Bayern Munich membalas dua hasil buruk beruntun dengan cara paling brutal: menggulung RB Leipzig 6-1 di Allianz Arena pada Sabtu malam. Kemenangan telak ini sekaligus menjadi pemanasan ideal menjelang duel Bayern Munich vs Arsenal di Liga Champions pada Rabu mendatang, laga yang bagi kubu tuan rumah sarat aroma balas dendam.
Hasil itu terasa penting karena Die Roten sebelumnya gagal menang dalam dua pertandingan tandang beruntun, baik di Bundesliga maupun di Eropa. Pada kedua laga tersebut mereka tertangkap lengah lebih dulu, sehingga kemenangan besar atas Leipzig dibaca sebagai cara Bayern mengeluarkan seluruh frustrasi yang menumpuk sepekan terakhir. Leipzig, yang datang dengan status pesaing domestik, hanya mampu bertahan sebagai penonton di laga yang oleh media Jerman disebut sebagai “latihan di Allianz Arena” itu.
Jalannya Laga: Enam Gol Tanpa Ampun di Allianz Arena
Tekanan Bayern sudah terasa sejak detik-detik awal. Harry Kane memaksa kiper Leipzig, Maarten Vandevoordt, bekerja keras ketika pertandingan baru berjalan beberapa saat, dan itu hanya penangguhan hukuman sementara bagi tim tamu. Pada menit ke-12, Luis Díaz menerima umpan Joshua Kimmich, menerobos lurus ke jantung pertahanan Leipzig, lalu membuka keunggulan tuan rumah.
Pemain Kolombia itu kembali menjadi kreator menjelang menit ke-30 melalui umpan manis kepada Aleksandar Pavlovic yang berlari menusuk dari lini kedua. Gol tersebut lahir dari pergerakan kolektif yang rapi, dimulai ketika Kane mengarahkan bola ke sisi kiri dari posisi layaknya quarterback, sekitar 10 sampai 15 meter di depan kotak penalti sendiri. Sesaat sebelum itu, rangkaian serangan indah berujung pada peluang yang disiapkan Kane untuk diselesaikan Michael Olise dengan sangat elegan.
Di babak kedua, panggung sepenuhnya menjadi milik Díaz. Ia menerima operan Kane, memotong ke dalam, dan melepaskan tembakan melengkung ke sudut jauh gawang. Gol ketiganya lahir dari pergerakan memutar jarak jauh sebelum finis dari area tengah, melengkapi hat-trick yang mungkin bukan hat-trick sempurna secara teknis, tetapi sangat khas Díaz. Bagi pemain yang terakhir mencetak gol Bundesliga pada Agustus itu, tiga gol tersebut disantap dengan raut seperti orang yang kelaparan.
Tanpa penampilan gagah Vandevoordt, kekalahan ini berpotensi melewati rekor kekalahan terbesar Leipzig, yaitu kalah 7-0 dari Manchester City sekitar tiga setengah tahun lalu. Kiper asal Belgia itu berulang kali meredam peluang, meski pada akhirnya tetap tidak mampu mencegah enam bola masuk ke gawangnya.
Luis Díaz dan Malam Kebangkitan di Lini Depan
Hat-trick ini punya bobot lebih dari sekadar tambahan tiga angka. Díaz adalah pemain yang paling sering melakukan pergerakan di belakang garis pertahanan lawan, dan menurut Kimmich, kemampuan itu membuatnya sangat berharga bagi tim, bahkan melebihi Kane, Olise, maupun para gelandang Bayern. Statistik musim lalu memperkuat penilaian tersebut: 22 gol dan 17 assist jika digabungkan dari Bundesliga dan Liga Champions.
Kimmich menegaskan bahwa kontribusi Díaz bukan hal baru. “Dia mencatat angka yang luar biasa untuk kami musim lalu,” ujarnya, seraya menyoroti bahwa pemain itu kini memulai lagi dari titik nol. Malam melawan Leipzig menunjukkan bahwa ketika Bayern butuh sosok yang bisa membongkar pertahanan rapat, Díaz adalah pilihan pertama.
Kebutuhan itu akan semakin terasa pada laga tengah pekan nanti. Olise absen karena hukuman kartu merah, sehingga Bayern hampir pasti mengandalkan versi Díaz seperti pada Sabtu malam. Dalam konteks itulah kemenangan atas Leipzig disebut sebagai pemanasan yang tepat, meski Leipzig tampil jauh lebih lunak dari perkiraan banyak orang.
Luka Lama yang Memicu Amukan Bayern
Ledakan enam gol itu bukan tanpa sebab. Sepekan sebelumnya, Bayern tertahan di Augsburg setelah kebobolan gol tercepat di Bundesliga musim ini, sekaligus harus menanggung kesalahan awal Manuel Neuer dan sejumlah peluang emas yang dibuang sia-sia. Di laga itu, Bayern menciptakan banyak kans namun gagal menyelesaikannya, sebuah pemborosan yang jelas mengganggu ruang ganti.
Kekecewaan memuncak di Stavanger pada pertengahan pekan. Bayern sempat tertinggal kurang dari 90 detik, lalu sempat berbalik memimpin, tetapi kebobolan gol penyama kedudukan di penghujung laga. Situasi diperburuk oleh kartu merah Olise, yang mendapat dua kartu kuning dalam hitungan detik; yang kedua karena ia dengan lembut melepaskan bola ke wajah kapten Viking, Zlatko Tripic, hingga lawan itu menjatuhkan diri. Max Eberl, direktur olahraga Bayern, menyebut Tripic sebagai “scumbag” karena dianggap sengaja memancing Olise secara sistematis.
Di pinggir lapangan, Vincent Kompany tampak nyaris tanpa gerakan sepanjang laga melawan Leipzig. Sikap itu bukan bentuk kekecewaan yang tersisa, melainkan karena ia sedang sakit dan mengalami masalah pinggul yang membuat perpindahannya dari ruang ganti ke area lapangan terasa lambat dan tidak nyaman. Eberl pun menggantikannya di konferensi pers seusai pertandingan, sebuah penjelasan yang sekaligus menepis spekulasi soal sikap dingin sang pelatih.
Bayern Munich vs Arsenal: Memori Emirates Jadi Bahan Bakar
Duel Bayern Munich vs Arsenal pada Rabu nanti bukan pertemuan biasa. Kekalahan pertama Bayern musim lalu terjadi justru di tangan Arsenal, 11 bulan lalu, ketika tim London itu menaikkan tempo di babak kedua dan menang 3-1 di Emirates Stadium. Penampilan di paruh kedua laga tersebut menjadi bukti seberapa jauh Arsenal telah berkembang, dan kenangan itu masih tersimpan rapi di Munich.
“Kami punya memori tentang laga itu, dan kami ingin mengubah memori tersebut menjadi energi pada Rabu nanti,” kata Eberl. Pernyataan itu memberi sinyal jelas bahwa Bayern tidak datang ke laga tersebut untuk sekadar bermain aman, meski format liga fase ini membuat kedua tim diprediksi lolos dengan aman ke delapan besar. Apa pun hasilnya, laga itu tetap berguna sebagai tolok ukur posisi kedua tim saat ini.
Bagi Díaz, pertandingan melawan Leipzig bisa menjadi titik balik musimnya, dan Arsenal adalah ujian berikutnya. Kimmich menyebut penyerang itu sebagai pemain yang paling mungkin melakukan lari menembus pertahanan, sebuah kemampuan yang akan sangat dibutuhkan ketika Arsenal bermain dengan garis pertahanan tinggi. Dengan Olise absen, beban mencetak gol dan membuka ruang akan bergeser ke kaki Díaz serta Kane.
Ujian Realitas bagi Leipzig dan Martin Demichelis
Bagi Leipzig dan pelatihnya, Martin Demichelis, yang merupakan mantan pemain Bayern, kekalahan 6-1 ini adalah tamparan paling telak. Reaksi media Jerman seragam: kekecewaan karena tim yang dianggap kompetitor Bayern ternyata nyaris tidak memberikan perlawanan berarti. Leipzig tampak kehilangan cara untuk keluar dari tekanan sejak menit awal.
Namun ada sisi lain yang perlu diakui. Bayern pada malam itu memang tampil di level terbaiknya, terpicu oleh anggapan bahwa ada tantangan yang perlu dibuktikan sebagai bukan apa-apa. Tim yang sedang terluka dan merasa diremehkan memang berbahaya, dan Leipzig kebetulan berada di jalur amukan tersebut.
Peta Persaingan Bundesliga: Freiburg Tersandung, Dortmund dan Stuttgart Tersendat
Kemenangan besar itu membawa Bayern ke puncak klasemen akhir pekan, unggul selisih gol atas Borussia Dortmund yang mengumpulkan poin sama, setelah pemimpin sebelumnya, Freiburg, menelan kekalahan pertamanya musim ini di markas Bayer Leverkusen pada Minggu sore. Freiburg sempat unggul lebih dulu lewat Derry Scherhant yang menyelesaikan serangan tim yang mengalir, tetapi Leverkusen membalas dalam ujian kandang serius pertama mereka.
Ibrahim Maza menyamakan kedudukan dengan cepat, lalu memberi assist indah untuk gol kemenangan Patrick Schick di babak kedua. Schick kini mencetak gol di seluruh enam laga pembuka musim ini bersama Niclas Füllkrug di puncak daftar top skor. Maza menjelaskan kepada DAZN bahwa cara ia lolos dari kepungan bek Freiburg berasal dari masa kecilnya di Berlin: bermain di lapangan kandang, berimprovisasi, dan nekat.
Füllkrug mencetak dua gol untuk membawa Werder Bremen bangkit dari ketinggalan 2-0 dan menahan imbang Paderborn, menjadikannya gol di laga kelima beruntun. Itu juga menjadi laga ketiga berturut-turut di mana Werder mampu bangkit dari defisit dua gol untuk meraih minimal satu poin. Pelatih Daniel Thioune menyebut striker timnas Jerman itu menaikkan standar orang-orang di sekitarnya, termasuk sang pelatih sendiri. “Niclas menuntut banyak dari pelatih,” katanya. “Bukan hanya soal yang ia lakukan di lapangan, tetapi juga di ruang ganti. Niclas tidak pernah terlalu gengsi untuk berusaha lebih.”
Di sisi lain, Dortmund tampil lelah saat bermain imbang tanpa gol dengan Union di Berlin, laga kedua beruntun tanpa gol bagi mereka. Stuttgart berada dalam kondisi lebih buruk, terpuruk di enam terbawah setelah kalah di Hamburg meski membuang banyak peluang. “Kami bukan tim papan atas saat ini,” keluh Deniz Undav.
Kesimpulan
Kemenangan 6-1 atas Leipzig adalah pernyataan tegas dari Bayern Munich: dua hasil buruk sebelumnya tidak menggoyahkan status mereka sebagai penguasa Bundesliga, dan luka dari kekalahan di Emirates masih menjadi bahan bakar. Penampilan Luis Díaz menjadi sorotan utama, terutama karena ia akan menjadi andalan saat Olise absen pada laga Bayern Munich vs Arsenal nanti.
Di sisi lain, Leipzig dan Demichelis mendapat pelajaran keras bahwa jarak dengan sang juara masih lebar, sementara persaingan di papan atas Bundesliga tetap ketat dengan Dortmund dan Leverkusen menempel. Rabu nanti akan menjadi ukuran yang lebih jujur, karena Arsenal jelas bukan Leipzig yang datang ke Allianz Arena tanpa gigi.
