Berita bola

Kazim-Richards dan Tantangan Plafon Kaca di Crawley

Colin Kazim-Richards tidak menutup mata terhadap beratnya tugas yang diembannya. Pelatih kepala Crawley Town itu harus membenahi tim yang terpuruk di dasar klasemen League Two setelah tujuh pertandingan pertama musim ini. Meski begitu, Kazim-Richards yakin bahwa hasil buruk yang terlihat sekarang hanya sebagian kecil dari gambaran yang sebenarnya.

Kazim-Richards datang ke Crawley bersama asistennya, Julian Gray, pada Maret lalu. Keduanya berhasil menyelamatkan klub dari degradasi ke National League pada hari terakhir kompetisi, sebuah penyelamatan dramatis yang membuat mereka dipercaya melanjutkan proyek tersebut. Dalam perbincangan di pusat latihan Crawley di Sussex pada sebuah sore menjelang akhir musim panas, ia membeberkan tantangan yang dihadapi dan alasan mengapa posisi di klasemen tidak bercerita utuh.

Kazim-Richards: Hasil Belum Mencerminkan Proses

Menurut Kazim-Richards, persoalan utamanya bukan pada kurangnya usaha, melainkan pada waktu yang dibutuhkan agar prosesnya mulai terlihat. Ia menegaskan bahwa hasil pertandingan memang belum mencerminkan pekerjaan yang sudah dilakukan timnya sejauh ini. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi “apakah”, melainkan “kapan” proses tersebut mulai berbuah.

Penyebabnya cukup jelas: skuad Crawley mengalami perombakan besar-besaran. Ada 16 pemain baru yang direkrut, sementara delapan hingga sembilan pemain menjalani debut bersama klub. Kondisi ini membuat hubungan antarpemain di lapangan masih dalam tahap pembentukan, dan hal seperti itu tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari.

Ia juga menyoroti bahwa timnya harus melewati warisan mentalitas buruk dari musim sebelumnya. Jumlah pemain yang masuk dan keluar dalam jumlah besar membuat pekerjaan ini jauh dari sekadar proses satu, dua, atau tiga pekan. Menurutnya, membangun ulang sebuah klub menuntut kesabaran yang jarang diberikan di sepak bola profesional.

Bukan Sekadar Urusan Taktik di Lapangan

Kazim-Richards menjelaskan bahwa tugas seorang manajer jauh lebih luas daripada yang dibayangkan banyak pemain. Ia harus mengejar hasil sekaligus menjalankan proses yang diinginkannya, dua hal yang sering kali saling bertabrakan. Perekrutan pemain, menyatukan karakter dan mentalitas, serta menerapkan struktur dan standar baru di dalam klub menjadi bagian dari pekerjaan itu.

Semua upaya tersebut, katanya, pada akhirnya tetap dinilai dari satu hal saja: hasil pertandingan. Ia mengaku sadar betul akan kenyataan itu dan menyebutnya sebagai sesuatu yang tengah diupayakan untuk diubah. Pernyataannya memberi gambaran bahwa persoalan Crawley tidak semata soal taktik di atas lapangan, melainkan juga soal membangun ulang budaya klub secara menyeluruh.

Pekerjaan itu juga mencakup sisi di luar urusan sepak bola, mulai dari menata cara kerja klub hingga menetapkan standar baru yang berlaku bagi semua orang. Baginya, fondasi semacam ini penting agar hasil yang dicapai nanti tidak bersifat sementara. Namun ia paham betul bahwa semua proses itu tidak akan berarti apa-apa bila tidak diikuti hasil nyata.

Dua Sosok dari Akademi Arsenal

Kazim-Richards dan Gray memiliki akar yang sama, yakni akademi Arsenal, meski keduanya menempuh jalur yang berbeda. Gray merupakan bagian dari skuad tim utama pada periode 1996 hingga 2000 dan mencatatkan satu penampilan. Kazim-Richards, yang tujuh tahun lebih muda, tidak pernah menembus tim utama, tetapi mengikuti perkembangan Gray dari kejauhan.

Bagi Kazim-Richards, Gray adalah sosok panutan. Ia mengaku ingin menjadi seperti Gray karena pemain itu berasal dari wilayah yang sama dengannya dan berhasil menembus tim utama Arsenal. Yang membuatnya kagum bukan hanya cara bermain Gray, tetapi juga auranya, kehalusan tekniknya, dan semangat juang yang ia tunjukkan.

Gray sendiri pernah membela sejumlah klub seperti Crystal Palace, Coventry, dan Fulham. Ia juga berpengalaman melatih kelompok usia muda di akademi Hale End milik Arsenal serta di Birmingham, salah satu klub yang pernah ia bela. Pria berusia 47 tahun itu menyebut pengalaman tersebut sebagai bekal berharga yang kini ia terapkan di Crawley.

Menurut Gray, melatih di berbagai level membuatnya belajar banyak hal sekaligus menantang dirinya sendiri. Ia selalu percaya bahwa tujuan melatih adalah membantu pemain menjadi lebih baik dan mewariskan pengetahuan serta pengalamannya, terlepas dari kelompok usianya. Baginya, tugas utama seorang pelatih adalah memahami kebutuhan pemain terlebih dahulu sebelum memberikan informasi yang tepat, karena hasilnya bisa berbeda-beda tergantung pada pemain itu sendiri.

Bayang-Bayang Masa Kelam di Broadfield Stadium

Crawley bukan klub yang asing dengan gejolak. John Yems, yang menangani klub antara 2019 dan 2022, dijatuhi larangan tiga tahun dari seluruh aktivitas yang berkaitan dengan sepak bola oleh FA. Ia dinyatakan bersalah atas 12 pelanggaran aturan anti-diskriminasi, menjadikannya larangan terpanjang yang pernah diberikan kepada seorang peserta di sepak bola Inggris untuk kasus diskriminasi.

Setelah periode kelam itu, tahun lalu terjadi pergantian kepemilikan di Broadfield Stadium. KB Sports and Leisure, yang dipimpin Raphael Khalili, mengambil alih kendali klub. Khalili kemudian menunjuk Kazim-Richards, yang saat itu sedang melatih di akademi Arsenal, untuk memimpin tim.

Penunjukan itu membawa konsekuensi yang lebih besar dari sekadar urusan teknis di lapangan. Kazim-Richards menjadi pelatih kepala kulit hitam ketiga di empat divisi teratas sepak bola Inggris. Dua nama lainnya adalah Nuno Espírito Santo di West Ham dan Lee Grant di Walsall.

Plafon Kaca dan Pelajaran dari Kasus Jermain Defoe

Ketika ditanya apakah plafon kaca masih ada, Kazim-Richards menjawab dengan tegas: tentu saja. Ia menilai masih banyak pelatih kulit hitam berkualitas yang layak mendapatkan kesempatan, tetapi belum memperolehnya. Karena itu, ia menegaskan sejak awal bahwa Gray harus menjadi asistennya ketika membicarakan posisi pelatih Crawley dengan Khalili.

Isu ini kembali mencuat setelah mantan penyerang timnas Inggris, Jermain Defoe, dipecat oleh klub National League Woking. Defoe hanya bertahan empat bulan dengan enam pertandingan sebagai pelatih. Kazim-Richards mengenal Defoe karena keduanya mengambil lisensi kepelatihan bersama, sehingga ia memahami betul konteks pemecatan tersebut.

Meski percaya bahwa plafon kaca memang ada, Kazim-Richards khawatir kasus Defoe bisa disimpulkan secara keliru. Ia mengaku belum berbicara dengan Defoe, tetapi menyoroti bahwa banyak hal tak terduga terjadi di level ini dan di bawahnya. Ia menolak pemecatan itu dijadikan bukti bahwa pelatih kulit hitam gagal, karena pelatih kulit putih pun sering mengalami hal serupa.

Menurutnya, kesimpulan seperti itu tetap akan ditulis karena Defoe adalah figur besar, seorang kulit hitam, dan vokal menyuarakan sejumlah persoalan. Namun ia juga melihat sisi positif: saat ini cukup banyak pelatih kulit hitam muda yang berkarier di akademi maupun di sepak bola non-liga dengan performa yang baik.

Modal Pengalaman dan Target Menuju Championship

Meski ini merupakan peran manajerial pertamanya, Kazim-Richards datang dengan pengalaman puluhan tahun sebagai pemain. Ia pernah membela klub-klub besar seperti Fenerbahce dan Galatasaray, dan melalui garis keturunan dari pihak ibunya ia memenuhi syarat untuk memperkuat timnas Turki. Pria berusia 40 tahun itu berkomitmen memanfaatkan seluruh pengalaman tersebut bersama Gray.

Sasaran utamanya adalah membawa Crawley promosi ke Championship, yang juga menjadi ambisi inti para pemilik klub. Dalam jangka pendek, fokusnya adalah meraih hasil demi merangkak naik, sebelum berbicara soal pencapaian yang lebih besar. Ia menekankan bahwa semua itu tidak bisa diraih hanya dengan sekali jentikan jari.

Ia mengakui bahwa timnya memang membutuhkan waktu. Kazim-Richards memandang periode ini sebagai awal perjalanan, namun ia yakin Crawley bisa melangkah jauh dan mencapai target yang telah ditetapkan. Karena itu, ia berharap klub dan pendukung mau memberi kesempatan tersebut.

Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi di sepak bola modern waktu termasuk barang yang paling langka. Tekanan untuk meraih hasil instan sering kali membuat proyek jangka panjang berhenti di tengah jalan. Bagi Kazim-Richards, justru di situlah tantangan terbesarnya: menjaga proses tetap berjalan sambil tetap menghadirkan angka-angka yang dibutuhkan.

Bagi Kazim-Richards, posisi di dasar klasemen League Two bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Dengan 16 pemain baru, sejumlah pemain yang baru menjalani debut, dan warisan mentalitas musim lalu, pekerjaan yang dihadapinya lebih menyerupai pembangunan ulang ketimbang sekadar memperbaiki hasil. Keyakinannya bertumpu pada proses yang tengah berjalan dan pengalaman panjang yang ia bawa bersama Gray.

Sejauh mana proses itu berbuah masih harus dibuktikan di lapangan, tetapi ambisi Crawley untuk kembali ke Championship dan persoalan plafon kaca bagi pelatih kulit hitam tetap melekat pada perjalanan Kazim-Richards. Yang ia minta sederhana: waktu untuk membuktikan bahwa penunjukannya bukan sekadar simbol, melainkan langkah nyata menuju perubahan.

Exit mobile version