Russo Kembali Tajam, Lionesses Inggris Menang 3-1 di Yunani

Lionesses Inggris butuh 39 menit untuk membuka keunggulan saat menghadapi Yunani, sebelum akhirnya menutup laga kualifikasi Piala Dunia di Stadion Pankritio, Heraklion, dengan kemenangan 3-1. Gol pembuka lahir dari rangkaian umpan berliku yang diakhiri Georgia Stanway, sementara Alessia Russo menegaskan kebangkitan performanya lewat satu gol tambahan. Hasil ini menjadi modal Inggris sebelum melakoni leg kedua di Leicester, Selasa malam nanti.

Selisih 54 peringkat antara kedua tim semestinya membuat laga ini terasa jauh lebih ringan bagi anak asuh Sarina Wiegman. Kenyataannya, pertandingan di Kreta itu justru menghidupkan kembali kritik lama yang sulit dilepaskan dari Lionesses Inggris: kesulitan menembus lawan yang bertahan rapat di area sendiri. Meski mendominasi penguasaan bola, Inggris tidak selalu tampak nyaman, apalagi senang, sepanjang pertandingan.

Lionesses Inggris Menang 3-1 di Yunani

Jalan Berliku Lionesses Inggris Menuju Gol Pertama

Gol pembuka Inggris tidak lahir dari serangan sederhana, melainkan dari rangkaian gerakan yang berkelok seperti labirin. Umpan cepat Laura Blindkilde Brown kepada Alessia Russo diteruskan dengan satu sentuhan apik kepada rekannya, Georgia Stanway, yang kemudian menaklukkan kiper Fafailia Petaloti. Kombinasi itu memperlihatkan bahwa kecepatan berpikir dan kreativitas umpan menjadi pembeda utama ketika ruang di lini pertahanan lawan nyaris tidak tersedia.

Menariknya, kota kuno Knossos di pinggiran Heraklion memang lekat dengan legenda Minotaurus dan labirin rancangan Daedalus, sehingga gambaran soal jalan berliku terasa pas untuk menggambarkan proses gol tersebut. Namun, waktu yang dibutuhkan untuk mencetak gol pertama justru menyisakan rasa frustrasi tersendiri bagi para pemain. Selebrasi setelah gol pun terkesan datar, cerminan kejengkelan karena harus bersusah payah menghadapi tim yang berada 54 peringkat di bawah mereka.

Gol yang biasanya membuka lebih banyak ruang bagi Inggris ternyata tidak berdampak demikian di Heraklion. Tuan rumah tetap bertahan rapat dan disiplin, memilih menanggung kekalahan dengan selisih tipis daripada membuka diri dan berisiko kalah lebih besar. Pilihan itu masuk akal karena Yunani masih akan menjalani leg kedua dan ingin menjaga peluang mereka tetap hidup.

Peran Maya Le Tissier dan Gol Kedua yang Melegakan

Gol kedua Inggris baru datang pada menit ke-63, dan kehadirannya memberi kelegaan besar bagi tim tamu. Gol itu dicetak oleh Maya Le Tissier, pemain yang mengisi posisi yang biasanya ditempati Lucy Bronze. Peran Le Tissier menjadi sorotan karena Kallisti Brouksair dua kali lolos dari pengawalannya pada babak pertama dan melepaskan umpan silang, dalam momen langka ketika Yunani berani menyerang sampai sepertiga akhir lapangan.

Le Tissier sendiri dimainkan sebagai wing-back di Stadion Pankritio, posisi yang tetap dipilih Wiegman meski ia bermain sebagai bek tengah setiap pekan bersama klubnya, Manchester United. Selain dua peluang lawan di babak pertama itu, penampilannya terbilang solid dan ditutup dengan sebuah gol yang penting. Penampilan tersebut sekaligus menjawab keraguan soal kesiapannya mengisi kekosongan yang ditinggalkan Bronze.

Le Tissier mengaku tidak terganggu oleh perpindahan posisi di klub maupun tim nasional, juga tidak terbebani bayang-bayang besar Bronze. “Saya sudah cukup sering memainkan posisi ini untuk tahu apa yang diharapkan dari saya. Setiap kali masuk lapangan, saya hanya ingin memberikan yang terbaik dan melakukan apa pun yang diinginkan Sarina,” ujarnya. Ia menegaskan bukan pemain yang sama dengan Bronze, memilih memainkan permainan sendiri, serta senang mendapatkan bola dan menciptakan peluang bahkan dari posisi yang lebih tinggi. Meski mengagumi Bronze sejak muda, ia menekankan bahwa setiap pemain berbeda dan tidak perlu menjadi salinan orang lain.

Kebangkitan Alessia Russo di Lini Depan

Gol Russo, yang menjadi gol ketiga Inggris, juga punya arti penting tersendiri. Itu merupakan gol ketiganya dalam tiga pertandingan terakhir bersama klub dan tim nasional, setelah lima laga sebelumnya ia gagal mencetak gol. Momentum kebangkitan ini datang di waktu yang tepat karena Inggris tengah mencari sosok penyerang tengah yang konsisten.

Pasalnya, Aggie Beever-Jones sedang tidak dalam performa terbaik dan bahkan tidak masuk skuad, setelah terakhir kali mencetak gol pada Maret untuk Chelsea. Eksperimen memainkan Lauren James dan Lauren Hemp di posisi penyerang tengah pun belum meyakinkan. Karena itu, kembalinya ketajaman Russo sekaligus menjaga kebugarannya menjadi krusial bagi ambisi Inggris di Piala Dunia.

Russo mengakui bahwa tekanan untuk kembali mencetak gol sempat membuatnya berpikir berlebihan. “Saya kritikus terbesar bagi diri saya sendiri, jadi mungkin ada sedikit overthinking menjelang pertandingan,” katanya. Menurutnya, yang penting adalah menyederhanakan segalanya, kembali menikmati sepak bola, dan tidak terlalu stres.

Persoalan Lama Melawan Pertahanan Blok Rendah

Skor 3-1 dan dominasi penguasaan bola tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Inggris tetap tidak tampak nyaman atau gembira pada sejumlah fase laga, sebuah pola yang sudah berulang. Dua gelar Euro dan satu final Piala Dunia belum cukup untuk sepenuhnya menghapus anggapan bahwa Lionesses kesulitan melawan tim yang bertahan dalam blok rendah.

Russo mengakui bahwa situasi semacam itu memang berat dihadapi. “Sulit ketika Anda menghadapi blok rendah. Kami sering mengalaminya di klub dan juga di Inggris,” ujarnya. Menurutnya, kuncinya adalah tetap sabar, lalu ketika momen itu datang, kualitas umpan dan percepatan permainan menjadi penentu untuk menciptakan sedikit ruang agar seseorang bisa melepaskan tembakan.

Kecepatan berpikir dan ide-ide segar dalam mengumpan memang terbukti menjadi pembeda pada gol pembuka. Itulah jenis kreativitas yang perlu terus ditemukan Inggris di momen-momen sulit. Sayangnya, Inggris juga kebobolan satu gol, dan gol Yunani itu disambut selebrasi liar serta sedikit ketidakpercayaan dari tuan rumah.

Eksperimen Wiegman dan Proyeksi Menuju Piala Dunia

Menarik kesimpulan terlalu jauh soal peluang Inggris di Piala Dunia dari laga kualifikasi musim gugur ini mungkin terburu-buru. Wiegman dan stafnya jelas masih bereksperimen dan melakukan penyesuaian demi menemukan sebelas terbaik serta pemain pengganti yang tepat untuk skuadnya di Brasil. Tim ini juga berada dalam fase transisi, di awal siklus baru setelah periode yang dipenuhi kesuksesan.

Meski begitu, kesempatan untuk bereksperimen antara sekarang dan Piala Dunia sangat terbatas jumlahnya. Karena itu, kebobolan satu gol di Yunani meninggalkan pekerjaan serius yang masih harus diselesaikan Inggris. Bagi Yunani, gol tersebut justru memberikan secercah harapan kepada pihak yang seharusnya tidak punya harapan sama sekali.

Leg kedua di Leicester, Selasa malam, akan menjadi ujian berikutnya bagi kedua tim. Yunani datang dengan modal kekalahan tipis yang relatif menguntungkan, sementara Inggris perlu memperbaiki cara membongkar pertahanan rapat agar tidak lagi bergantung pada momen individu semata.

Kemenangan di Heraklion tetap berharga karena menjaga langkah Lionesses Inggris di jalur kualifikasi. Gol Stanway, Le Tissier, dan Russo menunjukkan bahwa tim ini punya banyak jalan untuk mencetak gol. Namun, kesulitan selama 39 menit pertama dan gol yang kebobolan menjadi pengingat bahwa persoalan menembus blok rendah belum sepenuhnya terpecahkan.

Kebangkitan Alessia Russo setidaknya memberi Wiegman satu kepastian di lini depan menjelang turnamen besar. Sebaliknya, konsistensi dalam membongkar pertahanan rapat masih harus dicari di sisa laga kualifikasi. Leg kedua di Leicester akan menjadi kesempatan pertama untuk membuktikan bahwa Inggris bisa tampil lebih meyakinkan, bahkan ketika ruang begitu sempit.