Sejumlah fans Manchester City berubah menjadi pembela paling vokal bagi klub sekaligus pemiliknya, bahkan ketika komisi independen menyatakan klub itu bersalah atas semua tuduhan serius yang diarahkan kepada mereka. Alih-alih menerima temuan laporan yang merinci pelanggaran tersebut secara panjang lebar, banyak dari mereka memilih bertahan di sisi klub dan menyerang siapa pun yang dianggap mengancam reputasinya. Sikap itu muncul dalam bentuk sindiran tajam, makian, dan pembelaan tanpa syarat di media sosial maupun forum daring.
Perdebatan ini mencuat setelah kasus terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris memasuki pekan kedua. Nama Liam Gallagher, vokalis Oasis yang dikenal sebagai pendukung berat City, ikut terseret ke pusat perhatian. Ketika ditanya soal fans rival yang menginginkan City kehilangan seluruh trofinya, ia merespons dengan kalimat kasar bernada mengejek di media sosial. Respons itu hanya satu dari puluhan komentar bernada serupa, yang semuanya bertumpu pada satu keyakinan: City pasti akan menemukan cara untuk lolos dari hukuman.

Reaksi Fans Manchester City dan Gelombang Pembelaan di Forum Daring
Gallagher jelas tidak berdiri sendiri. Di Bluemoon, forum terbesar pendukung City, nada pembelaan yang muncul tak kalah keras, meski diselingi humor gelap khas orang yang sedang terjepit. Salah satu pengguna bertanya dengan sinis apakah mereka sudah dituduh menenggelamkan kapal Titanic. Pengguna lain menulis dengan nada bercanda bahwa Manchester City berada di balik pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Ada pula yang menilai persoalan ini bukan sekadar bentrokan antara Premier League dan City, melainkan pertarungan memperebutkan hati, jiwa, dan masa depan sepak bola.
Skala percakapan itu luar biasa. Forum tersebut tercatat memiliki lebih dari 192.000 unggahan sejak tuduhan pertama terhadap City muncul pada 2023. Dalam diskusi-diskusi itu, Premier League, klub-klub rival yang dianggap iri, serta media massa menjadi sasaran kritik yang gencar. Namun di tengah gemuruh pembelaan tersebut, ada satu hal yang mencolok: keengganan sebagian fans untuk mengakui adanya pelanggaran, atau melayangkan kritik kepada pemilik klub.
Keengganan itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan loyalitas buta atau keinginan menunggu proses banding klub selesai. Alasannya jauh lebih rumit dan menarik daripada sekadar solidaritas suporter biasa, terutama jika melihat perjalanan panjang hubungan antara klub, kota, dan pemiliknya.
Latar Belakang: Dari Bayang-Bayang United ke Era Abu Dhabi
Selama puluhan tahun, pendukung City hidup dalam bayang-bayang keberhasilan Manchester United, klub sekota yang jauh lebih dominan. Situasi itu berubah total setelah Abu Dhabi United Group menanamkan dana besar ke dalam klub, yang dampaknya tidak hanya terasa di lapangan, tetapi juga mengubah wajah kota Manchester secara fisik. Wajar bila sebagian fans kemudian sulit menerima gagasan bahwa semua pencapaian itu dibangun di atas dasar yang rapuh selama proses hukum berjalan.
Namun kini, alasan untuk tetap menutup mata jauh lebih tipis. Laporan komisi independen telah memaparkan pelanggaran tersebut secara terperinci, sehingga dalih ketidaktahuan atau ketidakjelasan tidak lagi bisa dipertahankan. Pertanyaannya kemudian bergeser: apa sebenarnya yang membuat sebagian pendukung tetap menolak menerima kenyataan itu?
Riset Colm Kearns: Ketika Loyalitas Klub Berubah Jadi Pembelaan Rezim
Akademisi asal Irlandia, Colm Kearns, menawarkan penjelasan yang cukup menohok. Menurutnya, Uni Emirat Arab tidak hanya membawa kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membangun ikatan emosional dengan fans City, tetapi juga berhasilmenarik sebagian basis pendukung klub untuk menjadi pembela agresif rezim mereka. Artinya, loyalitas terhadap klub telah bergeser menjadi pembelaan terhadap kepentingan politik dan reputasi pemiliknya.
Pada 2023, Kearns bersama rekan-rekannya menganalisis sejumlah besar unggahan dari pendukung City yang tersebar selama bertahun-tahun. Temuan mereka menunjukkan bahwa sebagian fans bukan hanya mengabaikan pelanggaran etis yang dilakukan grup pemilik, tetapi juga mencela, dan dalam beberapa kasus menyerang, pihak-pihak yang mengkritik grup tersebut. Pola ini menggambarkan bagaimana ikatan emosional terhadap klub dimanfaatkan untuk melindungi citra pemilik dari sorotan publik.
Dampaknya bahkan merambah ke ruang redaksi. Kearns mengungkapkan bahwa sejumlah jurnalis olahraga melakukan penyensoran terhadap diri sendiri karena tekanan dan serangan daring dari fans City. Menurutnya, ada pihak yang melacak identitas pengkritik melalui akun media sosial pribadi mereka, lalu meneruskan temuan itu kepada atasan pengkritik dengan tujuan menimbulkan masalah. Praktik semacam ini menciptakan efek jera yang membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum mengangkat isu tersebut.
Media Sosial dan Lahirnya Tribalisme Baru di Dunia Sepak Bola
Faktor besar lain yang memperkuat fenomena ini adalah media sosial dan cara kita mengonsumsi olahraga hari ini. Tiga puluh tahun lalu, sebagian besar fans City tinggal di sekitar Manchester dan bertemu pendukung klub lain di tempat kerja atau di pub, sehingga perbedaan pandangan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, mereka bisa menghabiskan waktu di ruang daring yang seluruh penghuninya mendukung klub yang sama.
Kearns menilai kondisi itu membuat fans menjadi lebih picik secara tribal dibandingkan sebelumnya, dan lebih enggan melihat persoalan dari sudut pandang di luar klub mereka sendiri. Para akademisi juga mengenal istilah lingkaran penggemar olahraga, di mana pendukung di berbagai belahan dunia semakin mudah digerakkan dan dengan gigih membela atlet atau tim favoritnya. Fenomena yang tumbuh dari budaya pop dan musik Asia Timur itu membuat suporter terfokus tajam pada kelompoknya sendiri, tetapi sama sekali tidak mendorong percakapan ringan, titik temu, atau kompromi.
Dalam kasus City, Kearns menduga sebagian fans menempatkan klub di atas kepentingan sepak bola secara keseluruhan. Ia merujuk sebuah unggahan di Reddit yang menyatakan bahwa penulisnya adalah fans City terlebih dahulu, dan penggemar sepak bola baru nomor dua. Meski begitu, ia mengakui sulit mengetahui berapa banyak pengguna daring yang sebenarnya tidak tinggal di Manchester atau tidak pernah menonton langsung ke stadion, sehingga merasa perlu membuktikan kredibilitas mereka dengan membela klub mati-matian.
Apa Artinya bagi Masa Depan Sepak Bola
Pertanyaan tentang ke mana arah semua ini menjadi menarik untuk dicermati. Jika ada miliarder teknologi berhaluan kanan jauh yang ingin membeli klub olahraga sukses, bukankah menguntungkan baginya mengetahui bahwa basis pendukung klub tersebut menyimpan potensi pasukan pembela reputasi? Logika semacam itu memperlihatkan bahwa kekuatan fans tidak hanya bernilai secara komersial, tetapi juga sebagai tameng citra bagi pemiliknya.
Di sisi lain, reaksi dari pendukung klub lain menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut City. Setelah menelusuri berbagai forum pendukung klub lain, mayoritas menyambut baik putusan bersalah tersebut. Sebagian di antara mereka tetap meragukan apakah City akan benar-benar dihukum secara setimpal, mengingat hubungan antara Abu Dhabi dan pemerintah Inggris.
Salah satu pendukung klub rival menulis bahwa begitu seseorang kehilangan kepercayaan bahwa aturan berlaku setara, sepak bola berubah menjadi sesuatu yang lain. Menurutnya, setiap gelar dan setiap pertandingan kini disertai tanda tanya besar, dan ia merasa dicurangi sebagai salah satu korban. Perasaan itulah yang kemudian membuatnya membenci Manchester City.
Sebagian orang akan setuju dengan pandangan tersebut, sementara sebagian lain mengangkat alis. Namun ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah pendukung klub rival itu akan bersikap sama jika posisi mereka yang berada di garis tembakan?
Kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan Manchester City jauh melampaui soal pelanggaran aturan finansial atau perebutan trofi. Ada pergeseran cara fans memaknai identitas klub, di mana kesetiaan terhadap tim bisa berubah menjadi pembelaan terhadap kepentingan pemilik yang jauh lebih besar. Selama media sosial terus memperkuat ruang gema antar pendukung, dan selama jurang antara penggemar di stadion dan penggemar di dunia maya tetap lebar, sikap defensif semacam ini kemungkinan akan terus muncul di sepak bola modern.
Yang tersisa adalah pertanyaan tentang masa depan permainan itu sendiri. Ketika kepercayaan bahwa aturan berlaku sama bagi semua pihak mulai luntur, nilai setiap gelar dan setiap pertandingan pun ikut terguncang. Dan pertanyaan reflektif di akhir artikel ini tetap relevan: bagaimana reaksi kita jika klub yang kita dukung berada di posisi yang sebaliknya?