Kemarahan terhadap Tuchel Timnas Inggris setelah kegagalan di Piala Dunia kembali mencuat. Banyak pihak menilai pelatih asal Jerman itu tidak menjalankan tugas yang seharusnya ia emban. Namun, di balik kritik tersebut, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendasar tentang mengapa Inggris sulit meraih kesuksesan.
Kritik terhadap Tuchel Timnas Inggris terdengar di berbagai acara radio dan podcast sepak bola. Narasinya seragam: Tuchel dianggap gagal mengantar Inggris juara, tidak mampu menghentikan Lionel Messi, dan tidak melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Padahal, ekspektasi bahwa ia dipekerjakan semata-mata untuk memenangkan turnamen sejak awal terasa tidak masuk akal.

Kritik Tuchel Timnas Inggris dan Realitas Ekspektasi
Sejak Inggris tersingkir dari Piala Dunia, Tuchel menjadi sasaran utama kekecewaan publik. Banyak yang menyebut ia gagal, bahkan ada yang menuduhnya tidak melakukan pekerjaan yang dibayar. Tuduhan ini muncul meskipun ia mencatatkan rasio kemenangan tertinggi sepanjang karier kepelatihannya dan membawa Inggris ke penampilan terbaik di Piala Dunia yang digelar di luar negeri.
Alih-alih mengakui pencapaian itu, sorotan justru tertuju pada 20 menit terakhir melawan Argentina di semifinal. Dalam momen itu, Tuchel dianggap kehilangan kendali atas berbagai variabel pertandingan dan hanya bisa menonton dari pinggir lapangan. Ia digambarkan seperti jenderal Prusia yang kebingungan, tidak melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.
Kritik semacam ini bukan hal baru. Semua karier manajerial di Inggris selalu dimulai, berlanjut, dan berakhir dengan kegagalan. Gareth Southgate, misalnya, membawa Inggris dari keterpurukan menuju periode enam tahun paling sukses dalam sejarah, tetapi tetap dianggap sebagai penyebab utama kegagalan. Pola yang sama kini menimpa Tuchel, hanya saja siklusnya berjalan lebih cepat karena statusnya sebagai pelatih asing.
Kronologi Kegagalan di Miami: Analisis 40 Menit
Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, penting menelusuri kembali 18 menit yang menyakitkan di Miami. Analisis standar sering bertanya mengapa Inggris tidak menyerang sejak menit ke-72, ketika Tuchel justru melakukan pergantian pemain bertahan. Padahal, perubahan itu sudah terjadi jauh sebelumnya. Inggris bermain baik hingga Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55.
Setelah gol tersebut, para pemain tiba-tiba berhenti bermain seperti sebelumnya. Metode permainan berubah drastis menjadi sapuan panjang, pertahanan dalam, dan tindakan putus asa. Di stadion, Tuchel terlihat melompat dan mendorong pemainnya maju, seolah bertanya mengapa mereka mundur. Selama 17 menit, para pemain tidak melakukan apa yang ia inginkan, terjebak dalam kepanikan sendiri dan kewalahan menghadapi lawan yang bermain dengan gelombang serangan serta keyakinan karena memiliki pemain jenius di barisan mereka.
Tuchel kemudian dihadapkan pada pilihan sulit. Inggris hanya berjarak 18 menit dari final Piala Dunia, tetapi pemain sudah dalam kondisi tertekan. Apakah ia harus merombak taktik secara instan dan meminta pemain mengubah pola pikir, atau bertahan dengan apa yang ada? Ia memilih opsi kedua, mungkin karena cara itu berhasil dalam dua pertandingan sebelumnya. Dalam sepak bola, penilaian selalu berbasis hasil: jika menang, keputusan itu dianggap cerdas; jika kalah, dianggap sebuah kecurangan.
Hambatan Sebenarnya bagi Kemajuan Inggris
Masalah utamanya bukan pada pilihan Tuchel, melainkan pada ketidakmampuan sepak bola elit Inggris menghasilkan pelatih sekaliber dirinya. Jika Tuchel dipecat dan Inggris beralih ke pelatih lokal, pilihannya tidak jauh dari nama-nama seperti Graham Potter, Eddie Howe, Gary O’Neil, Frank Lampard, Michael Carrick, Liam Rosenior, atau Will Still. Tidak ada gaya permainan khas Inggris, tidak ada sekolah kepelatihan Inggris yang mapan.
Piala Dunia adalah ujian bagi seluruh budaya olahraga. Kemenangan menghargai keputusan yang dibuat di tingkat struktural dan ekonomi. Anda menang dengan membangun budaya yang berfungsi, bukan dengan membeli pelatih kelas dunia secara instan. Inilah mengapa negara dengan budaya kepelatihan kuat lebih sering menang. Inggris yang mencoba jalan pintas dengan merekrut pelatih top justru bertentangan dengan keindahan dasar turnamen itu sendiri dan tidak banyak membantu perkembangan budaya olahraga nasional.
Energi negatif di sekitar Tuchel menjadi hambatan terbesar saat ini. Reaksi terhadap dirinya, yang sering kali berlebihan, justru menjadi contoh mengapa Inggris terus gagal. Alih-alih fokus pada peluang yang ada, banyak pihak terjebak dalam narasi kegagalan yang tidak konstruktif.
Peluang di Piala Eropa dan Tantangan Budaya
Inggris akan menghadapi empat pertandingan yang cukup berat dalam waktu dekat. Ini momen tepat untuk kembali merenungkan situasi, terutama karena dua tahun ke depan menawarkan peluang besar. Piala Eropa berikutnya adalah kesempatan terbaik Inggris untuk meraih gelar: keuntungan bermain di kandang, pemain-pemain berkualitas, dan pelatih yang sangat baik—setidaknya yang terbaik yang bisa mereka dapatkan saat ini.
Namun, gagasan bahwa Tuchel dipekerjakan hanya untuk memenangkan turnamen jelas absurd. Memenangkan Piala Dunia adalah hal tersulit dalam sepak bola, terlebih bagi negara yang sudah penuh keraguan. Menjuarainya sebagai pelatih asing bahkan mungkin mustahil. Ada statistik menarik: 22 pelatih yang pernah menjuarai Piala Dunia, dari 1930 hingga 2026, semuanya memiliki kewarganegaraan yang sama dengan pemainnya. Tidak ada satu pun pelatih asing yang berhasil.
Inggris kalah dengan cara yang khas: kehilangan kendali atas bola dan ritme di periode krusial ketika pertandingan menjadi ketat dan putus asa. Di saat seperti itu, lini tengah menjadi penentu, dan kemampuan teknis serta kecerdasan permainan para pemain diuji. Luka Modric, Messi, dan Andrea Pirlo adalah contoh pemain yang lebih mampu beradaptasi di level tersebut. Kesalahpahaman utamanya adalah menganggap Tuchel menyebabkan kekalahan, padahal ia hanya gagal membalikkan keadaan yang sudah dimulai.
Kesalahan Pemahaman dan Masa Depan Tuchel
Ada beberapa elemen musim panas yang luput dari perhatian. Mengapa Tuchel tidak memilih skuad yang lebih adaptif? Mengapa ia tidak membawa Cole Palmer? Kini Palmer entah di mana, dan manajemen beban kerja menjadi pertanyaan. Bagaimana dengan Phil Foden yang kini mencatat 37 pertandingan tanpa gol? Mungkin Adam Wharton dari Crystal Palace bisa mengubah segalanya, tetapi apakah ada orang lain di sepak bola elit yang berpikir demikian?
Pada akhirnya, Inggris tampil baik di sebagian pertandingan. Mereka menunjukkan semangat untuk mencapai semifinal, mengalahkan tuan rumah di Mexico City dengan 10 pemain karena manajer melakukan reorganisasi secara langsung. Mereka juga mendapatkan performa terbaik dari Jude Bellingham, meskipun Harry Kane memudar seperti biasa, dan penggantinya kini bermain di Arab Saudi. Inggris hanya berjarak lima menit dari mengalahkan juara bertahan dan mencapai final pertama di luar Inggris.
Ini adalah pelajaran berharga, bukan hanya bagi Tuchel tetapi juga bagi semua pihak. Melihatnya sebagai tindakan kecurangan manajerial justru memperkuat alasan mengapa Inggris terus gagal, bukan membawa mereka lebih dekat ke kesuksesan. Tuchel tidak memiliki ruang untuk bernapas atau margin kesalahan, tetapi Inggris memiliki peluang bagus untuk menang dalam dua tahun ke depan. Tugasnya, seperti biasa, adalah memisahkan pekerjaan dari ekspektasi, dan hal itu tidak menunjukkan tanda-tanda menjadi lebih mudah seiring waktu.