Berita bola

Politik Sepak Bola Brasil di Balik Pemilu yang Kacau

Politik sepak bola Brasil kembali menjadi lensa utama untuk memahami pemilu yang berlangsung kacau dan penuh ketegangan. Dalam pandangan yang diuraikan kolom Jonathan Liew, kontestasi kali ini bukan sekadar pertarungan program politik, melainkan pertunjukan simbol, identitas, dan narasi yang saling bertabrakan. Sepak bola berada tepat di tengahnya karena mampu menjelaskan sekaligus mencerminkan perpecahan masyarakat Brasil.

Kolom itu menggambarkan pemilu Brasil sebagai peristiwa yang getir, memecah belah, surealis, dan dipenuhi fakta yang dipertengkarkan. Suasana tersebut membuat berita palsu terdengar benar, sementara berita benar justru sering terdengar palsu. Dalam konteks itulah sepak bola muncul bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai bahasa politik yang sangat efektif.

Klaim Pulau Richarlison dan Kontroversi di Tengah Pemilu

Salah satu episode yang menyita perhatian adalah klaim Richarlison tentang sebuah pulau di lepas pantai selatan Rio de Janeiro. Menurut kolom tersebut, pesepakbola itu mengaku membeli pulau beberapa tahun lalu dan memiliki dokumen untuk membuktikannya. Ia kemudian menyatakan bahwa Flávio Bolsonaro, yang digadang-gadang menjadi presiden berikutnya setelah pemilu Minggu malam, berusaha membeli pulau itu darinya.

Richarlison mengklaim bahwa setelah ia menolak, seorang pengacara bernama Willer Tomaz datang dan mengambil alih pulau tersebut. Dalam video Instagram yang telah ditonton lebih dari 31 juta kali, ia mengatakan bahwa pihak lain mengambil pulau itu tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Tomaz membantah dan menuduh Richarlison berbohong, dengan alasan ia memiliki akta publik yang terdaftar di kantor notaris.

Flávio Bolsonaro sendiri membantah memiliki keterkaitan dengan pulau yang dimaksud dan menyebut intervensi Richarlison sebagai langkah bermotif politik. Kasus ini tidak serta-merta membuktikan apa pun, tetapi ia memperlihatkan bagaimana pemilu Brasil dipenuhi klaim yang saling bertentangan. Dalam suasana seperti itu, batas antara fakta, rumor, dan konten hiburan menjadi kabur.

Renan Santos, salah satu kandidat presiden yang tersingkir pada putaran pertama, menyebut Brasil kini seperti tempat distopia. Menurut dia, orang tidak lagi membicarakan kebijakan publik, melainkan hanya membuat konten hiburan tentang politik. Pernyataan itu relevan karena menunjukkan bagaimana politik telah berubah menjadi tontonan yang sulit dipisahkan dari selebritas dan sepak bola.

Politik Sepak Bola Brasil dan Jersey Kuning yang Dipolitisasi

Dalam analisis itu, Jair Bolsonaro, ayah Flávio, disebut berupaya keras mempolitisasi jersey kuning tim nasional Brasil. Ia memakai jersey itu di berbagai rally dan menjadikannya semacam lambang kampanye. Langkah tersebut bukan tanpa dukungan: sejumlah pesepakbola ternama, seperti Neymar, Ronaldinho, Rivaldo, Dani Alves, Thiago Silva, dan Lucas Moura, secara eksplisit maupun diam-diam bersekutu dengan kubu itu.

Daya tarik keluarga Bolsonaro di kalangan pesepakbola sebagian dapat dijelaskan oleh besarnya pengaruh komunitas Kristen evangelis di Brasil. Kolom itu mencatat bahwa 20 dari 26 pemain dalam skuad Brasil pada Piala Dunia musim panas berasal dari komunitas tersebut. Banyak di antara mereka pengikut neo-Pentakostalisme, cabang evangelisme yang sangat komersial, digerakkan oleh pengkhotbah TV 24 jam, megachurch, dan pameran kekayaan material yang mencolok.

Dalam pandangan dunia itu, individu dipandang sebagai arsitek nasibnya sendiri. Basis utama kedua Bolsonaro adalah lelaki muda urban yang merasa tidak puas dan tidak tertarik pada kenaikan upah minimum atau program kesejahteraan yang dibangun Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Mereka tidak bermimpi tentang keanggotaan serikat pekerja, tetapi tentang kewirausahaan dan pengaruh sebagai influencer.

Mereka memandang masyarakat sebagai permainan dengan pemenang dan pecundang, bukan sebagai perjuangan kolektif. Tujuan politik, dalam kerangka itu, bukan membangun ketertiban, melainkan menaklukkan kekacauan. Cara pandang ini menjelaskan mengapa pesan sepak bola yang individualistis dan kompetitif begitu mudah menyatu dengan retorika politik sayap kanan.

Neymar, Ikon Influencer, dan Daya Tarik Individualisme

Neymar menjadi contoh paling jelas bagaimana sepak bola Brasil terhubung dengan politik budaya pemilu. Saat ini ia menghabiskan sisa kariernya di Santos, dan dalam kolom itu ia tidak digambarkan sebagai peringatan tentang bakat besar yang terbuang. Sebaliknya, ia dipandang sebagai pahlawan aspirasional yang berhasil mengumpulkan kekayaan dan ketenaran jauh melampaui bayangan banyak orang.

Citra Neymar dibangun di atas sikap tidak minta maaf, kemenangan pribadi, dan kemampuan menikmati kekacauan dengan kedipan mata. Dalam dunia yang menghargai pengaruh dan kekayaan, gaya seperti itu bukan aib, melainkan model kesuksesan. Karena itu tidak mengherankan bila Neymar secara publik mendukung Bolsonaro muda sebelum pemilu.

Kolom itu menempatkan Neymar sebagai cermin nilai yang lebih luas: kemenangan di atas proses, kapital di atas solidaritas, dan citra di atas kebijakan. Bagi sebagian pemilih muda, sosok seperti ini terasa lebih dekat daripada janji-janji negara kesejahteraan. Sepak bola pun berubah dari cerita tentang tim menjadi cerita tentang individu yang menaklukkan dunia.

Larangan Taruhan Online dan Benturan dengan Klub

Medan pertarungan yang lebih keras justru muncul di level klub, bukan hanya di kalangan pemain. Bulan lalu Lula memicu kemarahan dunia sepak bola Brasil dengan melarang taruhan olahraga, di negara yang sekitar 7% penduduknya mengalami masalah perjudian. Larangan itu menyentuh sumber pendapatan penting karena 14 dari 20 klub di divisi teratas Brasil mengiklankan situs taruhan online di jersey mereka.

Pesepakbola bintang seperti Neymar dan Vinícius Júnior juga meraup penghasilan besar dari endorsemen perusahaan judi. Presiden Flamengo, Luiz Eduardo Baptista, sampai mengeluh dalam sebuah podcast tentang bagaimana ia akan membayar Lucas Paquetá. Keluhan itu menunjukkan betapa dalamnya ketergantungan klub pada uang taruhan, sehingga kebijakan publik langsung berdampak pada anggaran dan kompetisi.

Bolsonaro mengkritik larangan tersebut dan memberi sinyal bahwa ia mungkin terbuka untuk membalikkannya jika terpilih. Dalam konteks pemilu, isu ini menjadi garis pemisah antara campur tangan negara dan kebebasan industri. Bagi klub, taruhan adalah napas finansial; bagi pemerintah, ia adalah persoalan sosial yang harus dikendalikan.

Pertanyaan Sepak Bola yang Sama dengan Pertanyaan Demokrasi

Dalam analisis itu, garis pemisah pemilu Brasil sebenarnya mirip dengan pertanyaan lama dalam sepak bola. Apakah permainan ini soal tim atau kendaraan kehendak individu? Apakah yang dikejar adalah aroma kemenangan, kepastian menang-kalah, panen pujian dan kapital, serta kepuasan menginjak lawan? Ataukah sepak bola juga bisa menjadi ekspresi kehendak kolektif, kebanggaan sipil dan regional, representasi, inklusivitas, dan tujuan yang lebih besar dari diri sendiri?

Brasil modern sangat sensitif terhadap pertanyaan-pertanyaan itu karena hidup dalam bayang-bayang kemunduran. Pada 2030, sudah 28 tahun sejak tim pria Brasil menjuarai Piala Dunia, sementara negara itu masih belum memiliki sistem akademi nasional atau program pengembangan pemuda yang standar. Federasi sepak bola nasional telah dipimpin delapan orang sejak 2012, dan para pemain tersebar ke seluruh dunia seperti pengusaha tunggal.

Kolom itu juga mengingatkan bahwa sepak bola tidak hanya menyatukan, tetapi bisa memecah belah. Permainan ini dapat mencerminkan sisi terburuk manusia: keserakahan, dendam, kegemaran akan konflik, dan hiburan picik. Di Brasil, Piala Dunia Wanita akan digelar pada musim panas mendatang, dan Lula berupaya mempercepat profesionalisasi sepak bola wanita, sementara Bolsonaro hanya bersuara untuk menentang atlet trans di olahraga wanita.

Di tengah badai itu, beberapa suara kritis tetap muncul. Raphinha membagikan unggahan tentang hak pekerja dan keadilan sosial, sedangkan Richarlison berjanji menyumbangkan sebagian uang yang ia keluarkan untuk pulau itu jika berhasil didapat kembali untuk rumah sakit di kampung halamannya, Nova Venécia. Juninho Pernambucano dan Rai termasuk mantan pemain yang menentang keluarga Bolsonaro, sementara pesepakbola wanita seperti Carlinha dan Tayla Carolina memakai platform mereka untuk melawan sayap kanan.

Politik sepak bola Brasil dalam pemilu ini bukan sekadar soal jersey kuning, dukungan bintang, atau larangan taruhan. Ia memperlihatkan bagaimana sepak bola dapat menjadi cermin keserakahan, ambisi, dan perpecahan sebuah bangsa, tetapi sekaligus ruang bagi suara-suara yang menolak arus utama. Di tengah krisis kepercayaan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang menang, melainkan apakah demokrasi masih bisa dirawat.

Seperti pulau dalam kisah Richarlison, demokrasi bisa terasa seperti tempat yang pernah dimiliki, lalu tiba-tiba hilang tanpa kepastian apakah ia benar-benar pernah ada. Kolom itu menutup dengan peringatan yang pahit: ketika segalanya berubah menjadi tontonan, kehilangan yang paling besar sering kali tidak disadari sampai terlambat. Karena itu, membaca sepak bola Brasil berarti juga membaca arah politik dan masa depan demokrasinya.

Exit mobile version