Sepak bola berjalan atau walking football membawa Gemma Darvill ke peran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi pelatih tim nasional perempuan Parkinson pertama di Inggris. Guru sekolah dasar di Swallowfield Primary School, Woburn Sands, Milton Keynes itu kini bersiap terbang ke Toronto bersama skuadnya untuk memperkenalkan olahraga ini sebagai salah satu cara memperlambat perkembangan gejala Parkinson.
Kisah Darvill berakar pada pengalaman pribadinya sendiri. Ayahnya, Les, didiagnosis mengidap penyakit Parkinson pada usia 58 tahun dan sempat menutup diri dari kehidupan sosial. Delapan tahun setelah diagnosis itu, Darvill justru menemukan jalan hidup baru lewat sepak bola berjalan, sebuah disiplin olahraga yang kini ia yakini telah menyelamatkan hidup sang ayah.

Kisah Les: Sepak Bola Berjalan yang Menyelamatkan Hidup
Menurut data yang dilaporkan, sekitar 166.000 orang di Inggris hidup dengan penyakit Parkinson. Kondisi ini merupakan gangguan otak yang bersifat progresif dan belum ada obat yang bisa menyembuhkannya, meski perawatan yang diketahui sejauh ini dapat membantu mengurangi tingkat keparahan gejala utamanya.
Darvill mengingat betul bagaimana diagnosis itu mengubah hidup sang ayah. Ia mengaku bahwa olahraga berperan besar dalam memperlambat perkembangan penyakit Les. Menurutnya, sepak bola benar-benar menyelamatkan hidup ayahnya pada masa-masa paling sulit.
Pada awalnya, Les menolak keluar rumah. Ia yang dulunya memiliki tiket musiman klub Tottenham memilih melepaskannya begitu saja. Ia bahkan tidak memberi tahu teman-temannya tentang kondisinya, dan berhenti melakukan hampir semua aktivitas. Menjalani hidup sehari-hari, termasuk sekadar bangun dari tempat tidur, menjadi perjuangan berat baginya.
Titik balik terjadi ketika keluarga menemukan sebuah sesi latihan sepak bola. Les kemudian bergabung dengan Fighting Fit Football, tim yang berbasis di pusat latihan Watford. Darvill mengantar ayahnya ke sesi itu satu kali, dan sejak saat itu Les tak pernah menoleh ke belakang lagi. Pengalaman itulah yang membuat Darvill ingin memberi balik kepada komunitas yang sama, dengan membantu orang lain yang baru didiagnosis agar tahu bahwa masih ada kehidupan setelah diagnosis.
Dari Pinggir Lapangan ke Kursi Pelatih
Darvill bukan orang baru di dunia sepak bola. Ia sudah bermain sejak usia 10 tahun dan selalu menjalani dua peran sekaligus, sebagai pemain dan pelatih. Latar belakangnya sebagai guru juga membuat ia terbiasa menangani anak-anak, termasuk menjalankan kamp sepak bola selama masa libur sekolah.
Jalan menuju kursi pelatih terbuka secara tak terduga. Saat mendukung ayahnya di sebuah turnamen di St George’s Park, Darvill terlihat bersorak dari pinggir lapangan. Annie Booth, pendiri Parkinson’s Pioneers, langsung menghampirinya dan menanyakan apakah ia tertarik membantu membentuk tim tersebut. Bagi Darvill, menerima tawaran itu terasa wajar karena membantu orang lain sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Perkembangan Parkinson’s Pioneers pun di luar dugaan. Pada sesi latihan pertama, hanya ada tiga orang yang hadir. Kini jumlah peserta perempuan yang datang ke sesi latihan telah menembus angka 40 orang, sebuah lonjakan yang luar biasa. Bahkan, keanggotaan komunitas ini tercatat meningkat sepuluh kali lipat dalam kurun waktu lebih dari tiga tahun.
Bagi para pesertanya, latihan bukan sekadar aktivitas fisik. Sesi ini juga berfungsi sebagai jaringan sosial, karena setelah berlatih semua orang tinggal sebentar untuk makan bersama dan berbincang. Mereka saling berbagi cerita tentang gejala yang dialami dan cara masing-masing menghadapinya. Darvill menggambarkan komunitas ini sebagai keluarga besar, tempat setiap orang saling membantu.
Solihull, Titik Temu dari Berbagai Penjuru
Pemilihan Solihull sebagai lokasi latihan bukan tanpa alasan. Para peserta datang dari berbagai wilayah di Inggris, mulai dari Manchester hingga Devon, sementara Darvill sendiri datang dari Milton Keynes. Solihull dipilih karena dianggap sebagai lokasi paling strategis dan paling adil bagi semua orang yang harus menempuh perjalanan jauh.
Karena itu, pertemuan rutin hanya digelar sekitar sekali sebulan. Selain berlatih bersama, tim ini juga aktif mengikuti berbagai turnamen sebagai bagian dari upaya menjaga kebugaran sekaligus mempererat kebersamaan.
Aturan Khusus dan Pendampingan Fisioterapi
Sepak bola berjalan memiliki sejumlah perbedaan aturan dibandingkan sepak bola pada umumnya. Dalam permainan ini lari tidak diperbolehkan, begitu pula keberadaan offside, sundulan, dan lemparan ke dalam. Pertandingan juga berlangsung tanpa kontak fisik antarpemain.
Dari sisi taktik, Darvill menilai prinsipnya secara umum tetap sama. Perbedaannya terletak pada cara merebut bola: tekel dari samping atau dari belakang tidak diperbolehkan dan harus dilakukan berhadapan langsung. Aturan ini penting karena setiap orang dengan Parkinson memiliki tingkat keparahan kondisi yang berbeda-beda, sehingga elemen berjalan membantu menjaga keselamatan semua pemain.
Peran Fisioterapis Spesialis Parkinson
Tim ini juga didukung seorang fisioterapis yang secara khusus menangani pasien Parkinson. Kehadirannya sangat membantu, terutama dalam memandu pemanasan dan pendinginan agar setiap peserta mendapatkan penanganan yang sesuai kebutuhan tubuhnya.
Aktivitas fisik seperti ini juga merangsang otak untuk memikirkan hal lain di luar gejala penyakit. Darvill mencontohkan salah satu peserta yang kesulitan berjalan lurus, tetapi mampu melewati sebuah tangga latihan olahraga ketika alat itu diletakkan di depannya. Fenomena semacam itu ia nilai sangat menarik karena menunjukkan bagaimana olahraga dapat membantu kerja otak dan tubuh secara bersamaan.
Dampak bagi Komunitas dan Masa Depan Olahraga
Pertumbuhan Parkinson’s Pioneers membuat Darvill menjadi pilihan alami ketika Walking Football Association (WFA) meluncurkan tim nasional perempuan Parkinson pertama untuk Inggris melalui serangkaian seleksi pada tahun lalu. Ia kemudian ditunjuk sebagai pelatih tim tersebut.
Pada Agustus tahun ini, WFA dan Football Association (FA) mengumumkan kemitraan baru. Dalam kerja sama itu, FA ditetapkan sebagai badan pengatur sepak bola berjalan di Inggris, sementara WFA berperan sebagai mitra pelaksana. Kolaborasi ini antara lain bertujuan menyederhanakan proses registrasi wasit dan menyepakati satu set aturan yang seragam.
Menurut Darvill, langkah tersebut merupakan perkembangan positif karena kedua pihak kini bergerak lebih dekat satu sama lain. Penyatuan aturan dan administrasi berpotensi mempermudah penyelenggaraan kompetisi serta mempercepat pertumbuhan olahraga ini di berbagai level.
Tim Inggris yang ia tangani bermain dengan format enam lawan enam. Rentang usia para pemainnya cukup lebar, yakni antara 36 hingga 66 tahun. Sejauh ini mereka telah menggelar sesi latihan di Watford, Droitwich, dan Bedford sebelum bersiap menyeberangi Atlantik.
Misi ke Toronto: Menyebarkan Kesadaran
Tim perempuan Parkinson Inggris akan bertolak pada hari Sabtu untuk menghabiskan satu minggu di Toronto. Mereka bergabung dengan tim Parkinson pria Inggris dalam perjalanan bersejarah ke Kanada, yang dirancang sebagai ajang peragaan manfaat sepak bola berjalan sekaligus serangkaian pertandingan persahabatan undangan.
Untuk membiayai perjalanan tersebut, kedua tim melakukan penggalangan dana secara kolektif. Halaman penggalangan dana pribadi Darvill telah mengumpulkan lebih dari £400, sementara halaman penggalangan dana bersama untuk tim pria dan wanita berhasil menghimpun lebih dari £17.000.
Selama di Kanada, tim ini dijadwalkan menghadapi dua tim Amerika, yakni tim sepak bola berjalan perempuan kategori di atas 40 tahun dan di atas 60 tahun yang beranggotakan pemain non-disabilitas. Mereka juga akan melakoni pertandingan melawan beberapa tim pria. Selain itu, akan digelar hari penggalangan dana untuk Parkinson, di mana tim akan memimpin sesi latihan sendiri, menyiapkan sejumlah drill pembinaan, dan mengajak peserta bersenang-senang demi menarik sebanyak mungkin orang di Kanada untuk terlibat.
Darvill menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan ini adalah meningkatkan kesadaran tentang Parkinson di Kanada dan membantu mereka yang hidup dengan kondisi tersebut. Melalui peragaan apa yang mereka lakukan, tim berharap dapat menjangkau lebih banyak orang yang mungkin belum tahu bahwa olahraga ini bisa menjadi bagian dari penanganan penyakit mereka.
Penutup
Perjalanan Gemma Darvill menunjukkan bagaimana sebuah pengalaman pribadi bisa berkembang menjadi gerakan yang jauh lebih luas. Berawal dari keinginan membantu ayahnya keluar dari keterpurukan, ia kini memimpin tim nasional perempuan Parkinson pertama di Inggris dan membawa misi tersebut hingga ke Toronto. Rasa terima kasihnya kepada sepak bola berjalan terus menjadi pendorong utama untuk membantu orang lain dengan kondisi serupa.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa dukungan sosial dan aktivitas fisik yang terarah dapat memberi dampak besar bagi kualitas hidup penderita Parkinson. Dengan aturan yang lebih aman, pendampingan fisioterapi khusus, dan komunitas yang saling menguatkan, sepak bola berjalan membuktikan bahwa diagnosis bukanlah akhir dari segalanya.