Dalam kolom opini terbarunya, Barney Ronay menyoroti posisi sulit Andy Burnham. Sosok yang digambarkan sebagai perdana menteri Inggris itu membangun identitas politiknya lewat semangat “Manchesterisme” dan kedekatan dengan uang Abu Dhabi, termasuk investasi di Manchester City. Namun menurut Ronay, sepak bola kini bukan lagi sekadar analogi bagi politik, melainkan sudah menjadi politik itu sendiri — “football is the captain now”, tulisnya, duduk di kursi utama ruang kekuasaan.
Pandangan tersebut penting karena menyentuh titik paling rapuh dalam karier Burnham, yaitu tarik-menarik antara prinsip dan realpolitik. Investasi Abu Dhabi selama bertahun-tahun menjadi salah satu fondasi kebangkitan Manchester yang ia banggakan. Kini, ketika aturan hukum menyentuh mitra investasi itu, Burnham harus memilih antara membela mereka atau menegakkan aturan — dan pilihan itu berlangsung terbuka di depan publik.
Dua Pidato dan Kalimat yang Harus Ditarik Kembali
Ronay mencatat bahwa Burnham menyampaikan dua pidato dalam sepekan. Pidato pertama digambarkan lembut, murah hati, dan memikat, karena berbicara tentang memulihkan keseimbangan sosial serta mengembalikan kendali hidup kepada masyarakat. Dalam pidato itu ia juga menyinggung soal “orang kecil versus orang besar”, budaya daftar tunggu, kehidupan yang kian diatur chatbot, dan impian keluar dari cara hidup sebuah negara yang gemar mempertontonkan kebencian kepada warganya sendiri.
Pidato kedua berisi hal yang berbeda. Burnham menyatakan akan “sangat khawatir kehilangan mereka” — simpati kepada rezim monarki yang disebut Ronay represif, yang menyuntikkan uang untuk lolos dari aturan yang mengikat pihak lain. Downing Street kemudian memperhalus dan menarik kembali pernyataan itu. Bagi Ronay, kalimat tersebut memperlihatkan disonansi kognitif yang aneh dari seorang pemimpin yang seharusnya berdiri di sisi aturan.
Burnham juga menilai “salah” untuk “melompat ke kesimpulan”. Ronay mengingatkan bahwa kesimpulan yang dimaksud lahir dari penerapan hukum Inggris oleh panel yudisial independen, dengan potensi sanksi yang jauh lebih berat. Ia menegaskan bahwa ini bukan forum diskusi penggemar Everton, melainkan persoalan publik dan regulasi yang serius. Tidak ada tempat untuk keluhan kesukuan atau obrolan sepak bola level warung.
Terakhir, Burnham mengucapkan hal yang selama ini disimpan rapat-rapat: “Mereka telah menjadi mitra yang sangat besar dalam membangun Manchester modern.” Menurut Ronay, kalimat itu justru membuka tabir tentang siapa sebenarnya yang menopang fondasi politik Burnham selama ini.
Jejak Abu Dhabi dan Manchester City dalam Karier Andy Burnham
Ronay mengingatkan bahwa sepak bola sudah lama menempel dalam cerita hidup Burnham. Abu Dhabi disebut sebagai penyedia modal awal bagi pembeda politiknya, yakni energi Manchesterisme yang mengantarkannya ke Downing Street. Sepak bola juga memberinya bahasa bersama yang membuatnya terasa dekat dengan orang biasa, sebuah keuntungan yang kontras dengan gaya komunikasi pendahulunya yang diparodikan Ronay dengan sindiran pedas.
Namun menurut Ronay, sepak bola juga ibarat api dari langit yang harus diwaspadai. Tidak ada kekuatan lain yang mampu menembus ruang publik sedalam itu, tetapi tidak ada pula yang punya energi populer seganas itu. Seperti pemerintah Uni Emirat Arab, ia akan datang menagih imbalannya.
Ronay menilai Manchesterisme dalam bentuk dasarnya tidak berbeda dari Londonisme. Banyak faktor lain berperan, seperti devolusi politik, talenta lokal, perusahaan teknologi, dan “ekonomi kecerdasan”. Namun investasi Abu Dhabi adalah akselerator besarnya setelah krisis finansial 2008, sekitar sembilan tahun sebelum Burnham menjabat sebagai mayor.
Burnham, tulisnya, mendapat keuntungan besar secara politik maupun pribadi dari investasi Abu Dhabi United Group. Kelompok yang sama yang mengucurkan dana untuk pemain seperti Nolito juga menanam dana sekitar satu miliar untuk transformasi New Islington dan satu miliar lain untuk Manchester Campus. Salah satu titik di peta trem Manchester bahkan kini menyandang nama Etihad. Wacana yang menyertainya tak jauh dari warga lokal yang tergusur, hunian yang tak terjangkau, serta pemimpin kota yang menghindari pembicaraan soal rekam jejak hak asasi manusia para mitranya.
Dari sudut pandang tertentu, Ronay menyimpulkan, Abu Dhabi pada dasarnya “memberi kita” Andy Burnham versi pusat kota. Ia menyebutnya lulusan akademi Etihad, “Phil Foden dari Downing Street”, sekaligus saluran hidup yang menghubungkan kekuasaan politik dengan kekuasaan uang.
Telepon Pertama ke Abu Dhabi dan Nama yang Disebut
Ronay mencatat bahwa salah satu panggilan pertama Burnham sebagai perdana menteri ditujukan kepada Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, presiden Uni Emirat Arab. Sosok itu adalah saudara Mansour bin Zayed Al Nahyan, pemilik Manchester City. Artinya, jalur komunikasi tertinggi kenegaraan bertemu langsung dengan kepentingan klub sepak bola yang tengah disorot.
Dalam jejaring tersebut, Ronay menyebut satu nama penting, yaitu Jaber Mohamed, yang juga dipekerjakan sebagai asisten kunci. Ia disebut bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran melalui Etisalat yang menjadi bagian dari dugaan pengaturan pembukuan Premier League. Menurut Ronay, ketika Burnham berbicara tentang membawa kisah sukses Manchester ke pemerintahan, jalur inilah yang sebenarnya sedang ia gambarkan.
Karena itu, Ronay menilai persoalan ini bukan sekadar soal klub, melainkan menyangkut hubungan erat antara kekuasaan politik dan kekuasaan modal. Apa yang tampak sebagai kisah kebangkitan kota ternyata menyimpan simpul kepentingan yang jauh lebih rumit. Publik pun mulai mempertanyakan sejauh mana kedekatan itu boleh berlanjut.
Aturan Hukum atau Menunduk pada Kekuasaan?
Ronay menegaskan bahwa persoalan ini tidak sepenuhnya diciptakan Burnham sendiri. Ia harus hidup di dunia apa adanya, dan jabatannya menuntut ia merangkul investor yang perilakunya justru menjadi contoh sempurna dari “billionaire-ism” kelas atas yang ia lawan. Namun menurut Ronay, pria itu tetap punya pilihan yang bisa ia ambil.
Salah satu pilihan itu adalah berhenti berterima kasih secara berlebihan kepada Uni Emirat Arab. Ronay mempertanyakan apakah Burnham menganggap ini sebuah kebaikan, padahal yang terjadi adalah kesepakatan bisnis dengan sesuatu yang jelas mengalir balik. Ia juga mengingatkan pada spanduk “Thank You Sheikh Mansour” di Stadion Etihad, dan bertanya untuk apa ucapan terima kasih itu, sebab promosi merek, sorakan atas soft power, dan izin memiliki jalanan di bawah kaki warga sudah menjadi bentuk terima kasih tersendiri.
Menurut Ronay, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra, melainkan pilihan yang harus dijawab Burnham dan juga para pendukung Manchester City: apa yang ingin mereka miliki dan apa yang ingin mereka jadi. Miliaran dana bisa datang dan pergi, dan akan ada konsekuensi ekonomi keras jika Uni Emirat Arab menarik bolanya. Namun penegakan hukum, sikap tidak menunduk di hadapan kekuasaan, serta kemampuan menjaga aset kedaulatan juga memberi rasa yang tak bisa dibeli dengan uang.
Sepak Bola yang Naik Kelas Menjadi Politik
Ronay membuka kolomnya dengan sindiran soal populisme sepak bola, yaitu gaya kedekatan ala penggemar biasa yang menjadi “kuda tunggangan” sang perdana menteri beberapa bulan sebelumnya. Menurutnya, kuda itu masih berkeliaran di ruang kabinet dan mengancam menabrak siapa pun yang menungganginya. Ia juga menyindir bahwa pemerintahan sebelumnya jatuh ke krisis karena perang, skandal seks, dan krisis ekonomi, sementara kali ini krisis datang karena kebutuhan mendesak membayar Jack Grealish dengan harga terlalu mahal.
Ia menyoroti kebiasaan media memahami peristiwa global lewat kacamata sepak bola. Dalam logika itu, pertanyaan soal apakah Spurs lebih atau kurang mungkin terdegradasi menjadi cara membaca berbagai krisis dunia. Ronay bahkan menyindir masa jabatan Roberto De Zerbi di London utara, sembari menilai hampir tak ada peristiwa besar yang tak bisa dipahami lewat lensa Spurs yang sedang bermasalah.
Namun di balik lelucon itu, ada pergeseran yang nyata. Sepak bola tidak lagi menyediakan perumpamaan bagi politik, karena ia sudah menjadi politik itu sendiri. Ronay menyebut hal ini sebagai semacam titik singularitas, ketika batas antara keduanya hilang dan publik justru menjadi bagian dari ramifikasi yang terus membesar.
Konsekuensinya, setiap pernyataan pejabat publik soal klub atau investor asing tidak lagi bisa dibaca sebagai komentar ringan. Ia menyentuh soal kedaulatan, aturan, dan siapa yang berhak menentukan arah sebuah kota maupun negara. Di titik inilah kolom Ronay berhenti menjadi obrolan sepak bola dan berubah menjadi kritik politik.
Penutup: Prinsip atau Realpolitik?
Secara keseluruhan, Ronay menggambarkan Andy Burnham sebagai politikus yang terjepit di antara dua kehidupan ideologis yang sulit disatukan: berbicara tentang keadilan sosial di satu sisi, dan merangkul kekuatan modal raksasa di sisi lain. Ia mengaku menyukai Burnham dan ingin melihatnya berhasil, terutama karena ada sosok yang bicara tentang mengubah cara sebuah bangsa merasa, bukan sekadar angka aktivitas ekonomi. Menurutnya, gagasan bahwa kebahagiaan kolektif telah menurun, dan bahwa negara ini menjual dirinya sendiri per pon serta mengalihdayakan tatanan sosialnya ke sejumlah perusahaan cangkang di Panama, adalah kritik yang sah.
Namun pertanyaan yang tersisa justru paling sederhana: apa yang ingin diperjuangkan? Pilihan yang tersedia adalah realpolitik, atau upaya sungguh-sungguh pada prinsip yang nyata. Hingga kini jawaban itu belum benar-benar diberikan, sementara sepak bola tetap duduk di kursi utama ruang kekuasaan. Alternatifnya, tulis Ronay, adalah “digiring dengan kursi roda dan dibuat menari demi uang” — dan dalam versi dunia yang lebih baik, bahkan Spurs bisa terdegradasi atas kesepakatan mereka sendiri.
