West Ham United akhirnya memutuskan berpisah dengan Nuno Espírito Santo setelah sekitar enam bulan menahan keputusan yang seharusnya bisa diambil jauh lebih awal. Langkah West Ham pecat Nuno itu diambil menyusul kekalahan kandang kedua secara beruntun, termasuk penampilan buruk saat menghadapi West Bromwich Albion pada Sabtu lalu. Kini tanggung jawab membenahi tim jatuh ke tangan Scott Parker, sosok yang dipercaya mampu mengembalikan arah permainan sekaligus menjaga peluang promosi otomatis.
Keputusan tersebut dinilai sudah terlambat, tetapi setidaknya masih datang pada waktu yang tepat. West Ham saat ini berada di peringkat kedelapan Championship, terpaut empat poin dari dua besar, dan mulai terancam terseret ke perebutan tiket playoff. Dengan skuad termahal di divisi ini, posisi tim seharusnya jauh lebih baik, sehingga pergantian pelatih menjadi jalan yang hampir tidak terhindarkan.

Kekalahan dari West Brom Jadi Titik Akhir
Kekalahan di kandang sendiri menjadi pemicu utama pemecatan. West Ham tampil timpang saat melawan West Brom, dan bagi manajemen hasil itu sudah melewati batas toleransi. Dua kekalahan beruntun di hadapan pendukung sendiri membuat klub kehilangan alasan untuk mempertahankan Nuno lebih lama.
Nuno sendiri bukan sosok yang benar-benar asing bagi klub, tetapi rekam jejaknya tidak berjalan sesuai harapan. Ia datang menggantikan Graham Potter pada September 2025 dan mendapat 33 pertandingan untuk menyelamatkan West Ham dari degradasi, namun gagal memenuhi misi tersebut. Kegagalan itu membuat kepercayaan kepadanya terus menipis, terutama karena skuad yang ia tangani disebut sebagai yang termahal di Championship.
Meski begitu, posisi West Ham di klasemen tidak sepenuhnya buruk. Tim masih berada dalam jangkauan dua besar dan belum kehilangan peluang untuk bersaing langsung. Inilah alasan manajemen memilih bergerak sekarang, bukan menunggu hingga peluang promosi otomatis benar-benar hilang.
Kronologi: Mengapa Nuno Bertahan Enam Bulan
Keterlambatan pemecatan tidak lepas dari dinamika di ruang rapat direksi. David Sullivan, yang ketika itu merupakan pemegang saham terbesar klub, menginginkan perubahan pelatih. Namun Daniel Kretinsky lebih memilih menjaga kesinambungan dan berusaha memanfaatkan pergeseran keseimbangan kekuatan di jajaran pengurus.
Situasi internal klub memang sedang tidak stabil. Karren Brady mundur dari posisi wakil ketua pada April dan digantikan Karim Virani dalam peran interim. Gejolak berlanjut ketika Sullivan mengundurkan diri sebagai joint-chair sekaligus direktur klub untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “tuduhan palsu” terkait perilaku pribadinya.
Sullivan dinilai paling bertanggung jawab atas degradasi West Ham, meski ia masih memegang 40 persen saham dan tidak lagi duduk di jajaran direksi. Di sisi lain, penilaiannya soal Nuno ternyata tidak keliru: ia memang menginginkan pelatih asal Portugal itu pergi. Bagi Kretinsky, mempertahankan Nuno menjadi keputusan besar pertamanya yang berujung salah.
Dampak bagi West Ham: Taruhan pada Sosok “Aman”
Penunjukan Scott Parker dipandang sebagai langkah yang relatif aman. Ia sudah lama masuk dalam radar West Ham, bahkan sempat disebut-sebut sebagai kandidat pada musim panas dan kembali muncul ketika tim gagal menang dalam tiga laga liga pertama. Nama Parker juga mencuat ketika kesabaran terhadap Nuno mulai menipis, sebelum rentetan empat kemenangan beruntun sempat meredakan tekanan untuk sementara.
Parker tidak dikenal sebagai pelatih dengan permainan yang ekspansif, tetapi rekam jejaknya di level ini sudah terbukti. Ia pernah membawa Bournemouth, Burnley, dan Fulham promosi, sebuah catatan yang membuatnya dianggap paham betul cara menembus divisi kedua. Hubungan emosionalnya dengan West Ham turut menjadi nilai tambah, mengingat ia pernah memperkuat klub ini sebagai pemain dan merasakan pahitnya degradasi pada 2011.
Bagi para pemain, pergantian pelatih bisa menjadi titik balik. Nuno dilaporkan sudah kehilangan ruang ganti, dan suasana memburuk setelah laga melawan West Brom. Kretinsky sendiri tidak hadir di setiap pertandingan, tetapi ia sempat menyaksikan kekalahan 3-2 dari Southampton sepekan sebelumnya dan pulang dengan kesan yang jauh dari memuaskan.
Masalah di Lapangan yang Menanti Parker
Persoalan paling mendesak adalah tidak adanya identitas permainan. West Ham sering baru mulai bermain setelah tertinggal lebih dulu, dan hanya meraih dua kemenangan dari enam laga terakhir. Kemenangan 6-0 atas Wrexham menjadi sorotan, tetapi hasil identik di markas Lincoln harus dibaca dengan catatan bahwa lawan mendapat dua kartu merah sebelum jeda.
Nuno juga kerap dipertanyakan karena enggan memakai gelandang bertahan murni. West Ham terlalu mudah ditembus lawan, sebuah masalah yang diperparah oleh keputusannya tidak memakai Edson Álvarez maupun Soungoutou Magassa setelah keduanya berupaya pindah pada musim panas. Pengucilan Magassa menuai kegelisahan karena aset muda itu kehilangan nilai sekaligus membuat lini belakang yang rapuh tidak mendapat perlindungan memadai.
Di sektor depan, Jarrod Bowen ikut kehilangan ketajaman. Winger yang menjadi top skorer tim itu sering terkurung karena pendekatan taktik Nuno, padahal ia baru saja diyakinkan meneken kontrak baru pada musim panas. Ironisnya, rekor transfer Football League yang dipecahkan lewat pembelian gelandang Belgia Arne Engels dari Celtic senilai £22 juta nyaris tidak terlihat dampaknya di lapangan.
Pekerjaan rumah lain adalah menentukan apakah Mads Hermansen tetap menjadi pilihan utama di bawah mistar. Sejumlah rekrutan musim panas juga masih diragukan, mulai dari Divine Mukasa yang bertalenta tetapi belum konsisten, Manor Solomon dan Edvin Austbø yang belum membuktikan diri di sayap kiri, hingga Joël Veltman yang terganggu kebugaran. Adama Boiro, bek kiri 24 tahun yang dipinjam dari Athletic Bilbao, bahkan belum terlihat lagi sejak tampil sebentar melawan Derby pada awal September.
Lini serang menjadi sorotan paling tajam. Tiga striker yang didatangkan Nuno dalam dua jendela transfer, yakni Pablo Felipe, Taty Castellanos, dan Joël Piroe, baru mengumpulkan lima gol liga sepanjang musim ini. Nils Koppen, kepala rekrutmen yang diangkat pada musim panas, diperkirakan harus bekerja keras pada Januari, meski Parker tentu berharap dampaknya sudah terasa sebelum bursa dibuka.
Konteks Lebih Luas: Promosi Dulu, Sisanya Nanti
Perekrutan Parker memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang arah klub. Ia belum memiliki rekam jejak meyakinkan sebagai pelatih di Premier League, sehingga muncul spekulasi soal apa yang akan dilakukan West Ham seandainya promosi berhasil diraih. Apakah klub bertahan dengannya, atau justru langsung melakukan pergantian begitu naik kasta?
Namun pertanyaan itu jelas terlalu dini. West Ham belumpromosi, dan fokus utama saat ini adalah memastikan tim kembali ke jalur kemenangan di Championship yang terkenal menuntut intensitas tinggi. Sejumlah pihak bahkan meragukan apakah pemain yang direkrut pada musim panas benar-benar siap menghadapi kerasnya kompetisi ini, sebuah persoalan yang harus segera dijawab Parker.
Yang jelas, kegagalan mempertahankan Nuno lebih lama lagi akan jauh lebih mahal bagi klub. West Ham masih tak terkalahkan di laga tandang dan sempat menang 1-0 di markas Swansea yang kala itu memuncaki klasemen, menandakan bahwa materi tim sebenarnya tidak seburuk performa yang ditunjukkan belakangan ini.
Kesimpulan
Pemecatan Nuno Espírito Santo datang terlambat, tetapi masih menyisakan ruang bagi West Ham untuk menyelamatkan musim. Dengan posisi kedelapan dan selisih empat poin dari dua besar, peluang promosi otomatis belum tertutup, asalkan tim segera menemukan kembali konsistensinya. Tugas itu kini berada di tangan Scott Parker, pelatih yang dikenal pragmatis dan berpengalaman menembus Championship bersama Bournemouth, Burnley, serta Fulham.
Bagi Parker, prioritas pertamanya bukan memikirkan masa depan di Premier League, melainkan membereskan persoalan mendasar: lini tengah yang tanpa penyeimbang, pertahanan yang rapuh, dan lini serang yang tumpul. Jika itu beres, pertanyaan soal kasta tertinggi akan terjawab dengan sendirinya. West Ham hanya perlu promosi dulu, dan sisanya bisa menunggu.