Babak Pertama yang Mencekik: Inggris Terjebak dalam Kebuntuan
Di sela-sela turun minum di stadion New York New Jersey yang diguyur hujan, terdengar suara saxophone sendirian memainkan riff melankolis di luar tribun. Suasana itu seolah menjadi simbol betapa frustrasinya permainan Inggris pada babak pertama. Tim asuhan Thomas Tuchel tampil kaku, tanpa kreativitas, dan tidak mampu menemukan celah di pertahanan Panama yang disiplin.
Panama memang tampil apik, bukan soal skor. Masalahnya adalah cara Inggris bermain: tanpa kegembiraan, tanpa kebebasan, seperti sedang merakit lemari dengan sangat lambat. Para penggemar yang basah kuyup pun mendambakan seorang solois yang mampu memecah kebuntuan. Di sinilah Jude Bellingham akhirnya muncul sebagai jawaban.
Bellingham Mengubah Permainan dalam Lima Menit
Setelah babak kedua berjalan, tepatnya sekitar menit ke-62, Inggris masih kesulitan. Namun, dalam rentang lima menit, Jude Bellingham memberikan dua momen penentu. Gol pertama lahir dari sepak pojok Bukayo Saka, di mana Bellingham dengan cerdik meregangkan tubuhnya untuk membelokkan bola ke gawang.
Gol kedua menjadi lebih istimewa. Bellingham berlari menusuk pertahanan Panama, menggiring bola melewati lawan, lalu melepaskan umpan silang mendatar dengan kaki kiri yang sempurna untuk diselesaikan Harry Kane. Tiga aksi berkualitas tinggi dalam waktu singkat – lari, dribel, dan umpan – menunjukkan mengapa ia layak disebut sebagai pemain momen.
Peran Kunci Bellingham: Solois yang Membengkokkan Hari
Bellingham kerap dianggap hanya pemain momen, bukankah momen itulah yang memenangkan pertandingan? Di usia 22 tahun, ia masih mencari bentuk finalnya. Namun, yang membedakan adalah kemampuannya untuk benar-benar mewujudkan apa yang dijanjikan. Ketika Inggris tenggelam, ia memiliki kemauan dan teknik untuk mengubah jalannya laga.
Statistiknya sebelum ditarik keluar pada menit ke-71 cukup mengesankan: 68 sentuhan, satu gol, satu assist, dribel terbanyak, dan paling sering dilanggar. Ia bermain dengan intensitas tinggi, menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin berada di sana. Bagi banyak pengamat, inilah Jude Bellingham yang sesungguhnya – seorang petarung yang tidak hanya ingin disukai, tetapi juga diidolakan.
Analisis Taktik: Mengapa Inggris Kesulitan di Babak Pertama?
Thomas Tuchel sudah menyiapkan tim untuk menghadapi blok rendah Panama, dengan menurunkan tujuh pemain bertipe menyerang. Tapi kenyataannya, Panama justru bermain dengan garis tinggi dan pressing agresif. Sayangnya, pemain sayap Inggris terlalu kaku mengikuti instruksi, tetap melebar sementara ruang kosong justru ada di belakang pertahanan.
Kejadian ini mengingatkan pada masalah klasik Inggris di Euro 2024: “constipation-ball” atau permainan macet. Meski pelatih dan pemain berbeda, pola yang sama masih terlihat. Asisten pelatih Anthony Barry berdalih bahwa energi stadion memengaruhi manajemen risiko. Namun, anggapan semacam itu justru bisa menjadi bagian dari masalah.
Perubahan di Babak Kedua: Adaptasi yang Terlambat
Untungnya, Jude Bellingham memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia tidak sekadar mengikuti instruksi kaku, tetapi membaca situasi dan mengambil inisiatif. Lari ke belakang pertahanan Panama menjadi kunci, sesuatu yang tidak dilakukan pemain sayap Inggris sebelumnya. Inilah yang membuat perbedaan antara kebuntuan dan kemenangan.
Kesimpulan: Modal Positif di Tengah Kekhawatiran
Kemenangan 2-0 atas Panama membawa Inggris memuncaki grup dan akan menghadapi Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar di Atlanta. Catatan tidak kebobolan dalam lima babak pertandingan tentu positif. Namun, jika pertahanan tampil lagi seperti babak pertama, tim kuat lain bisa memanfaatkannya.
Untungnya, Inggris memiliki talenta berlimpah, dan di tengah semua kebingungan itu, mereka memiliki Jude Bellingham – sang solois yang sedikit kumal namun mampu membengkokkan setiap hari sesuai kehendaknya. Ia adalah pemain yang tahu kapan harus tampil, dan pada malam di New York itu, ia kembali melakukannya.
Persaingan Sengit Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026
Sepuluh dari dua belas edisi terakhir Piala Dunia menunjukkan bahwa enam gol sudah cukup untuk mengamankan Sepatu Emas. Bahkan, pada 2006 dan 2010, lima gol pun sudah menjadi yang terbaik. Namun, perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 kali ini benar-benar berbeda. Setelah dua pertandingan babak grup, Lionel Messi sudah mengoleksi lima gol—mendekati rekor turnamen sepanjang masa milik Miroslav Klose yang telah ia lewati. Dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria, Messi mencetak dua gol, meskipun ia kembali gagal mengeksekusi penalti di awal laga. Jika ia mampu mengonversi tendangan 12 pas, total gol Messi di Piala Dunia bisa mencapai 21, tiga lebih banyak dari saat ini.
Messi Memimpin, Tapi Dua Bintang Muda Mengintai
Di belakang Messi, Erling Haaland dan Kylian Mbappé membayangi dengan masing-masing empat gol. Keduanya tampil tajam di Grup I, meskipun mendapat “hadiah” dari kesalahan bek Irak dan Senegal. Pertandingan penentu grup antara Norwegia dan Prancis akan menjadi ajang pembuktian siapa yang layak menantang Messi. Mbappé sendiri sudah menyamai catatan Klose, hanya terpaut dua gol dari pemain Argentina. Sementara Haaland, yang baru debut di Piala Dunia, sudah menyamai pencapaian legenda seperti Raul, Romario, dan Roger Milla yang hanya mampu mencetak lima gol sepanjang karier mereka.
Rekor Just Fontaine Bisa Terancam?
FIFA tentu senang melihat nama-nama besar bersinar di panggung global. Selain trio di atas, Harry Kane mencetak dua gol dalam satu pertandingan, Vinícius Júnior sudah mengoleksi dua gol, dan dua tuan rumah (AS dan Kanada) juga punya striker andalan: Folarin Balogun serta Jonathan David. Yang menarik, edisi Piala Dunia 2026 memberikan satu pertandingan ekstra bagi para striker. Hal ini membuka peluang rekor 13 gol Just Fontaine (1958) terpecahkan. Terakhir kali ada pemain yang mencapai angka dua digit adalah Gerd Müller dengan 10 gol di Meksiko 1970.
Lebih dari Sekadar Trofi: Spektakel Gol dari Para Bintang
Yang pasti, perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa. Persaingan melibatkan pemain-pemain terbaik planet ini. Di tengah sinisme dan kelelahan moral akibat kontroversi turnamen ini, suguhan gol dari para bintang adalah hal yang bisa dinikmati semua pecinta sepak bola. Semoga semakin banyak gol tercipta di laga-laga selanjutnya.
Tak hanya Messi, Haaland, dan Mbappé, nama-nama seperti Harry Kane, Vinícius Jr., dan striker tuan rumah juga turut meramaikan papan skor. Dengan format turnamen yang memberi kesempatan lebih banyak, bukan tidak mungkin kita akan melihat pemain pertama dalam 56 tahun yang mencapai dua digit gol dalam satu Piala Dunia.
Kesimpulan: Perburuan Sepatu Emas yang Tak Terlupakan
Perjalanan Piala Dunia 2026 masih panjang, tetapi persaingan Sepatu Emas sudah memanas. Messi memimpin, namun Haaland dan Mbappé siap merebut takhta. Ditambah potensi pecahnya rekor legendaris, turnamen ini menyajikan tontonan ofensif yang memanjakan mata. Bagi para pencinta sepak bola, tidak ada yang lebih seru daripada menyaksikan para predator gol terbaik dunia saling beradu ketajaman di panggung terbesar.
Premier League 2025-26 menyajikan salah satu musim paling dramatis dalam sejarah. Dari kejutan awal hingga perebutan gelar yang mendebarkan, setiap bulan menyimpan momen tak terlupakan. Artikel ini merangkum perjalanan musim Premier League 2025-26 dalam kilas balik 100 foto—mulai dari kemenangan dramatis Liverpool hingga perpisahan Pep Guardiola. Simak cerita lengkapnya di bawah.
Agustus: Awal Musim yang Dramatis
Juara bertahan Liverpool harus bersusah payah mengalahkan Bournemouth 4-2 di laga pembuka, setelah kehilangan Diogo Jota. The Reds juga menang tipis atas Newcastle berkat aksi Rio Ngumoha, lalu mengalahkan Arsenal melalui tendangan bebas indah Dominik Szoboszlai yang menjadi gol terbaik bulan itu.
Sementara itu, Manchester City tumbang 0-2 di kandang dari Tottenham dan kalah 1-2 dari Brighton. Everton meresmikan stadion baru mereka, Hill Dickinson Stadium, dengan kemenangan. Sunderland, yang kembali ke papan atas, memulai dengan dua kemenangan dari tiga pertandingan.
September: Gol Akhir yang Berlimpah
Bulan ini dipenuhi gol penentu di masa injury time. Gabriel Martinelli mencetak gol penyeimbang bagi Arsenal saat melawan Man City, lalu Gabriel Magalhães memastikan kemenangan 2-1 atas Newcastle dengan sundulan di menit ke-96. Liverpool menang dramatis atas Burnley berkat penalti Mo Salah di menit ke-95, sementara Eddie Nketiah memberi kemenangan telat bagi Crystal Palace atas tim asuhan Arne Slot—kekalahan pertama Liverpool musim ini.
Aston Villa akhirnya meraih kemenangan setelah lima laga tanpa menang dengan membalikkan keadaan melawan Fulham. Di dasar klasemen, Graham Potter dipecat West Ham, digantikan Nuno Espírito Santo yang baru saja meninggalkan Nottingham Forest. Man City dengan nyaman memenangi derby Manchester 3-0.
Oktober: Pemberhentian Kontroversial
Ange Postecoglou dipecat Nottingham Forest hanya 19 menit setelah kalah 3-0 dari Chelsea—40 hari setelah menggantikan Nuno. Liverpool menjalani bulan buruk dengan kekalahan dari Chelsea, Manchester United, dan Brentford.
Kemenangan Bournemouth 2-0 atas Forest membawa mereka ke posisi kedua, sementara Sunderland masuk empat besar setelah menang 2-1 di kandang Chelsea. Di dasar, Burnley menang dramatis atas Wolves berkat gol Lyle Foster di menit ke-95. Pelatih Wolves, Vítor Pereira, bereaksi marah terhadap pelecehan suporter.
November: Emosi Memuncak
Insiden aneh terjadi saat Idrissa Gueye (Everton) menampar rekannya sendiri, Michael Keane, dalam kemenangan 1-0 atas Manchester United—akibat kartu merah. Eberechi Eze mencetak hat-trick saat Arsenal menghancurkan Tottenham 4-1 untuk unggul enam poin di puncak.
Manchester City menang 3-0 atas Liverpool, lalu Harvey Barnes memberi Newcastle kemenangan atas City. Tyler Adams mencetak gol dari lingkaran tengah, namun Bournemouth tetap kalah 3-2 dari Sunderland yang sedang terbang tinggi. Fans West Ham memprotes pemilik klub dengan peti mati dan mobil jenazah sebelum melihat timnya mengalahkan Burnley 3-2.
Desember: Rekor dan Kontroversi
Mohamed Salah menuduh Liverpool membuangnya setelah tiga laga tidak menjadi starter—imbang 3-3 di Elland Road. Emi Buendía mencetak gol dengan tendangan terakhir saat Aston Villa mengalahkan Arsenal. Namun saat kedua tim bertemu lagi, Villa yang sedang dalam 11 kemenangan beruntun dikalahkan Arsenal 4-1.
Erling Haaland menjadi pemain tercepat mencapai 100 gol Premier League saat Man City memenangi laga sembilan gol melawan Fulham.
Januari: Perubahan Manajer Besar-besaran
Chelsea berpisah dengan Enzo Maresca pada Tahun Baru, digantikan sementara oleh Liam Rosenior. Masa buruk Ruben Amorim di Manchester United berakhir setelah imbang 1-1 dengan Leeds. Michael Carrick, yang menjadi pelatih interim United, langsung mengalahkan rival sekota Man City pada laga pertamanya, lalu menang 3-2 di Arsenal.
Igor Thiago mencetak hat-trick melawan Everton dan dua gol melawan Sunderland, menekan Haaland dalam perebutan sepatu emas.
Februari: Comeback dan Kejutan
Erling Haaland mencetak penalti menit ke-93 untuk membawa Man City bangkit mengalahkan Liverpool. Arsenal kehilangan keunggulan dua gol melawan Wolves yang berada di dasar klasemen setelah kesalahan komunikasi kiper David Raya dan Gabriel Magalhães.
Tottenham memecat Thomas Frank dan menunjuk Igor Tudor, tetapi ia menyaksikan timnya dihancurkan Arsenal 4-1. Burnley sempat menyamakan kedudukan 3-3 dari ketinggalan 0-3 melawan Brentford, namun gol telat Mikkel Damsgaard membuat usaha mereka sia-sia.
Maret: Kutipan Aneh dan Rekor Baru
Liam Rosenior mengeluarkan pernyataan paling aneh musim ini dengan mengatakan pemainnya mencoba “menghormati bola” saat mereka mengelilingi bola dan wasit Paul Tierney dalam formasi aneh sebelum laga melawan Newcastle—yang berakhir 0-1 di kandang.
Kepemimpinan Tudor yang buruk berlanjut dengan kekalahan dari Fulham, Crystal Palace, dan Nottingham Forest. Arsenal membuka keunggulan sembilan poin di papan atas setelah Max Dowman menjadi pencetak gol termuda Premier League (16 tahun 73 hari) saat mengalahkan Everton 2-0. Danny Welbeck mencetak dua gol untuk Brighton saat mengalahkan Liverpool 2-1.
April: Perebutan Gelar Membara
Dalam laga krusial, Man City mengalahkan Arsenal 2-1 di Etihad berkat penampilan gemilang Rayan Cherki. Kedua tim masih memiliki peluang juara di akhir musim. Fans City mengejek rivalnya dengan klaim hasil itu memicu “kepanikan di jalanan London”.
West Ham menghancurkan Wolves 4-0, Forest menang 4-1 atas Burnley dan 5-0 atas Sunderland, meninggalkan Tottenham—kini dengan manajer baru Roberto De Zerbi—terperosok di zona degradasi bersama Burnley dan Wolves.
Mei: Arsenal Akhirnya Juara
Alih-alih panik, fans Arsenal justru berpesta di jalanan London saat tim mereka meraih gelar pertama sejak 2004 melalui serangkaian kemenangan tipis. The Gunners finis tujuh poin di atas Man City, yang harus melepas Pep Guardiola setelah 10 tahun gemilang.
Di dasar klasemen, Tottenham selamat dari degradasi, sementara West Ham—yang ditolak satu poin oleh VAR saat melawan Arsenal dalam momen penentu musim—turun kasta bersama Wolves dan Burnley.
Kesimpulan: Musim Premier League 2025-26 benar-benar tak terlupakan. Dengan drama, kontroversi, dan rekor baru, kisah ini akan terus diingat oleh para pecinta sepak bola. Pantau terus galeri 100 foto untuk melihat setiap momen emosional sepanjang musim.
Menjelang musim baru, setiap klub Premier League memiliki titik lemah yang perlu segera dibenahi. Berikut rekomendasi posisi yang harus diperkuat oleh 20 tim papan atas Inggris agar kompetitif sepanjang musim.
Arsenal: Gelandang Tengah
Declan Rice bermain sangat padat musim lalu dengan total 4.456 menit di semua ajang. Kelelahan mulai terlihat saat Piala Dunia, kala fisiknya hampir ambruk. Arsenal membutuhkan tambahan pemain berkualitas di lini tengah agar Rice bisa sesekali beristirahat. Christian Nørgaard kesulitan mendapat kepercayaan Mikel Arteta, sehingga opsi gelandang baru sangat krusial untuk mempertahankan gelar juara.
Aston Villa: Bek Kiri
Aston Villa finis di tujuh besar empat musim beruntun dan musim lalu meraih trofi Liga Europa. Mereka perlu memperdalam skuad untuk bersaing di level elit, namun Lucas Digne mungkin hengkang ke PSG. Ian Maatsen pemain bagus, tapi ia tak bisa bermain setiap pekan jika Villa juga tampil di Liga Champions. Itu sebabnya Villa tertarik merekrut Pervis Estupiñán dari Milan.
Bournemouth: Bek Kanan
Adam Smith, legenda Bournemouth dengan lebih dari 400 penampilan, kini berusia 35 tahun. Max Aarons dan Julián Araujo didatangkan sebagai suksesor, namun gagal bersinar. Álex Jiménez dipinjamkan ke Fiorentina. Marco Rose perlu mendatangkan bek kanan bintang agar Smith bisa beristirahat.
Brentford: Bek Kiri
Brentford sudah membenahi kelemahan terbesar, tapi posisi bek kiri masih perlu peningkatan. Rico Henry kesulitan fit dan performa sejak cedera parah tiga tahun lalu. Musim lalu ia tampil 30 pertandingan namun membuat empat kesalahan yang berujung tembakan lawan—terbanyak bersama pemain Brentford lain. Tambahan pemain di sisi kiri juga membebaskan Keane Lewis-Potter bermain lebih ke depan.
Brighton: Gelandang Tengah
Brighton pasti sudah lama merencanakan masa pensiun James Milner dan usia Pascal Gross yang menua. Hanya enam gelandang di atas 34 tahun bermain di Premier League musim lalu, dan dua di antaranya adalah pemain Brighton. Lini tengah mereka tipis, apalagi ada potensi kepergian. Carlos Baleba dikaitkan dengan hengkang, dan Yasin Ayari tampil mengesankan di Piala Dunia. Tak ada pemain yang mencetak gol lebih banyak dari luar kotak penalti di turnamen itu selain Ayari. Brighton tetap butuh satu gelandang lagi meski Baleba dan Ayari bertahan.
Chelsea: Penjaga Gawang
Chelsea telah menghabiskan lebih dari £200 juta musim panas ini—£117 juta di antaranya untuk Morgan Rogers—namun masih banyak posisi bermasalah. Mereka tampak ingin merekrut bek tengah dan perlu tambahan di gelandang tengah serta sayap kiri, tapi prioritas utama adalah kiper. Robert Sánchez tak pernah benar-benar meyakinkan. Sejak bergabung Agustus 2023, ia menempati peringkat kedua Premier League untuk kesalahan menyebabkan tembakan (17) dan gol (7). Dari sepuluh pelaku terburuk di kedua metrik itu, Sánchez memiliki jumlah penampilan dan menit bermain paling sedikit. Mike Penders baru datang dari Strasbourg, tapi usianya baru 20 tahun, masih untuk masa depan. Xabi Alonso tak ingin memulai masa jabatannya dengan khawatir soal keandalan kiper utama.
Coventry: Penjaga Gawang
Coventry kembali ke Premier League setelah 25 tahun. Banyak hal yang belum pasti, termasuk kemampuan Haji Wright dan Ellis Simms sebagai ujung tombak menghadapi pertahanan terbaik Inggris. Namun yang paling besar tanda tanya adalah kiper utama karena mereka belum punya penggawa tetap. Coventry ingin mempermanenkan pinjaman Carl Rushworth dari Brighton, tapi belum bisa sepakat biaya. Hanya kiper Bristol City, Radek Vitek (+8,5), yang mencegah lebih banyak gol berkat penyelamatannya di Championship musim lalu dibanding Rushworth (+8,2). Tanpa dia, ada lubang besar yang harus diisi.
Crystal Palace: Bek Tengah
Pierre Sage menggunakan tiga bek di semua pertandingan Ligue 1 musim lalu, jadi kemungkinan Crystal Palace tetap memakai formasi 3-4-2-1 yang sukses di era Oliver Glasner. Mereka butuh lebih banyak kedalaman di bek tengah. Setelah kehilangan Marc Guéhi ke Manchester City pada Januari, tingkat kemenangan Premier League mereka turun dari 35% saat ia starter menjadi 22,2% tanpa dia. Jaydee Canvot adalah pengganti yang memadai, tapi Palace masih kekurangan jumlah pemain di lini belakang. Jika Maxence Lacroix juga hengkang, kebutuhan bek tengah semakin mendesak.
Everton: Bek Kanan
Masa 17 tahun Séamus Coleman di Everton telah berakhir, dan Nathan Patterson juga diperkirakan pergi. Akibatnya, Jake O’Brien kemungkinan menjadi satu-satunya bek kanan yang diakui. Namun, konsensus fans Everton mengatakan bahwa pemain republik Irlandia yang berpostur kekar itu tidak cukup dinamis atau teknis untuk menjadi full-back. James Garner kadang mengisi posisi itu. Posisi ini sudah lama menjadi masalah.
Fulham: Penyerang Tengah
Fulham butuh lebih banyak pemain yang bisa mencetak gol. Raúl Jiménez (9 gol) dan Harry Wilson (10 gol) menyumbang 19 dari 43 gol Premier League mereka musim lalu (tidak termasuk gol bunuh diri), dan keduanya hengkang gratis. Tak ada pemain lain yang mencetak lebih dari 4 gol liga musim lalu. Rodrigo Muniz (1 gol), Samuel Chukwueze (3 gol), dan Kevin (1 gol) diharapkan bisa lebih produktif, tetapi Fulham jelas butuh kedalaman di lini depan. Pelatih baru Álvaro Arbeloa ingin merekrut Gonzalo García dari Real Madrid, namun Fulham setidaknya butuh dua wajah baru.
Hull: Penyerang Sayap
Hull City sangat perlu menambah kualitas di lini serang. Oli McBurnie memiliki fisik untuk memimpin lini depan, namun pemain 30 tahun itu butuh rekan yang lari darinya agar efektif. Hull sudah menjual Kyle Joseph ke Middlesbrough dan tidak mencoba merekrut kembali Joe Gelhardt setelah masa pinjamannya. Akibatnya, mereka kekurangan pemain di lini depan.
Ipswich: Striker
Mayoritas tim promosi kesulitan karena kurangnya ketajaman di kedua kotak penalti. Dengan mendatangkan Issa Diop, Ipswich telah mengamankan bek andal untuk bermain bersama Dara O’Shea. Namun mereka butuh lebih banyak daya gedor di lini depan. George Hirst hanya dua kali mencapai dua digit gol dalam satu musim, dan Emersonn yang dibeli £24 juta belum pernah mencetak lebih dari 6 gol liga dalam semusim (meski baru 22 tahun). Daizen Maeda adalah tambahan yang sangat diperlukan dari Celtic.
Leeds: Penjaga Gawang
Leeds mendatangkan Lucas Perri dari Lyon musim panas lalu seharga £15,6 juta dengan harapan ia menyelesaikan masalah kiper. Ternyata tidak. Karl Darlow, awalnya pelapis Illan Meslier pada 2023, malah bermain lebih banyak di liga musim lalu. Namun Darlow kemudian hengkang gratis ke Manchester United. Leeds juga membiarkan kontrak Meslier habis. Opsi kiper yang tersisa hanyalah Perri yang tampil mengecewakan di musim pertamanya, dan Alex Cairns (33) yang pertandingan kompetitif terakhirnya bersama Salford pada 2023-24. Mereka butuh kiper lain.
Liverpool: Sayap Kanan
Musim terakhir Mohamed Salah di Liverpool adalah yang paling mengecewakan, namun ia tetap terlibat dalam 22 gol di semua ajang. Dalam sembilan tahun di Anfield, Salah adalah salah satu pemain terhebat dalam sejarah Liverpool dan hampir tidak bisa digantikan. Namun kontribusi golnya musim lalu masih bisa digantikan. Seorang penyerang sayap dinamis yang mencetak gol dan kreatif—seperti Bradley Barcola—sedang dalam agenda, dan Andoni Iraola punya rekam jejak bagus mengembangkan pemain seperti itu.
Manchester City: Sayap
Enzo Maresca telah mengisi satu lubang di skuad Manchester City dengan mendatangkan Elliot Anderson, tapi ia butuh opsi lain di sisi sayap untuk memberi variasi serangan. Akhir musim lalu, City kekurangan kedalaman di sayap. Antoine Semenyo kesulitan pada akhir musim dan City tak punya pengganti berkualitas di bangku cadangan. Savinho mengalami kemunduran di musim keduanya di Inggris, hanya menjadi starter 7 laga liga dan mencetak 1 gol. Phil Foden dan Rayan Cherki lebih baik di posisi tengah.
Manchester United: Gelandang Tengah
Opsi lini tengah Michael Carrick telah diperkuat dengan Andrey Santos dan Youri Tielemans. Ini awal yang cukup baik, tapi mereka butuh lebih. Jika Bruno Fernandes dan Mason Mount diklasifikasikan sebagai pemain No.10, Manchester United hanya punya tiga gelandang tengah senior musim lalu: Kobbie Mainoo, Casemiro, dan Manuel Ugarte. Casemiro sudah bergabung ke Inter Miami, dan Ugarte mungkin sudah hengkang jika tidak mengalami cedera ACL di Piala Dunia yang membuatnya absen hampir sepanjang musim. United masih butuh gelandang atletis perebut bola.
Newcastle: Full-Back
Kami bisa memilih beberapa posisi untuk Newcastle, tapi full-back adalah prioritas karena mereka butuh pemain untuk masing-masing sisi atau setidaknya seseorang yang bisa bermain di kedua sisi. Tino Livramento dan Lewis Hall adalah dua full-back terbaik di Premier League, namun mereka sering cedera dan Newcastle kehilangan kedalaman setelah Kieran Trippier, Emil Krafth, dan Matt Targett hengkang. Dan Burn bisa mengisi bek kiri, tapi itu tidak ideal; mereka punya Leo Shahar di bek kanan yang masih remaja; dan Alex Murphy bisa mengisi bek kiri namun ia lebih cocok sebagai bek tengah.
Nottingham Forest: Bek Tengah
Anggap saja mengganti Elliot Anderson adalah prioritas. Area lain yang perlu diperkuat adalah bek tengah. Pelatih baru Oliver Glasner sangat menyukai tiga bek; ia selalu menggunakan formasi tiga atau lima bek selama dua musim di Crystal Palace. Forest sudah memiliki beberapa bek tengah—Nikola Milenkovic, Murillo, Morato, dan Jair Cunha, plus beberapa prospek—namun mendatangkan setidaknya satu lagi bek yang berpengalaman bermain di tiga bek tidak akan rugi.
Tottenham: Sayap
Saat Mohammed Kudus dan Dejan Kulusevski pulih, Tottenham akan memiliki opsi bagus di sayap kanan. Namun mereka tidak ikut tur pramusim ke Selandia Baru dan Australia, dan mungkin tidak tersedia untuk awal musim. Di sisi kiri, Spurs hanya punya Mathys Tel dan Wilson Odobert, keduanya tidak bisa diandalkan untuk kontribusi konsisten. Total Tel dan Odobert hanya mencetak 4 gol dan 3 assist dari 55 penampilan liga musim lalu. Odobert juga dalam pemulihan cedera lutut serius dan akan absen setidaknya beberapa bulan pertama. Itu membuat Tottenham hampir tanpa opsi di sayap. Mereka butuh setidaknya satu winger.
Sunderland: Gelandang Kreatif
Setelah bursa transfer yang sangat sibuk musim panas lalu dan musim pertama yang sangat sukses di papan atas, Sunderland lebih tenang kali ini. Itu bisa dimaklumi, namun dengan kampanye Eropa pertama sejak 1973, mereka butuh lebih banyak kedalaman, termasuk di lini tengah. Mereka sangat butuh kreativitas tambahan karena hanya menghasilkan 23,2 expected goal dari open play dalam 38 laga liga musim lalu—lebih buruk hanya Burnley dan Wolves yang terdegradasi.
Klub Liga Inggris, Sunderland, dikabarkan segera mengamankan tanda tangan Dayann Methalie, bek muda asal Prancis yang sebelumnya menjadi target utama Newcastle United. Pemain berusia 20 tahun yang membela Toulouse itu diyakini bakal menjadi rekrutan kedua Sunderland di bursa musim panas ini setelah kedatangan Thomas Meunier.
Menurut laporan yang beredar, Sunderland telah mencapai kesepakatan verbal dengan sang pemain untuk kontrak berdurasi lima tahun. Nilai transfernya diperkirakan mencapai sekitar £26 juta, angka yang sejalan dengan kebijakan transfer Newcastle yang belakangan ini memang mengincar pemain muda di kisaran harga £20-40 juta.
Profil Dayann Methalie: Bek Serbabisa nan Tangguh
Dayann Methalie adalah pemain bertahan yang sangat fleksibel. Ia bisa bermain sebagai bek kiri, wingback, maupun bek tengah. Musim lalu, ia tampil impresif di Ligue 1 bersama Toulouse dengan mencatatkan 27 penampilan. Keunggulan fisiknya—dengan tinggi 6 kaki 2 inci—dipadu kecepatan recovery yang luar biasa, postur tubuh kokoh, serta kaki kiri yang akurat membuatnya bersinar saat ditempatkan sebagai bek kiri dalam formasi empat bek maupun sebagai bek kiri dalam tiga bek.
Di Sunderland, Methalie akan mendapat kesempatan untuk berlaga di Liga Europa. Selain itu, ia akan bergabung dengan sesama pemain Prancis dan penutur bahasa Prancis di klub, seperti Enzo Le Fée, Nordi Mukiele, dan Habib Diarra. Kedekatannya dengan rekan setim akan diperkuat oleh kehadiran pelatih Régis Le Bris yang juga berasal dari Prancis.
Persaingan di Posisi Bek Kiri Sunderland
Meskipun Methalie diyakini akan langsung bersaing dengan Reinildo untuk menjadi bek kiri utama, kemampuannya beradaptasi membuatnya tetap bernilai tinggi. Ia diharapkan mampu menjadi pilihan reguler di lini pertahanan entah sebagai starter atau pelapis andal.
Nasib Newcastle di Bursa Transfer
Sementara itu, Newcastle United yang sempat memantau Dayann Methalie secara intensif memutuskan untuk mundur dari persaingan. Klub asal Tyneside itu tidak mengajukan tawaran pada musim panas ini, meski mereka masih membutuhkan pelapis di posisi bek kiri dan kanan. Pelatih Eddie Howe sangat ingin memperkuat sisi kanan pertahanan menyusul kepergian Kieran Trippier.
Di lini tengah, masa depan Joe Willock masih belum jelas. Newcastle telah menolak tawaran sekitar £10 juta dari Besiktas, tetapi mereka terbuka untuk menjual sang gelandang dengan harga mendekati £20 juta. Adapun Bruno Guimarães tampaknya akan bertahan, kecuali Arsenal bersedia membayar klausul £80 juta untuk sang kapten.
Kesimpulan
Kedatangan Dayann Methalie ke Sunderland bukan hanya memperkuat lini belakang, tetapi juga menunjukkan ambisi klub untuk bersaing di level Eropa. Dengan usia muda, fleksibilitas posisi, dan potensi besar, Methalie bisa menjadi aset jangka panjang yang berharga. Sementara itu, Newcastle harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan di sektor bek sayap mereka.
Manchester City masih optimistis bisa meyakinkan Rodri untuk menandatangani kontrak baru. Namun, klub asal Manchester itu sadar bahwa ancaman nyata datang dari Real Madrid yang dikabarkan siap melayangkan tawaran untuk sang gelandang, begitu pula dari klub-klub elite lainnya.
Kontrak Rodri saat ini akan habis pada Juni tahun depan. Pemain berusia 30 tahun itu belum juga menyetujui perpanjangan kontrak yang sudah disodorkan City beberapa waktu lalu. Meski demikian, pihak klub terus bernegosiasi dan merasa yakin kesepakatan akan tercapai.
Real Madrid Ubah Sikap, Siapkan Tawaran untuk Rodri
Real Madrid sebelumnya menyatakan tidak tertarik pada Rodri. Namun, penampilan luar biasa sang pemain sebagai kapten Timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia – ia meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen – membuat Los Blancos mengubah pendirian. Sumber internal menyebut Madrid kini sedang menyusun proposal resmi.
Ketangguhan fisik Rodri selama musim panas juga menghilangkan keraguan Madrid soal kebugarannya, setelah dua musim sebelumnya ia kerap diganggu cedera. Namun, perlu dicatat bahwa Rodri akan menjalani operasi punggung setelah kembali ke Inggris dari Amerika Utara.
Pernyataan Rodri Sebelumnya: Sulit Menolak Madrid
Pada Maret lalu, Rodri sempat memberi isyarat ingin bermain untuk Real Madrid. “Saya pernah membela Atlético [2018-19] sebelumnya, itu tidak akan menghalangi saya bermain untuk Real Madrid. Ada pemain lain yang melakukannya. Mungkin bukan transfer langsung, tapi pada akhirnya, Anda tidak bisa menolak salah satu klub terbaik di dunia,” ujarnya seperti dikutip dari sumber.
Minat Klub Lain: Barcelona dan PSG Ikut Memantau
Ketertarikan Real Madrid terhadap transfer Rodri bisa memicu minat dari klub-klub elite lain. Barcelona dikabarkan bisa bergerak setelah Frenkie de Jong mengalami cedera ligamen kolateral medial yang membuatnya absen berbulan-bulan. Sementara Paris Saint-Germain juga dikenal mengagumi kemampuan Rodri.
Dampak Domino: Tchouaméni Bisa Dilepas, Manchester United Menanti
Untuk mendanai transfer Rodri, Madrid mungkin perlu menjual pemain. Apalagi jika mereka jadi merekrut Yan Diomande dari RB Leipzig dengan biaya “jauh di atas” €100 juta (£85 juta). Salah satu kandidat yang bisa dilepas adalah Aurélien Tchouaméni. Gelandang asal Prancis berusia 26 tahun itu dikabarkan telah setuju dengan kontrak baru, meski belum diumumkan secara resmi. Kontraknya saat ini berakhir pada musim panas 2028.
Manchester United masih mempertahankan minat pada Tchouaméni, tetapi bursa sebelumnya mereka ragu apakah biaya yang diminta Madrid – sekitar £70 juta – sesuai anggaran. Rekan setim Tchouaméni di Madrid, Eduardo Camavinga, juga masuk radar Setan Merah dan dibanderol €50-60 juta.
Kesimpulan
Skenario transfer Rodri ke Real Madrid masih terbuka lebar, namun Manchester City belum menyerah. Negosiasi kontrak baru terus berjalan, dan keputusan akhir pemain asal Spanyol itu akan menjadi kunci dalam menentukan arah bursa transfer gelandang top Eropa musim ini. Jika Rodri hengkang, rantai pergerakan pemain seperti Tchouaméni dan Camavinga ikut terpengaruh.
Kepergian Jayden Adams di usia 25 tahun menyisakan duka mendalam bagi dunia sepak bola Afrika Selatan. Gelandang timnas yang dikenal pendiam dan rendah hati ini meninggal pada awal bulan ini, dan komunitas sepak bola serta warga Stellenbosch merasakan kehilangan yang amat besar. Dalam upacara peringatan yang digelar sepuluh hari lalu, pelatih juniornya, Steve Barker, menyebut lapangan hijau sebagai “tempat aman” bagi Adams. Ungkapan itu menjadi cermin dari perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan di luar lapangan.
Sejak lahir, Jayden Adams sudah bergulat dengan berbagai tantangan sosial-ekonomi. Meskipun lahir di era Afrika Selatan yang baru demokratis, kenyataan pahit ketimpangan masih membayangi keluarganya. Stellenbosch, kota tempat Adams dibesarkan, menyimpan dua wajah yang kontras. Di permukaan, kota ini adalah destinasi wisata dengan arsitektur Cape Dutch dan kebun anggur yang asri. Namun di balik itu, kawasan pinggiran seperti Cloetesville dan Ida’s Valley menjadi saksi bisu keterpinggiran warga kulit berwarna yang sebagian besar hidup dalam keterbatasan.
Rintangan Sejak Kecil
Adams kecil tumbuh dalam lingkungan yang keras. Keluarganya tinggal berdesakan di rumah dua kamar untuk enam orang, termasuk tiga saudara kandungnya. Kadang mereka harus menumpang di rumah neneknya, Marianna. “Dia pada dasarnya tumbuh di halaman neneknya,” ujar Brendine Johnson, juru bicara keluarga Jayden Adams. Meskipun hidup pas-pasan, Adams muda punya semangat juang yang besar. Bibinya, Monica Thaoge, mengenang bagaimana dulu Adams sering menendang benda bundar apa pun, bahkan “bawang sekalipun”. Orang tuanya, Juanito dan Candice, bahkan pernah bercanda bahwa kentang menjadi bola favorit putra mereka.
Di lingkungan seperti itu, sepak bola menjadi pelarian utama. Menurut Roger Telemachus, mantan pemain kriket Afrika Selatan yang tumbuh di jalan yang sama dengan ayah Adams, olahraga adalah cara terbaik untuk menjauhkan anak-anak dari masalah seperti geng, narkoba, dan kejahatan. “Semua anak di sana bermain apa pun di jalan: tenis, sepak bola, rugby, kriket. Ayah Adams sangat mendorong anak-anaknya,” kenang Telemachus.
Langkah Awal Menuju Karier
Perubahan besar terjadi saat Jayden Adams bergabung dengan akademi usia 18 tahun Stellenbosch pada usia 15 tahun. “Lingkungannya keras, terutama jika kamu tidak cukup besar atau tinggi, tapi ketika fisik tidak lagi menjadi faktor utama, orang mulai melihat kemampuan teknis Jayden yang luar biasa,” kata Johnson. Pelatihnya, Steve Barker, memberikan penilaian emosional: “Banyak pemain bagus, tapi sedikit yang hebat. Jayden hebat. Sentuhan pertamanya luar biasa, bobot umpannya tak tertandingi, dan dia sangat mencintai permainan ini. Berada di lapangan adalah tempat bahagianya.”
Di bawah bimbingan Barker, Adams menjadi pemain pertama dari Akademi Stellenbosch yang tampil di kasta tertinggi Afrika Selatan, Premier Soccer League. Lima tahun kemudian, klub terkaya di negeri itu, Mamelodi Sundowns, meminangnya. Pada musim keduanya di Sundowns, ia mencukur habis rambutnya dan bercanda sebagai tanda kedewasaan, menjuluki dirinya “grootman” (pria besar). Julukan itu melekat erat.
Perjalanan yang Terhalang Rintangan
Di balik kesuksesan, Jayden Adams juga menghadapi pahitnya hidup. Ia sempat dikeluarkan dari tim nasional setelah terlambat datang ke kamp pelatihan dan membuat pelatih Hugo Broos kecewa. Lebih menyakitkan lagi, ia kehilangan dua rekan satu akademi: Oshwin Andries (19) yang tewas ditikam di Paarl pada Februari 2023, dan Jeandre Gaffoor (20) yang tenggelam di Sungai Krom tiga tahun kemudian. Saat Sundowns memenangi Liga Champions Afrika pada Mei lalu, Adams mendedikasikan medali emasnya untuk Andries. Kehilangan demi kehilangan membebani kota kecilnya, tapi melalui Adams mereka punya alasan untuk bangga.
Peran Adams dalam kemenangan kontinental Sundowns dan panggilannya ke skuad Piala Dunia menunjukkan kariernya sedang menanjak. Dari pemain cadangan yang sering diragukan, ia menjadi inti tim. Pelatih senior Sundowns, Steve Komphela, dalam upacara peringatan menyebut Adams sebagai “jantung tim kami dan detak jantung gaya permainan kami” yang “memahami permainan seperti pelatih dan memainkannya seperti pemain”.
Karakter yang Tak Banyak Diketahui
Meskipun prestasinya meningkat, Jayden Adams tetap rendah hati. “Dia tahu apa yang dia miliki, tapi tidak pernah menonjolkannya. Dia sangat kompetitif, tapi tidak pernah menyombongkan diri,” ujar Johnson. Di media sosial, banyak orang pandai bicara, tapi Adams tidak seperti itu. Ia lebih suka memberi: setelah setiap pertandingan, ia membagikan jersey dan sepatu kepada anak-anak yang memintanya. Ia juga fokus memperbaiki kondisi finansial keluarganya, seperti yang selalu dijanjikannya.
Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat Piala Dunia. Neneknya, Marianna, meninggal sehari sebelum pertandingan melawan Ceko. Adams memilih tetap bersama skuad dan bermain, meski hatinya hancur. Ia tampil dalam laga itu dan hasil imbang 1-1 dianggap positif. Pertandingan berikutnya melawan Korea Selatan, Afrika Selatan menang dan lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya. Rekaman setelah pertandingan menunjukkan Adams duduk sendirian sementara rekan-rekannya bersorak gembira.
Dampak Kematian pada Komunitas
Kepergian Jayden Adams mengguncang komunitas Stellenbosch. Di beberapa pertandingan Piala Dunia, hening cipta satu menit dilakukan untuk menghormatinya. “Saya pikir masyarakat tidak tahu seberapa besar dirinya dan betapa orang menikmati sepak bolanya. Ini kejutan besar,” kata Johnson. Keluarga meninggalkan orang tua, tiga saudara kandung, pasangan, dua anak, dan seluruh komunitas yang tidak pernah membayangkan kehilangan sebesar ini.
Dalam upacara peringatan, Komphela memberikan ayat Alkitab Mazmur 23:4 sebagai penghiburan: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak akan takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Ayat itu menjadi ringkasan perjalanan hidup Jayden Adams yang pendek namun penuh perjuangan. Ia telah berjalan melalui lembah kekelaman berkali-kali tanpa rasa takut. Kini, ia meninggalkan warisan sebagai pemain yang dihargai jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.
Sebuah kejadian kecil namun absurd terjadi di balapan Formula Two di Spa, Belgia, beberapa waktu lalu. Noel León dari Campos Racing finis di posisi ketujuh dan meraih enam poin. Tiga jam setelah bendera kotak-kotak dikibarkan, FIA justru mendiskualifikasinya. Alasannya? Seorang tamu di garas Campos kedapatan memakai headset bermikrofon, meski mikrofon itu tidak digunakan dan tidak ada komunikasi dengan pembalap. Insiden ini menjadi contoh nyata bagaimana sengketa hasil pertandingan semakin merajalela—olahraga tidak lagi berakhir di lapangan, melainkan di meja sidang.
Fenomena Sengketa Hasil Pertandingan yang Semakin Meluas
Dulu, hasil pertandingan adalah final. Kini, apa yang terjadi di lapangan hanyalah draf awal yang bisa digugat, dinegosiasikan, dan diputar balikkan. Sengketa hasil pertandingan tidak hanya terjadi di level elite, tapi merambah ke berbagai cabang olahraga. Protes, banding, hingga gugatan hukum menjadi pemandangan biasa. Fenomena ini didorong oleh uang besar, pengaruh politik, dan birokrasi yang kaku.
Kekonyolan Aturan FIA: Mikrofon yang Tidak Dipakai
Kasus Noel León memperlihatkan betapa sepelenya pelanggaran yang bisa menggagalkan hasil pertandingan. Aturan appendix 5 F2 Sporting Regulations melarang non-personel tim menggunakan alat komunikasi dua arah. Padahal headset tamu itu memiliki mikrofon yang hanya diam terlipat ke atas. Tidak ada keuntungan apapun, bahkan tidak ada percobaan curang. Namun FIA tetap menerapkan hukuman—sebuah contoh nyata dari sengketa hasil pertandingan yang dipicu oleh interpretasi aturan yang kaku.
Dalam balapan F1 pun hal serupa sering terjadi. Layar televisi tiba-tiba menampilkan “FIA Stewards” disusul hukuman konyol seperti “penalti 8,5 detik karena makan Twix saat mengemudi”. Birokrasi yang mementingkan prosedur daripada esensi olahraga ini memicu ketidakpuasan dan memperkuat tren sengketa hasil pertandingan di berbagai level.
Dari CAS hingga Premier League: Arena Baru Pertarungan Hasil
Court of Arbitration for Sport (CAS) di Lausanne menjadi saksi ledakan jumlah perkara. Pada 1990 hanya ada 7 permohonan, kini mendekati 1.000 kasus per tahun. Kasusnya bervariasi, mulai dari sengketa kontrak pemain Polandia hingga definisi perempuan dalam olahraga, bahkan menentukan pemenang turnamen besar seperti Piala Afrika.
Kekacauan Piala Afrika 2025: Trofi Digugat Dua Bulan Kemudian
Salah satu contoh paling ekstrem adalah final Piala Afrika 2025 antara Senegal dan Maroko. Senegal berunjuk rasa ke luar lapangan akibat keputusan wasit, lalu kembali dan menang 1-0. Namun Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyatakan Senegal dianggap kalah forfeit dan memberikan trofi ke Maroko. Sengketa hasil pertandingan ini memicu perang hukum dua bulan setelah peluit akhir, menunjukkan siapa pun yang tidak puas akan terus melanjutkan perlawanan.
Premier League vs Manchester City: Gelar Juara dalam Tanda Tanya
Di Inggris, pertarungan hukum Premier League melawan Manchester City sudah memasuki tahun keempat tanpa kejelasan. Seluruh era kejayaan City di bawah tiga pelatih dipertanyakan legalitasnya. Proses rahasia di ruang sidang ini membuat para penggemar dan sejarah liga menjadi tidak pasti. Sengketa hasil pertandingan level ini menunjukkan bagaimana olahraga bisa terombang-ambing oleh argumen hukum yang berlarut-larut.
Faktor Pemicu Maraknya Sengketa Hasil Pertandingan
Beberapa faktor mendorong fenomena ini:
Uang besar: Klub dan pemain berlindung di balik pengacara karena taruhan finansial tinggi.
Aturan yang ambigu: Banyak regulasi olahraga ditulis terburu-buru, memberi celah penafsiran.
Pengaruh kekuasaan: Intervensi tokoh berpengaruh seperti Donald Trump—yang berhasil membatalkan kartu merah pemain yang bahkan tidak ia kenal—menunjukkan bahwa aturan bisa ditekuk.
Media sosial dan tentara bayaran opini: Setiap hasil bisa digiring opini publiknya melalui narasi alternatif.
Dari Aturan Kecil hingga Keruntuhan Tata Dunia Olahraga
Ketika aturan tidak lagi dianggap sebagai alat keadilan, melainkan sebagai medan pertarungan kekuasaan, maka sengketa hasil pertandingan bukan lagi kejadian sesekali, melainkan praktik yang melembaga. Jika kita menerima bahwa hasil bisa diubah setelah pertandingan selesai—bahkan untuk pelanggaran sekecil penggunaan headset—maka pintu bagi sengketa yang lebih besar pun terbuka lebar.
Fenomena ini bukan sekadar masalah hukum atau administrasi, melainkan ancaman terhadap esensi olahraga itu sendiri: bahwa kemenangan diraih di lapangan, bukan di ruang sidang. Tanpa perubahan paradigma, setiap pertandingan hanya akan menjadi babak pertama dalam drama panjang yang berakhir di meja hijau.
Piala Dunia 2026 telah usai. Jutaan penggemar sepak bola yang sebelumnya terpaku di depan layar kini harus menghadapi akhir pekan yang terasa hampa. Di Inggris saja, BBC dan ITV menyiarkan sekitar 275 jam liputan langsung selama turnamen berlangsung — sesuatu yang sebesar itu tentu sulit digantikan. Tapi jangan khawatir. Meski sepak bola telah berakhir, masih banyak tontonan dan aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian dari dunia yang penuh hiruk-pikuk. Berikut enam cara mengatasi kehilangan Piala Dunia agar akhir pekan Anda tetap menyenangkan.
1. Jika Anda Merindukan Olahraga
Kabar baiknya, meski Piala Dunia sudah tamat, Commonwealth Games baru saja dimulai di Glasgow dengan berbagai cabang olahraga seperti renang, netball, tinju, senam, dan bowls. Sayangnya, semua pertandingan itu hanya akan dikemas dalam tayangan highlight singkat di Channel 5 pukul 22.30, karena hak siar dimiliki TNT yang berbayar. Hal yang sama terjadi pada Tour de France, setelah ITV mengakhiri 24 tahun liputannya.
Jika Anda ingin olahraga gratis lewat siaran televisi biasa, pilihannya memang lebih terbatas. Ada pertandingan rugby league di BBC Two sore ini, dan kriket besok. Alternatif lain: nyalakan ITV4 dan biarkan aliran tayangan olahraga ringan mengalir — mulai dari cuplikan Man Utd vs Nottingham Forest 1979, hingga balapan rally, pacuan kuda di Ascot, Formula E, dan di puncaknya, film Top Gun yang dibintangi Tom Cruise (pembuka final Piala Dunia) pada pukul 22.05. Hampir sama seru dengan Piala Dunia, bukan?
2. Jika Anda Merindukan Merasa Bagian dari Sesuatu yang Besar
Pergilah menonton The Odyssey. Film epik garapan Christopher Nolan ini memecahkan rekor box office di mana-mana. Tiket untuk format 70mm Imax sulit didapat — mirip dengan sensasi mendapatkan tiket final Piala Dunia. Film ini keras, panjang, dan mendebarkan. Anda bisa berdebat seru soal berbagai hal: “Di mana orang Faiakia? Kenapa adegan seks dihilangkan? Apa maksud Nolan memasukkan tema dosa ala Yahudi-Kristen ke dalam puisi kuno yang klimaksnya justru penuh kekerasan balas dendam?”
Lebih dari itu, kisah ini pada dasarnya tentang seorang pria yang merenungkan masa lalunya yang penuh tribalisme dengan penyesalan baru — bukankah itu gambaran suasana hati setelah Piala Dunia? Cara mengatasi kehilangan Piala Dunia seperti ini bisa menjadi pelarian yang sempurna.
3. Jika Anda Merindukan Begadang
Mungkin Anda sudah terbiasa dengan jam Amerika selama sebulan terakhir. Untuk mempertahankan kebiasaan itu, beberapa opsi bisa dicoba. Pelanggan Netflix bisa menyaksikan WWE SummerSlam yang mulai pukul 23.00 BST pada 1 Agustus dan berlangsung beberapa jam. Atau, ikuti San Diego Comic-Con yang dimulai malam ini dengan jadwal California — Anda bisa begadang menyegarkan media sosial untuk mendapat cuplikan trailer keren secara langsung.
Alternatif lainnya: hujan meteor Delta Aquariid diprediksi mencapai puncaknya pada malam 30 Juli. Meski belum tentu terlihat dari Inggris, ini pilihan lebih seru daripada tidur seperti orang biasa.
4. Jika Anda Merindukan Jeda Minum (Istirahat Hidrasi)
Pergilah minum sesuatu. Infeksi saluran kemih tidak menyenangkan, apalagi di musim panas seperti ini. Sambil minum, tontonlah iklan sebentar — untuk merasakan efek “FIFA” yang lengkap. Ini cara sederhana namun efektif sebagai bagian dari cara mengatasi kehilangan Piala Dunia.
5. Jika Anda Merindukan Spekulasi dan Tebak-tebakan
Sebagian besar keseruan Piala Dunia berasal dari spekulasi dan prediksi. Kabar baiknya, politik Inggris saat ini sedang sangat kaya akan bahan tebak-tebakan. Ada perdana menteri baru (lagi), yang memunculkan analisis amatir tak berujung: “Apakah Angela Rayner dimainkan di posisi yang salah? Apakah Ed Miliband masih punya stamina untuk diplomasi internasional? Berapa banyak performa mengecewakan sebelum negara menuntut ganti manajer lagi?”
Lebih seru lagi, pemilihan sela Clacton akan segera berlangsung. Ini kesempatan bagus untuk membuat sweepstake di kantor. Siapa dari 34 kandidat yang akan Anda dapat? Binface? Farage? Baron Von Thunderclap? Atau Laurence Fox? Sungguh mendebarkan.
6. Jika Anda Secara Khusus Merindukan Piala Dunia Pria yang (Sebagian Besar) Digelar di AS
Ini berita terbaik: baru-baru ini dilaporkan bahwa Donald Trump ingin Amerika menjadi tuan rumah Piala Dunia 2038. Saat itu, ia diperkirakan sudah menjabat periode kelima. Sukacita berlipat. Siapa tahu Anda bisa mulai menabung dan merencanakan nonton langsung — cara mengatasi kehilangan Piala Dunia jangka panjang yang penuh antisipasi.
Keenam alternatif di atas bisa membantu Anda melewati akhir pekan tanpa rasa kehilangan setelah Piala Dunia. Baik menonton film epik, berdebat politik, begadang nonton meteor, atau sekadar minum air putih, tetap ada cara untuk menjaga semangat juang seperti saat mendukung tim favorit. Selamat menikmati!
Krisis Timnas Italia Berujung pada Pembicaraan dengan Dua Nama Besar
Paolo Maldini, legenda AC Milan dan mantan bek timnas Italia yang kini menjabat sebagai direktur teknis FIGC, secara terang-terangan mengonfirmasi bahwa federasi sepak bola Italia telah melakukan pembicaraan dengan Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti. Kedua pelatih top dunia itu disebut-sebut menjadi kandidat utama untuk menangani pelatih baru timnas Italia di tengah krisis panjang yang melanda Azzurri.
FIGC berharap bisa mengumumkan nama pelatih baru timnas Italia dalam sepekan ke depan. Tekanan semakin besar setelah Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Kekalahan dari Bosnia-Herzegovina di babak playoff Maret lalu membuat posisi presiden FIGC Gabriele Gravina dan pelatih Gennaro Gattuso jatuh, memicu perombakan total di tubuh federasi.
Pep Guardiola: Target Utama yang Sudah Ditemui Langsung
Maldini mengungkapkan bahwa dirinya bersama Leonardo, penasihat khusus FIGC, telah terbang ke Barcelona selama tiga hari untuk bertemu langsung dengan Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol itu meninggalkan Manchester City akhir musim lalu setelah 10 tahun penuh gelar, termasuk membawa City meraih trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dan mendominasi Premier League.
“Kami tidak bisa menyembunyikan bahwa kami juga sudah berbicara dengan Carlo Ancelotti sebelum menjajaki kemungkinan dengan Pep. Sejujurnya, kami merasa perlu memulai dari yang terbaik di dunia untuk melihat sejauh mana ketersediaan mereka,” ujar Maldini dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan klub-klub Serie A, Kamis lalu.
Prestasi Guardiola yang Membuat FIGC Kepincut
Guardiola, 55 tahun, telah memenangkan berbagai titel besar sepanjang karier kepelatihannya—mulai dari Barcelona, Bayern Munich, hingga Manchester City. Filosofi sepak bolanya yang menyerang dan inovatif dianggap mampu mengubah mentalitas timnas Italia yang tengah terpuruk. Namun, apakah Guardiola bersedia meninggalkan masa istirahat panjangnya untuk menangani skuad yang gagal di kualifikasi Piala Dunia? Maldini mengakui bahwa pembicaraan masih berlangsung dan “hal terbaik adalah mengumumkan pelatih baru minggu ini, tapi lebih penting lagi menunggu orang yang benar-benar kami inginkan.”
Carlo Ancelotti: Pilihan Berpengalaman dengan Kontrak Brasil
Nama Carlo Ancelotti juga menjadi sorotan. Pelatih asal Italia berusia 67 tahun itu saat ini masih terikat kontrak dengan timnas Brasil hingga Piala Dunia 2030. Namun, performa buruk Brasil di turnamen besar terakhir—tersingkir di babak 16 besar setelah kalah 2-1 dari Norwegia—membuat masa depan Ancelotti di Seleção mulai dipertanyakan. Meskipun demikian, Ancelotti baru saja menandatangani perpanjangan kontrak pada Mei lalu, sehingga FIGC harus bersiap dengan kemungkinan negosiasi yang rumit.
Ancelotti adalah satu-satunya pelatih yang telah memenangkan Liga Champions sebanyak lima kali, serta meraih gelar liga di Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Jerman. Pengalaman luasnya di level klub dan internasional menjadikannya kandidat ideal untuk membangun kembali kejayaan Italia, yang terakhir kali menjadi juara dunia pada 2006 dan juara Eropa pada 2021.
Kandidat Lain: Mancini, Conte, dan Pirlo Juga Masuk Daftar
FIGC tidak hanya membidik Guardiola dan Ancelotti. Mantan pelatih Italia, Roberto Mancini—yang membawa Azzurri menjuarai Euro 2020—serta Antonio Conte juga masih menjadi favorit untuk kembali menangani timnas. Nama Andrea Pirlo, yang sukses sebagai pemain di Piala Dunia 2006, juga disebut-sebut dalam bursa calon pelatih baru timnas Italia.
Krisis yang melanda Italia memang sudah berlangsung lama. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018, 2022, dan 2026 membuat federasi harus bertindak cepat. Gattuso diangkat pada Juni lalu menggantikan Luciano Spalletti setelah kekalahan dari Norwegia di laga pembuka kualifikasi, namun ia pun tak mampu memperbaiki keadaan. Kini, dengan masuknya Maldini sebagai direktur teknis, FIGC berharap langkah strategis ini mampu mengakhiri era kegagalan.
Kesimpulan: Segera Ada Keputusan, Tapi Kualitas Lebih Diutamakan
Paolo Maldini menegaskan bahwa meskipun ada urgensi untuk segera mengumumkan pelatih baru timnas Italia, pihaknya tidak mau terburu-buru dan lebih memilih menunggu figur yang benar-benar tepat. Pertemuan dengan Guardiola dan Ancelotti menunjukkan ambisi FIGC untuk mendatangkan pelatih kelas dunia. Dalam waktu dekat, publik sepak bola Italia akan mengetahui siapa yang dipercaya membangkitkan kembali kejayaan Azzurri.