remaja lain, belum fokus dan hampir tidak pernah datang tepat waktu.

Rekan setimnya di Vaughan, Stefan Copetti, mengakui bahwa penampilan David sulit diprediksi. Ia bisa masuk dari bangku cadangan dan langsung mencetak dua gol, atau justru tampak berjalan tanpa arah sepanjang pertandingan. Namun ada satu hal yang selalu konsisten menurut Copetti: ketika berada di depan gawang, David tidak pernah menyia-nyiakan peluang.

Odisea Sepak Bola: Kroasia, Tulsa, Malta, dan Estonia

Atas saran seorang pelatih, David mengikuti ajang unjuk bakat di kawasan Toronto yang digelar NK Hrvatski Dragovoljac, klub kasta kedua Kroasia. Penampilannya memikat para pemandu bakat dan presiden klub, Niko Tokic Kartelo, hingga ia mendapat undangan bergabung dengan akademi klub tersebut di Zagreb. Namun begitu David mendarat di Kroasia, Kartelo justru dicopot dari jabatannya dan tawaran itu batal.

Mantan presiden klub itu kemudian menampung David di rumahnya sendiri. Ia beralasan tidak bisa begitu saja meninggalkan seorang pemuda di negara asing, lalu berusaha mencarikannya klub lain di Kroasia, tetapi semua pintu tertutup karena tidak ada klub yang mau menerimanya. David akhirnya sempat bermain di divisi ketiga Kroasia, meski hanya sebentar karena minim menit bermain.

Perjalanan David berlanjut ke FC Tulsa di USL Championship, lalu pada 2022 ia menuju Valletta di Liga Utama Malta. Ia tiba sebagai pemain 21 tahun dengan harapan karier profesional yang kian menipis, tetapi tidak butuh waktu lama untuk menarik perhatian. Ia mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-90 di laga ketiganya, lalu menambah satu gol lagi di pertandingan berikutnya.

Dari 14 penampilan bersama Valletta, ia mengumpulkan masing-masing empat gol dan empat assist, termasuk gol yang mengantar klub itu ke final Piala FA Malta. Penyerang Valletta, Andrea Zammit, menilai sosok David sulit ditemukan di pasar: bertinggi 6 kaki 5 inci, kuat secara fisik, dan tajam dalam penyelesaian akhir. Menurutnya, banyak klub memang mencari striker tinggi dan bertubuh besar, tetapi kombinasi seperti yang dimiliki David jarang ada.

Penampilan itu membawa David ke kontrak dua tahun dengan Sirens FC, sesama klub Malta. Sayangnya, ia hanya bertahan tujuh bulan dengan enam penampilan tanpa gol dan total 135 menit bermain sebelum pindah ke Estonia. Di Nomme Kalju, pelatih kepala Kaido Koppel menilai ada beberapa hal yang masih harus dibenahi, terutama karena upaya bertahannya kerap kendur meski ia mampu mengalahkan sebagian besar bek secara fisik.

Koppel sempat menurunkannya bersama tim cadangan yang mayoritas diisi pelajar SMA. Menurut Koppel, reaksi David seperti orang yang kesal dan kemudian bertekad membuktikan kemampuannya. Ia mencetak 22 gol dalam 19 laga bersama tim cadangan, menambah tujuh gol untuk tim utama, dan menuliskan angka “2026” di lokernya sebelum menjalani rentetan gol yang tak berhenti. Pada 2024, ia membukukan 14 gol dan tiga assist hanya dalam 16 penampilan.

Meledak di Belgia dan Bersinar Bersama Kanada

Rentetan gol itu mengantarkannya ke Royale Union Saint-Gilloise di Belgia, tempat ia mendapat julukan “Baby Lukaku” karena penyelesaian akhirnya yang mencuri perhatian. Ia mencetak dua gol ke gawang Gent yang mengantar Union meraih gelar Liga Pro Belgia pertama mereka sejak 1935. Ia juga mencetak gol di markas PSV Eindhoven pada debutnya di Liga Champions, lalu kembali mencetak gol di kandang Galatasaray hingga mengakhiri rekor 33 laga tak terkalahkan di kandang juara Turki tersebut.

Ketajamannya di depan gawang, ditambah gaya wawancaranya yang spontan dan apa adanya, membuat David cepat menjadi favorit di kalangan pendukung Union. Sisi ceria itu pula yang perlahan menjadikannya salah satu wajah baru tim nasional Kanada. Feliciano menilai kepribadian David yang lucu, konyol, dan selalu dalam suasana hati baik itulah yang membuat orang terpikat.

David mendapat panggilan pertamanya dari pelatih Jesse Marsch pada 2025 dan langsung mencetak gol ke gawang Ukraina di laga debutnya untuk Kanada. Ia bahkan tetap lolos ke skuad Piala Dunia meski mengalami robekan tendon pinggul beberapa bulan sebelum turnamen. Pada laga pembuka melawan Bosnia dan Herzegovina, ia memberi assist untuk gol tunggal Kanada yang dicetak Cyle Larin, hanya 17 menit setelah masuk menggantikan Jonathan David.

Dua pertandingan kemudian melawan Swiss, David mencetak gol dengan sentuhan pertamanya di laga itu, sebuah voli menggunakan sisi luar kaki yang membuat BC Place di Vancouver bergemuruh. Pada musim panas tersebut, ia menjadi pemain Kanada kelima yang mencetak gol di putaran final Piala Dunia putra, dan peluang tampil lagi pada 2030 tampak sangat terbuka. Satu bagian dari rencananya sudah tercapai, dan bagian lainnya menyusul tak lama setelah itu.

Apa Artinya bagi Brighton dan Sepak Bola Kanada

Bagi Brighton, kehadiran David adalah taruhan yang masuk akal secara kebutuhan maupun biaya. Klub kehilangan Welbeck ke Chelsea dan membutuhkan sosok yang bisa langsung mengisi posisi penyerang tengah, sehingga kedatangan David sebagai pemain pinjaman memberi ruang evaluasi tanpa risiko besar. Tantangannya jelas: mempertahankan ketajaman di level Liga Champions bersama Union jauh berbeda dengan mencetak gol di Premier League, liga yang memaafkan sedikit kesalahan dan menuntut banyak hal.

Bagi sepak bola Kanada, David menambah panjang daftar penyerang yang mampu bersaing di Eropa. Ia menjadi pemain Kanada kelima yang mencetak gol di putaran final Piala Dunia putra, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kedalaman lini depan tim nasional Kanada kini tidak hanya bergantung pada satu nama. Kehadirannya juga memberi opsi tambahan bagi pelatih dalam menyusun strategi menyerang di turnamen-turnamen berikutnya.

Yang tak kalah penting, kisah David menjadi bukti bahwa jalur menuju level tertinggi tidak selalu melewati akademi klub besar atau beasiswa NCAA. Feliciano menegaskan bahwa mantan anak asuhnya itu hanya pernah menahan kesulitan dan tidak pernah melalui jalan yang mudah. Bagi para pemain muda yang ditolak di tahap awal, rute yang ditempuh David menjadi contoh bahwa peluang masih bisa datang dari liga-liga yang jarang dilirik.

Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya

Kasus David memperlihatkan bagaimana kompetisi kecil di Eropa, seperti Meistriliiga di Estonia atau Liga Utama Malta, masih berfungsi sebagai batu loncatan yang sah bagi pemain yang terlewat dari radar klub besar. Liga-liga itu kerap tidak diliput layanan streaming, sehingga pemain di dalamnya nyaris tak terlihat dari luar. Namun bagi klub yang mau mengamati lebih teliti, di sanalah sering ditemukan penyerang dengan profil fisik dan insting gol yang sulit didapat di pasar utama.

Perbandingan dengan Jonathan David juga menarik untuk dicermati, meski keduanya tidak memiliki hubungan keluarga. Jonathan David menembus Lille dengan nilai 34 juta dolar pada 2020 setelah bersinar bersama Gent di Belgia, dan kini nama Promise David berpotensi menyusul jejak finansial serupa. Bila Brighton mempermanenkan statusnya, hal itu sekaligus menandai bahwa liga Belgia tetap menjadi jalur penjualan menjanjikan bagi klub-klub yang jeli memilih pemain.

Selain itu, keberadaan klub seperti Vaughan SC di Kanada menunjukkan bahwa pembinaan talenta tidak melulu bergantung pada akademi klub MLS. Vaughan telah melahirkan pemain seperti Alistair Johnston dan Kadeisha Buchanan, dan kini nama David menambah bukti bahwa klub semi-profesional di pinggiran kota bisa memainkan peran besar. Bagi Kanada, kombinasi pemain yang matang di Eropa dan pembinaan di level lokal menjadi modal menuju Piala Dunia 2030.

Penutup

Promise David kini berdiri di titik yang beberapa tahun lalu tampak mustahil: menembus Premier League bersama Brighton setelah melewati Malta, Estonia, dan sejumlah penolakan di awal kariernya. Rekam jejaknya di Belgia dan bersama tim nasional Kanada menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemain pinjaman pelengkap, melainkan penyerang yang pernah menentukan hasil di laga-laga besar. Yang tersisa kini adalah pertanyaan paling sederhana sekaligus tersulit, apakah ia bisa mencetak gol di liga paling menuntut di dunia.

Jika start pertama dan gol perdananya datang, nilai tawar David di mata Brighton maupun klub-klub lain akan naik dengan cepat. Sebaliknya, Premier League jarang memberi waktu panjang bagi penyerang yang gagal memanfaatkan peluang. Apa pun hasilnya, perjalanan dari Brampton hingga ke Stamford Bridge sudah cukup menjelaskan satu hal: keberhasilan David bukan kebetulan.