Berita bola

Thomas Tuchel Diminta Belajar dari Kegagalan Inggris

Thomas Tuchel menyebut 99,9% penggemar yang ia temui tidak mempersoalkan pergantian pemainnya ketika Inggris menghadapi Argentina di Piala Dunia. Menurut pelatih kepala timnas Inggris itu, percakapan yang berkembang justru jauh lebih positif. Yang dibahas adalah kenangan manis soal kemenangan di babak gugur atas Meksiko dan Republik Demokratik Kongo.

Dengan kata lain, mereka yang masih ingin meminta pertanggungjawaban Tuchel atas kemunduran Inggris di semifinal di Atlanta dianggap sebagai kelompok kecil saja. Klaim semacam ini tentu sulit diukur secara pasti, dan bukti anekdotal bisa berjalan ke dua arah. Banyak pendukung timnas Inggris yang belum siap melangkah jauh dari laga itu.

Suasana kebangsaan sebenarnya jauh lebih muram daripada yang dibayangkan Tuchel. Ia menipu diri sendiri jika mengira publik sudah memaafkan cara Inggris menyerah setelah unggul 1-0 atas Argentina di awal babak kedua. Perasaan kecewa itu masih membekas dan belum benar-benar hilang.

England’s German head coach Thomas Tuchel arrives for a press conference as part of the 2026 World Cup football tournament in Kansas City on July 13, 2026. (Photo by JUAN MABROMATA / AFP)

Klaim 99,9% Thomas Tuchel dan Kritik yang Dianggap Minoritas

Angka 99,9% yang dilontarkan Thomas Tuchel memang menarik untuk dibahas. Bisa saja ia berbicara berdasarkan apa yang benar-benar ia alami, karena ia hanya bertemu sebagian kecil penggemar di ruang publik. Namun kesimpulan yang dibangun dari percakapan sporadis seperti itu tidak bisa dijadikan cerminan seluruh basis pendukung.

Kelompok yang mengkritik keputusan taktisnya di laga melawan Argentina bukan berarti tidak ada. Mereka hanya tidak kebetulan berada di dekat Tuchel saat ia berbicara dengan media. Kritik yang tersebar di media sosial, kolom komentar, dan diskusi antarpendukung menunjukkan bahwa kekecewaan itu nyata dan cukup luas.

Tuchel sendiri mengakui bahwa ia terluka oleh kritik setelah kekalahan dari Argentina. Ia merasa bangga karena Inggris mampu mengalahkan Prancis dan meraih medali perunggu tiga hari kemudian. Perasaan campur aduk itulah yang membuatnya ingin mengalihkan perhatian publik ke arah yang lebih positif.

Kronologi: dari Keunggulan atas Argentina ke Medali Perunggu

Untuk memahami kenapa kritik itu muncul, perlu dilihat kembali jalannya pertandingan semifinal di Atlanta. Inggris unggul lebih dulu lewat gol di awal babak kedua, tetapi kemudian kehilangan kendali permainan. Perubahan yang bersifat defensif dari bangku cadangan dianggap membuat tim semakin mundur dan akhirnya kehilangan tiket ke final.

Tuchel menghadapi media di Wembley pada Jumat lalu dan sempat bercanda soal para petinggi Asosiasi Sepak Bola Inggris yang menegurnya karena perubahan defensif tersebut. Setelah itu ia beralih ke nada serius dan menegaskan bahwa narasi seharusnya diarahkan pada kemenangan 6-4 atas Prancis. Baginya, laga perebutan medali perunggu itu adalah bukti bahwa timnya masih punya kualitas.

Masalahnya, keinginan untuk fokus ke masa depan tidak bisa dilepaskan dari konteks Piala Dunia. Skuad yang ia panggil untuk menghadapi Spanyol, Ceko, dan Kroasia mau tidak mau akan dinilai berdasarkan apa yang terjadi di turnamen tersebut. Setiap pilihan pemain akan dibaca sebagai respons, atau justru ketiadaan respons, terhadap kelemahan yang sudah terlihat.

Skuad Inggris untuk Spanyol, Ceko, dan Kroasia

Dari 26 pemain yang dipilih pada musim panas, tiga nama harus tersingkir, yaitu Noni Madueke, Ollie Watkins, dan Ivan Toney. Tuchel mengatakan niat awalnya adalah menjaga kesinambungan dari Piala Dunia. Namun gelombang cedera memaksa ia mengubah rencana dan membuka pintu bagi wajah-wajah baru.

Beberapa pemain penting harus absen, mulai dari Dean Henderson, Dan Burn, John Stones, Reece James, Djed Spence, hingga Jordan Henderson. Ketiadaan mereka otomatis mengurangi pengalaman di dalam skuad. Di sisi lain, hal itu memberi ruang bagi pemain yang kehadirannya memberikan kesan pembaruan dalam proses menuju Nations League.

Menghadapi Spanyol, Ceko, dan Kroasia, Tuchel dituntut menemukan keseimbangan antara mempertahankan kerangka tim lama dan menyegarkan komposisi. Duel melawan Spanyol di kandang menjadi ujian pertama yang akan mengukur seberapa jauh perubahan yang ia siapkan. Hasil di laga itu akan sangat menentukan arah pembicaraan publik beberapa bulan ke depan.

Alexander-Arnold Kembali: Sinyal atau Kebetulan?

Mengeluarkan Trent Alexander-Arnold dari daftar tunggu dan memanggilnya kembali adalah langkah yang menarik, sekaligus sedikit membingungkan. Pertanyaan pertama yang muncul tentu soal waktu: mengapa sekarang? Apakah Tuchel benar-benar mempercayai bek Real Madrid itu, atau ini hanya konsekuensi dari absennya sejumlah pemain?

Nama Alexander-Arnold tidak pernah masuk skuad sejak Juni 2025. Performanya bersama Real Madrid asuhan José Mourinho cenderung naik-turun, dan ia belum pernah benar-benar mapan di level timnas Inggris. Jika Spence, James, atau bahkan Ben White dalam kondisi bugar, besar kemungkinan tempatnya tidak akan terbuka seperti sekarang.

Tuchel menegaskan ia tidak berniat memainkan pemain berusia 27 tahun itu sebagai gelandang. Kepada para pemain baru, ia menyampaikan pesan yang jelas: panggilan ini baru langkah awal. Tantangan bagi Alexander-Arnold adalah memastikan dirinya tetap masuk dalam rencana pada November nanti, bukan sekadar menjadi pelengkap sementara.

Masalah Taktis: antara Penguasaan Bola dan Kekacauan

Pesan utama Tuchel adalah bahwa ia tidak kehilangan tidur karena skuad Piala Dunia. Ia ingin mempertahankan rasa persaudaraan dan semangat tim yang sudah terbangun. Semua itu baik, tetapi tetap ada kekurangan teknis dan taktis yang harus diselesaikan, bukan sekadar dijaga.

Ada jeda menarik ketika seorang wartawan mengaitkan pemanggilan Alexander-Arnold, Alex Scott, dan Cole Palmer dengan pertanyaan apakah Inggris punya cukup pengumpan ke depan di Piala Dunia. Komentar Tuchel setelah laga melawan Argentina, bahwa penguasaan bola bukan bagian dari DNA Inggris, masih terngiang sampai sekarang. Pernyataan itu dianggap memperlihatkan keraguan terhadap gaya bermain yang lebih terstruktur.

Setelah ditunjuk sebagai pelatih, Tuchel berbicara tentang kebutuhan Inggris memanfaatkan kecepatan dan kekuatan Premier League. Kenyataannya, satu-satunya momen ketika Inggris benar-benar tampil menekan penuh adalah babak kedua saat mengalahkan Kroasia di laga pembuka. Selebihnya, tim terlalu bergantung pada pertahanan rapat serta momen-momen individu Harry Kane dan Jude Bellingham.

Kekecewaannya adalah Inggris jatuh ke posisi yang tidak jelas: tidak memiliki penguasaan bola ala Spanyol, tetapi juga tidak menampilkan kekacauan khas Premier League. Tuchel menginginkan pemainnya lebih seimbang dan sesekali beristirahat dengan bola, tetapi ia mengaku lebih cenderung “merangkul kekacauan” dan meniru intensitas babak kedua melawan Kroasia. Semua itu lebih mudah diucapkan daripada dijalankan, terlebih karena sepak bola internasional sering dikuasai tim-tim dengan umpan paling cerdas. Tuchel pun mengakui Inggris bukan tim yang “paling ekonomis”, dan intensitas Premier League menguras tenaga para pemainnya.

Pilihan Gelandang dan Suntikan Pemain Muda

Ada argumen bahwa Tuchel mengikat tangannya sendiri lewat pilihan di lini tengah. Ketika Declan Rice mulai kehabisan tenaga melawan Argentina, Inggris membutuhkan tambahan tenaga di samping Elliot Anderson. Alternatifnya memang terbatas, terutama karena Jordan Henderson sedang mengalami patah pergelangan tangan dan sudah berusia 36 tahun.

Tuchel memilih Kobbie Mainoo, pemain yang lincah di ruang sempit, tetapi kemudian tidak memakainya sama sekali. Ini terbilang kelalaian, dan pelatih itu sendiri mengakui bahwa kali ini ia punya kewajiban untuk benar-benar mengevaluasi Mainoo. Ada cara lain untuk menghindari formasi 5-4-1 yang suram melawan Argentina: Myles Lewis-Skelly tampil baik di lini tengah Arsenal pada akhir musim lalu, sementara Scott bersinar bersama Bournemouth. Keduanya kini masuk skuad, sedangkan Tuchel masih terlihat dingin terhadap Adam Wharton.

Pilihan kontroversial memang selalu ada. Morgan Gibbs-White dan Josh King tidak beruntung karena harus tersingkir, dan Liam Delap sebenarnya bisa dipilih sebagai pendamping Kane ketimbang Dominic Calvert-Lewin. Meski begitu, ini tetap skuad yang bagus dengan kualitas di hampir semua lini serta suntikan pemain muda yang menambah daya tarik.

Rio Ngumoha, winger remaja Liverpool, menjadi bagian dari gelombang baru tersebut. Jarrad Branthwaite tampak seperti pengganti Burn setelah menyalip Levi Colwill di posisi bek tengah, sementara Lewis Hall punya peluang memajukan kariernya di bek kiri. Keputusan mencoret Madueke dan memilih Palmer menunjukkan Tuchel bersedia lebih fleksibel di lini serang, setelah di Piala Dunia ia cenderung memilih pemain sejenis di setiap posisi. Palmer mungkin tidak berlari lurus dan tajam menyusuri sayap, tetapi gelandang nomor 10 Chelsea itu adalah pesepak bola yang lebih baik daripada Madueke.

Inggris sebenarnya punya banyak pemain teknis, dan penggemar tidak ingin melihat tim yang bermain penuh ketakutan. Mereka ingin Tuchel menemukan cara untuk benar-benar melatih kelompok pemain ini. Inggris akan membuka kampanye Nations League dengan laga kandang melawan Spanyol pada Sabtu depan, dan jauh lebih dari 0,1% pendukung akan menunggu apakah Tuchel sudah belajar dari kesalahannya.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan soal siapa yang masuk atau keluar dari daftar 26 pemain. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah Inggris punya identitas permainan yang jelas ketika menghadapi lawan-lawan kuat. Laga melawan Spanyol akan menjadi jawaban pertama yang bisa dinilai siapa pun, bukan hanya mereka yang kebetulan berpapasan dengan Tuchel di jalan.

Exit mobile version