Kembalinya Coventry ke Premier League setelah penantian 25 tahun justru berubah menjadi mimpi buruk. Empat pertandingan pertama musim ini berakhir dengan empat kekalahan sekaligus tanpa satu gol pun yang tercipta, dan yang terbaru adalah kekalahan 5-0 di kandang sendiri saat menjamu Brighton. Rentetan itu langsung menyeret tim asuhan Frank Lampard ke dalam daftar rekor buruk yang tidak ingin dicatat oleh klub mana pun.
Coventry datang ke kasta tertinggi Inggris sebagai juara Championship setelah menjalani kampanye yang dominan, dan ini adalah promosi pertama mereka sejak 2001. Jadwal awal pun tergolong berat karena mereka harus bertandang ke Arsenal dan Manchester City. Namun cara tim ini dihancurkan Brighton di depan pendukungnya sendiri membuat kekhawatiran tentang sisa musim ini meningkat tajam.
Start Buruk Coventry Setelah Kembali ke Premier League
Coventry menjadi tim kelima dalam sejarah kasta tertinggi Inggris yang kalah di empat laga pembuka sekaligus gagal mencetak gol dalam keempat pertandingan tersebut. Sebelumnya, catatan serupa hanya dimiliki Derby County (1899-1900), Stoke City (1906-07), Preston North End (1924-25), dan Crystal Palace (2017-18). Daftar itu menunjukkan bahwa kombinasi antara kekalahan beruntun dan kebuntuan di lini serang adalah masalah yang jarang terjadi, tetapi dampaknya sangat besar bagi sebuah tim promosi.
Dari sisi waktu, start Coventry musim ini adalah yang terburuk bagi klub sejak 1919-20. Ketika itu, pada kampanye liga pertama mereka, Coventry kalah dalam sembilan pertandingan pembuka. Perbandingan tersebut menegaskan bahwa performa saat ini berada di level yang tidak pernah dialami klub selama lebih dari satu abad, dan itulah yang membuat situasinya terasa begitu mendesak.
Kronologi: Sinyal Perbaikan yang Hilang dalam Sekejap
Sebelum kekalahan dari Brighton, sebenarnya ada tanda-tanda perbaikan yang cukup jelas. Melawan Manchester City, Coventry menyulitkan kiper Gianluigi Donnarumma dengan 12 tembakan dan mencatat xG 1,37. Mereka dinilai tidak beruntung karena gagal membawa pulang setidaknya satu poin dari laga tandang yang berat itu.
Perkembangan positif tersebut berlanjut di babak pertama kontra Brighton. Coventry melepaskan 10 tembakan dan menciptakan sejumlah peluang melalui Frank Onyeka serta Jack Rudoni, sementara mereka hanya tertinggal satu gol sampai turun minum. Artinya, persoalan utama tim ini bukan terletak pada kemampuan menciptakan peluang, melainkan pada penyelesaian akhir.
Keadaan berbalik dengan cepat setelah jeda. Pertahanan yang buruk memberi Brighton kesempatan menggandakan keunggulan, dan dua menit kemudian Taiwo Awoniyi diusir wasit karena siku yang melayang. Bermain dengan sepuluh pemain, Coventry tidak lagi mampu menahan tekanan dan akhirnya menelan kekalahan telak di kandang sendiri.
Ada satu statistik yang menegaskan betapa rapuhnya tim ini ketika kebobolan lebih dulu. Coventry tercatat kalah dalam 46 pertandingan Premier League terakhir mereka setiap kali lawan mencetak gol pembuka, rentetan yang membentang sejak Maret 1999. Pola itu memperlihatkan bahwa kemampuan bangkit dari ketertinggalan masih menjadi kelemahan kronis yang belum terpecahkan.
Tekanan yang Menumpuk pada Frank Lampard
Kekalahan 5-0 dinilai bukan sekadar soal angka, melainkan soal kepercayaan diri yang terkuras habis. Wayne Rooney, mantan penyerang Manchester United dan timnas Inggris, mengatakan kepada BBC Sport bahwa masalah besar Coventry adalah hilangnya rasa percaya diri pemain akibat kekalahan dengan margin sebesar itu. Ia menyebut para pemain pasti merasa sangat jauh tertinggal dari tim-tim di atas mereka, dan tugas Lampard adalah menemukan cara untuk melewati periode sulit ini.
Rooney menambahkan bahwa Coventry sebenarnya sudah melakukan hal-hal baik dan menciptakan peluang di dua laga terakhir, hanya saja peluang itu tidak dimaksimalkan. Menurutnya, kartu merah di laga melawan Brighton benar-benar mematikan perlawanan tim. Ia menekankan pentingnya skuad tetap bersatu dan berada di halaman yang sama, karena satu-satunya jalan keluar adalah bekerja keras.
Penilaian yang lebih keras datang dari Roy Keane dalam analisisnya untuk Sky Sports. Mantan kapten Manchester United itu menyebut pertahanan Coventry benar-benar buruk, dan pada kedudukan 3-0 seharusnya tim bisa menerima kekalahan lalu melangkah ke pertandingan berikutnya. Ia menilai pengambilan keputusan yang buruk membuat Coventry mulai terlihat seperti tim Championship, sekaligus mengingatkan Lampard agar berhati-hati supaya kepercayaan para pemain tidak hilang.
Catatan pribadi Lampard di kasta tertinggi memang menjadi sorotan. Selama menangani Chelsea dan Everton, ia hanya memenangkan empat dari 34 pertandingan terakhirnya di Premier League. Meski sebelumnya ia dianggap berhasil mentransformasi Coventry di Championship, tantangan di liga tertinggi terbukti jauh lebih berat dan menuntut solusi yang berbeda.
Sebesar Apa Risiko Degradasi Coventry?
Secara historis, posisi Coventry saat ini jauh dari aman. Sejak Premier League dimulai pada 1992, hanya satu tim, yaitu Southampton pada musim 2012-13, yang mampu bertahan dari degradasi setelah kalah dalam empat pertandingan pembuka. Artinya, hampir semua tim yang memulai musim dengan cara seperti ini pada akhirnya turun kasta.
Dalam sejarah yang lebih luas di kasta tertinggi Inggris, 10 dari 18 tim yang kalah pada empat laga pertama sebuah musim harus terdegradasi, atau sekitar 56 persen. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan Coventry bukan hanya soal performa jangka pendek, tetapi juga menyangkut kualitas dan kedalaman skuad untuk bersaing selama satu musim penuh. Untuk bertahan, tren ini harus diputus secepat mungkin sebelum jarak poin dengan tim-tim di atasnya melebar.
“Kami Tidak Mengasihani Diri Sendiri”
Di ruang ganti, pesan Lampard kepada Sky Sports adalah agar para pemain mengambil tanggung jawab atas situasi ini. Ia menegaskan para pemain sudah memberikan segalanya sampai akhir, tetapi hasilnya tetap tidak menyenangkan, dan mereka harus menyadari level yang perlu dikejar untuk bersaing di Premier League. Menurutnya, satu-satunya respons yang masuk akal adalah terus bekerja.
Lampard juga menyoroti perbedaan tekanan di liga ini dibandingkan Championship. Ia menilai atmosfer Premier League jauh lebih menuntut dan banyak pemain belum pernah merasakannya, sehingga adaptasi menjadi bagian penting dari proses. Ia menegaskan timnya tidak sedang mengasihani diri sendiri dan harus terus bekerja, sembari mengingatkan bahwa ia sudah berkali-kali berada dalam situasi seperti ini sepanjang kariernya sebagai manajer.
Apa yang Harus Coventry Perbaiki?
Dari empat pertandingan yang sudah dijalani, ada dua masalah utama yang paling terlihat, yaitu penyelesaian akhir dan mentalitas ketika tertinggal. Coventry mampu menciptakan peluang, terbukti dari 12 tembakan dan xG 1,37 melawan Manchester City serta 10 tembakan di babak pertama kontra Brighton, tetapi belum satu pun berbuah gol musim ini. Ketajaman di depan gawang menjadi pekerjaan rumah paling mendesak bagi Lampard dan stafnya.
Masalah kedua adalah respons setelah kebobolan. Rentetan 46 kekalahan setiap kali lawan mencetak gol lebih dulu menunjukkan bahwa tim ini kesulitan mengubah alur pertandingan begitu berada dalam posisi tertinggal. Melawan Brighton, pola tersebut terulang: setelah gol kedua masuk, disiplin pemain justru goyah hingga berujung kartu merah dan kekalahan yang jauh lebih besar.
Kombinasi kedua faktor itu menjelaskan mengapa kekalahan 5-0 terasa begitu menyakitkan bagi Coventry. Mereka bukan hanya kalah dari tim yang lebih kuat, tetapi juga kehilangan kendali atas pertandingan di babak kedua. Perbaikan perlu datang dari hal-hal mendasar seperti efisiensi serangan dan ketenangan saat tertekan, bukan dari perubahan besar yang mustahil diwujudkan dalam waktu singkat.
Penantian 25 tahun untuk kembali ke Premier League kini diuji oleh kenyataan yang jauh dari harapan. Coventry sudah mencetak rekor buruk di awal musim, ditinggalkan tanpa gol, dan berada di jalur yang secara historis berujung pada degradasi. Namun, seperti yang ditegaskan Lampard, tidak ada pilihan selain terus bekerja dan menjaga kepercayaan diri skuad tetap utuh.
Bagi para pendukung yang ingin mengikuti perkembangan Sky Blues lebih dekat, BBC menyediakan konten seputar Coventry City melalui BBC Sounds, mulai dari analisis sebelum pertandingan, sesudah pertandingan, hingga pembahasan isu-isu terkini seputar klub.
