Maraknya pseudosains di sepak bola membuat klub-klub elite perlahan kehilangan pijakan ilmiahnya. Dr Claire-Marie Roberts, yang pernah menjadi direktur performa di Coventry City, mengungkap bagaimana alat, suplemen, dan teknologi berjanji hasil ajaib terus ditawarkan ke ruang ganti. Salah satu tawarannya bahkan berupa oksigen dalam kaleng, yang ia tolak mentah-mentah.
Pengalaman Roberts menunjukkan bahwa persoalan ini bukan kasus tunggal, melainkan pola yang berulang setiap pekan. Ia menilai pemasaran yang berkilau membuat klaim tanpa dasar bukti mudah diterima klub maupun pemain. Menurutnya, kondisi itu sudah mendekati eksploitasi terhadap kelompok yang paling rentan, yakni para pemain yang mendambakan hasil instan.

Oksigen dalam Kaleng dan Banjir Tawaran Pseudosains di Sepak Bola
Ketika masih bekerja di Coventry City, Roberts menerima telepon dari seseorang yang lebih dulu mengajukan pertanyaan sederhana: berapa kandungan oksigen di atmosfer. Ia menjawab 21 persen, sekaligus sempat berpikir bahwa itu materi kimia tingkat sekolah menengah. Jawaban itu ternyata hanya pintu masuk menuju tawaran berikutnya, yaitu oksigen yang dikemas dalam kaleng dan konon layak dipakai para pemain Coventry.
Roberts hanya tertawa mengenang percakapan itu dan memastikan tidak mengambil tawaran tersebut. Cerita itu bukan anekdot tunggal, sebab sebagai direktur performa ia terbiasa dibanjiri penawaran perangkat, suplemen, maupun teknologi dengan klaim luar biasa. Dalam sepekan, ia bisa menerima hingga 50 pesan lewat LinkedIn berisi tawaran serupa.
Yang membuatnya resah bukan semata isi penawaran itu, melainkan cara klub dan pemain meresponsnya. Ia menyebut ada jurang antara sains dan praktik lapangan yang menurut pengalamannya justru makin lebar. “Di balik semua ini ada pemasaran yang sangat berkilau. Ini sudah mendekati eksploitasi,” kata Roberts.
Ia menilai para pemain adalah populasi yang sangat rentan terhadap janji-janji semacam itu. Pertanyaan seperti bagaimana mengakali keunggulan performa dan bagaimana mempersingkat persiapan serta pemulihan terdengar sangat menggoda. Menurut Roberts, titik awal berpikir seperti itu sama sekali bukan pijakan yang sehat.
Siapa Claire-Marie Roberts dan Mengapa Suaranya Berbobot
Roberts bukan figur sembarangan dalam diskusi ini. Ia telah menghabiskan puluhan tahun bekerja di bidang performa atlet elite dan sepak bola profesional. Sembilan tahun ia jalani di Premier League dan dua tahun di Coventry City, tempat ia menangani langsung sisi performa pemain.
Di Coventry, Roberts berperan penting ketika klub itu meraih promosi sebagai juara Championship. Pada musim panas, ia berpindah ke tim Formula One McLaren untuk menjabat sebagai direktur human performance atau performa manusia. Perpindahan itu menandai bahwa keahliannya justru kian dicari di luar sepak bola.
Latar belakangnya sebagai atlet turut membentuk cara pandangnya. Roberts adalah mantan perenang yang gagal tampil di Olimpiade Atlanta 1996 karena cedera. Pengalaman itu membuatnya paham bahwa proses panjang, bukan jalan pintas, yang menentukan hasil akhir seorang atlet.
Dari pengalaman lintas cabang olahraga itulah ia menarik kesimpulan yang tajam. Menurutnya, sepak bola lebih rentan terhadap pseudosains dibanding olahraga lain yang pernah ia tangani langsung. Alasannya sederhana, yaitu taruhan di sepak bola jauh lebih tinggi.
Krioterapi, Suplemen, dan K-Tape yang Minim Bukti
Roberts menyoroti sejumlah praktik yang sudah dianggap lumrah di klub elite meski dasar ilmiahnya lemah. Salah satunya adalah ruang krioterapi, yang menurut dia hampir selalu tersedia di pusat latihan klub-klub besar. Ironisnya, banyak pihak tidak mampu menjelaskan sendiri alasan penggunaannya.
Ia menyebut bukti soal krioterapi sangat tipis dan hanya bertumpu pada satu kajian kecil yang menyatakan kemungkinan manfaat dalam mencegah demensia. Yang lebih mengkhawatirkan, krioterapi bahkan berpotensi merugikan proses pemulihan. Ada dugaan terbaru bahwa paparan dingin semacam itu bisa menumpulkan adaptasi otot.
Menurut Roberts, pertanyaan yang semestinya diajukan lebih dulu adalah kapan dan mengapa praktik itu dipakai. Jika tujuannya pemulihan, maka tidur dan kualitas nutrisi tetap menjadi modalitas terbaik. Memasukkan pemain ke ruang krioterapi seluruh tubuh tidak akan banyak menolong bila dua hal mendasar itu belum beres.
Ketika ruang krioterapi tidak tersedia, berendam air es menjadi alternatif favorit. Pemain begitu menyukainya sampai Harry Kane sempat difoto berdiri di dalam tong sampah penuh es usai laga Bayern Munich pada Club World Cup tahun lalu. Pemandangan itu memperlihatkan betapa kuatnya budaya ritual pemulihan di sepak bola.
Suplemen dan Ilusi Jalan Pintas Nutrisi
Selain pemulihan fisik, pemain juga kerap mencari jalan pintas soal nutrisi. Suplemen merupakan industri bernilai miliaran pound yang mencengkeram kuat dunia sepak bola. Meski begitu, Roberts menegaskan suplementasi seharusnya bersifat tertarget dan berbasis kebutuhan.
Dua pengecualiannya adalah vitamin D dan vitamin C. Asupan vitamin D dinilai berbasis bukti karena orang di belahan bumi utara umumnya kekurangan akibat minim paparan sinar matahari. Vitamin C juga sering kurang dalam pola makan sehari-hari.
Di luar itu, Roberts menyayangkan kebiasaan menelan pil tanpa benar-benar tahu tujuannya. Contohnya, pemain yang tidak makan ikan bisa mempertimbangkan suplemen minyak ikan sesuai kebutuhan pribadinya. Namun, tidak ada suplemen yang mampu memperbaiki pola makan buruk, walau banyak orang mengira sebaliknya.
Ia menekankan bahwa performa dan pemulihan atlet bertumpu pada kualitas tidur serta kualitas dan jumlah asupan nutrisi. Sayangnya, hal-hal dasar itu sering diabaikan karena orang lebih tertarik mencari cara cepat. Roberts sendiri pernah menerapkan pendekatan ilmiah berbasis bukti saat mendukung skuad asuhan Frank Lampard.
K-Tape dan Bedanya dengan Strapping
Praktik lain yang membingungkan Roberts adalah kinesiology tape atau k-tape. Sejumlah bintang seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan David Beckham pernah terlihat mengenakannya, tak jarang tampak seperti potongan lakban yang menempel di lengan atau kaki. Menurut Roberts, tidak ada bukti bahwa k-tape berdampak pada pencegahan cedera ataupun performa.
Ia mengakui k-tape mungkin memberi sedikit sensasi proprioseptif, seolah ada sesuatu yang dikerjakan pada tubuh. Namun, di lingkungan mana pun yang pernah ia tangani, tidak ada yang memakai k-tape. Baginya, produk itu jelas pemborosan yang sia-sia.
Roberts membedakan k-tape dari strapping yang benar-benar berfungsi. Ketika bahu pemain terkilir, strapping memang diperlukan karena memberi dukungan eksternal minimal dan mengingatkan pemain soal kondisinya. Strategi mitigasi risiko itu tidak selalu berhasil, tetapi tetap lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali. K-tape, tegasnya, hanyalah plasebo.
Dampak bagi Klub, Pemain, dan Ekosistem Sepak Bola
Menurut Roberts, penyebaran pseudosains diperparah oleh kebiasaan meniru klub-klub paling sukses. Klub dengan sumber daya melimpah seperti tim nasional Inggris, Manchester City, atau Chelsea dianggap punya segalanya, sehingga praktik mereka disalin tanpa diperiksa lebih dulu. Akibatnya terjadi kesalahan dalam menakar keyakinan dan pemahaman atas dasar ilmiahnya. Hal itu sangat kuat mendorong perilaku, tetapi perilaku yang didorong justru salah.
Masalah lain datang dari kebiasaan internal klub. Manajer yang sudah puluhan tahun berkecimpung di sepak bola sering bersikeras mempertahankan praktik lama. Ada pula yang mengadopsi produk baru hanya karena pelatih lain tanpa latar belakang sains membicarakannya.
Roberts menilai selama sepak bola belum menempatkan sains di pusat pengambilan keputusan, persoalan ini akan makin parah. Klub juga perlu mempekerjakan staf berkualifikasi yang mampu menguji setiap klaim secara kritis. Tanpa langkah itu, ruang ganti akan terus menjadi pasar empuk bagi para penjual janji.
Sepak Bola Anti-Sains dan Apa yang Berikutnya
Dalam pandangan Roberts, akar masalahnya lebih dalam daripada sekadar produk palsu. Ia menyebut sepak bola secara umum sangat anti-intelektual, dan sikap itu sudah berlangsung lama. Hanya sedikit klub yang menjalankan pendekatan ilmiah dengan baik, sementara mayoritas tidak.
Ia menilai permainan ini memang anti-sains, dan ada alasan di baliknya. Penyebab utamanya adalah belum adanya massa kritis orang-orang yang menerapkan pemikiran kritis pada setiap situasi. Selama jumlahnya sedikit, praktik tanpa dasar bukti akan terus lolos masuk.
Roberts juga menyoroti kecenderungan ingin mempercepat hasil tanpa menempuh proses berat. Padahal yang paling menentukan justru hal-hal dasar seperti pola makan, tidur, dan kualitas latihan. Tanpa perbaikan di sana, teknologi apa pun hanya akan menjadi pelengkap mahal yang minim manfaat.
Ke depan, perubahan hanya mungkin terjadi bila klub berani mengubah cara mengambil keputusan. Sains perlu duduk di meja utama, bukan sekadar menjadi pelengkap presentasi pemasaran. Selama itu belum terjadi, pseudosains di sepak bola akan tetap punya ruang tumbuh yang luas.
Dari cerita oksigen dalam kaleng sampai plasebo k-tape, kasus yang diungkap Roberts memperlihatkan satu pola yang konsisten: pemasaran mengalahkan bukti. Klaim yang terdengar ilmiah sering diterima hanya karena dilakukan klub besar atau dipercaya seorang manajer. Padahal dasar ilmiahnya lemah, bahkan sebagian berpotensi merugikan pemain sendiri.
Pada akhirnya, pesan Roberts cukup jelas. Pemulihan dan performa tidak bisa diakali dengan alat atau pil, melainkan dibangun dari tidur, nutrisi, dan latihan yang berkualitas. Selama sepak bola belum serius menempatkan sains di pusat keputusan, tawaran ajaib berikutnya tinggal menunggu giliran untuk masuk ke ruang ganti.